Gue Harus Berubah!

58.9K 3.6K 37
                                        

Hanya duka dan kegelapan, yang benar-benar mengenal sisi terdalammu.

_Rania Mahendra_

***

Seminggu berlalu sejak peristiwa tragis yang berhasil merenggut paksa seluruh kehormatan Rania, sejak itu pula gadis 17 tahun itu memilih untuk mengurung diri didalam kamar. Tubuh yang mulai mengurus itu tertelan sepenuhnya oleh kegelapan, bersama seluruh duka, amarah dan kekecewaannya.

Tak peduli berapa kali cara, atau siapa pun yang coba menariknya dari lubang hitam itu. Gadis itu akan menolak mentah-mentah uluran tangan mereka, pikirannya seolah terbagi dalam berbagai cabang.

Pemikiran keluarga, tentangga, sahabat dan temannya soal kondisi dirinya saat ini atau bagaimana nasib masa depannya nanti.

Semakin di ingat, maka luka dalam hati Rania akan menganga makin lebar di susul oleh derai air mata yang membasahi kedua pipinya.

Ting

Iris Rania yang semula menatap kosong nampan berisi makanan yang tersanding diatas nakas, perlahan mulai bergerak. Mencari keberadaan ponselnya, ketika benda pipih itu mengeluarkan bunyi nyaring pertanda ada pesan masuk.

Dengan ragu kaki jenjangnya perlahan menuruni ranjang, kemudian berjalan membelah tumpukan buku, selimut, kertas bahkan bantal yang tersebar disetiap penjuru kamar.

Tak peduli berapa kali Maia membersihkan kamar putrinya, semua itu tak akan bertahan lebih dari 15 menit. Semuanya akan hancur oleh tangan Rania, sebagai pelampiasan emosinya.

Tangan Rania terulur kearah ponsel yang bertengger manis diatas meja belajar. Sinar yang menyala terang itu sedikit mengusik netranya, membuat gadis itu kehilangan kendali atas dirinya. Atau mungkin karena banyaknya pesan yang hinggap dilayar pipih itu.

Bruk

Dengan mulusnya Rania melempar benda pipih itu, hingga beradu dengan cermin riasnya. Jadilah banyak kaca tajam yang bertebaran, hingga bersembunyi dibalik karpet berbulu tebal.

"Astaga Ran!" pekik Maia diikuti suara decitan pintu, membuat telinga gadis itu sedikit terusik.

"Kamu kenapa sa..."

Kalimat Maia terjeda ketika tangan putrinya terangkat ke udara, tanda jika wanita paruh baya itu tak boleh melangkah lebih jauh.

"Banyak kaca, nanti mamah terluka."

Maia terisak kecil, hatinya seolah tersayat halus karena perkataan dan kondisi Rania.

"Kamu butuh waktu sendiri ya? Hiks,"

"Kalo gitu, mamah keluar dulu ya. Nanti kalo ada apa-apa, kamu bisa panggil mamah atau papah. Mengerti?" ia melanjutkan.

Rania mengangguk, kepalanya berputar 90° meski posisinya saat ini masih membelakangi sang mamah.

Maia menyeka kedua mata sayu nan lelahnya, dengan perlahan tubuhnya berbalik dan menjauh pergi. Meninggalkan Rania kembali di telan duka, berharap kondisi putrinya bisa sedikit lebih baik. Meski ia belum menyadari, apa yang ia anggap benar justru adalah sebuah kesalahan fatal.

Ting

Pesan kembali masuk kedalam ponsel Rania, disusul oleh pesan lainnya. Seketika wajah gadis itu menegang, udara disekitarnya terasa memberat hingga membuatnya seolah kesulitan untuk bernafas.

"M... Marsel." gumamnya.



🐝🐝🐝🐝


"Besok jadwal Ran ke psikiater kan?" tanya Maia, membuat suaminya menoleh.

RENATA (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang