Keesokan paginya...
Rania menuruni satu persatu anak tangga dengan wajah tertunduk, jari-jarinya bergerak saling membelit. Antara takut, gugup dan ragu dengan keputusan yang sudah dipilihnya kemarin sore.
Ia terus melangkah hingga tanpa sadar, jarak antara dirinya dan meja makan hanya terpaut beberapa meter saja.
"M... mamah." panggilnya lirih.
Semua orang yang ada didekat meja makan langsung menoleh, mata mereka melotot tidak percaya.
"Rania?"
Arya pergi menghampiri sang putri, disusul oleh istri dan putranya. Netra mereka mengamati penampilan Rania dari atas hingga bawah. Perlahan senyum ketiganya menggantung indah, dengan mata berkaca-kaca menahan haru.
"Kamu mau pergi sekolah sayang?" tanya Maia, tangannya terulur mengusap puncak kepala putrinya.
Ragu-ragu Rania mengangkat pandangan hingga matanya bertemu dengan mata Maia, Arya dan Juan secara bergantian. Namun hal itu hanya berlangsung beberapa detik, sebelum akhirnya wajah gadis itu kembali tertunduk dalam.
Rania mengangguk ragu "I... iya, Ran mau sekolah lagi." cicitnya.
Arya tersenyum senang, ia ikut mengacak puncak kepala putrinya gemas.
"Duduk dulu yuk, kita sarapan dulu."
Juan menarik lembut tangan Rania, lalu mendudukkan tubuh sang kakak diatas kursi.
Dengan cekatan Maia menyajikan makanan diatas piring Rania, ia menyerahkan berbagai macam lauk pauk untuk menemani sarapan pertama mereka setelah seminggu lamanya.
Rania tersenyum samar "Ma... makasih." cicitnya, ia kembali menundukkan wajahnya.
"Dimakan ya, kalo kurang tinggal bilang. Nanti mamah ambilkan, oke?"
Rania hanya menjawab dengan anggukan singkat, tanpa bersuara maupun menatap langsung mata anggota keluarganya.
"Oh iya pah, hari ini mamah ikut nganter Ran sama Juan ya?"
Arya menjawab dengan gumaman kecil, lantaran saat ini mulutnya penuh dengan nasi yang baru saja masuk. Setelah makanannya terdorong kedalam tenggorokan, barulah ia bersiap membuka suara.
"Kalian pulang jam berapa? Nanti papah jemput, terus kita pergi jalan-jalan."
Maia menjentikkan jarinya, begitu ide sempurna memenuhi isi kepalanya.
"Kebetulan, di mall ada restoran baru. Kita bisa coba pergi kesana, lagian udah lama kita nggak quality time bareng." usul Maia sambil menggenggam tangan Rania, membuat wajah gadis itu justru tertunduk semakin dalam.
Mendengar kata-kata Maia membuat rasa bersalah sekaligus amarah di hatinya bercokol semakin dalam, ia merasa bodoh karena mempercayai perkataan Marsel. Tidak seharusnya ia mengikuti Marsel, andai saja waktu itu ia menolak untuk membantu Marsel. Andai saja,
"ARGH!" Rania berteriak histeris sambil memukul kuat kepalanya.
Maia membelalak, dia berusaha mencegah tindakan brutal putrinya namun sia-sia. Seolah Rania mempunya kekuatan extra, hingga mampu mendorong tubuhnya sampai terhuyung beberapa langkah ke belakang.
"Pergi lo!"
Arya meraih kedua tangan Rania, menggenggamnya erat berharap putri kecilnya itu berhenti menyiksa dirinya sendiri.
"Sadar Ran, ini papah."
Rania menggeleng kuat "Lepas!"
"Sadar Ran, sadar!" pinta Maia ditengah-tengah isakkannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
RENATA (END)
Narrativa generale❗GANTI JUDUL ❗ Perempuan dianggap sebagai makhluk yang lemah, tak heran mereka sering menjadi target kejahatan yang dilayangkan orang-orang tak bertanggung jawab. Tak terkecuali dengan Rania Mahendra, gadis 17 tahun yang harusnya hidup dalam selimu...
