Menerbangkanmu diatas langit, lalu menjatuhkanmu kedasar samudra. Kadang mencintai seseorang bisa sesakit itu.
_Devan Fernandes_
***
"Ya udah jelas dia hamil,"
"What!"
"Serius lo Nel?"
"Serius gue, liat aja perutnya." cibir Nela.
Renata menunduk malu, tangannya mengusap perut yang sedikit mencuat meski berselimut seragam hitam oversize. Kedua matanya mulai mengabur, ulah cairan yang menggenang disana.
Sedangkan ketiga orang asing di depan Renata mendesis sinis. Sorot mata mereka yang tajam dan penuh mengintimidasi, membuat Renata kesulitan bernafas.
Zasi mencebik "Nggak nyangka gue, ternyata Devan berani hamilin anak orang."
Nela menggeleng cepat "Bukan Devan pelakunya."
"Lah terus? Kata lo tuh cewek hamil, bahkan tinggal dirumah Devan. Berarti pelakunya Devan kan?" bingung Mita.
"Devan cuma nampung tuh cewek,"
Mita ber-o ria, ia melirik Renata dengan tatapan jijik. Bahkan saking jijiknya, Mita dan Zasi merapatkan kursi mereka kearah Nela. Bermaksud agar keduanya tidak berada didekat gadis menjijikan itu..
Mendengar semua cacian yang ditunjukan untuknya, membuat mental Renata perlahan kembali drop. Bahkan sedikit demi sedikit cairan bening meluncur bebas dari kelopak matanya, untunglah kepalanya masih setia tertunduk dalam jadi mungkin tidak ada yang akan menyadarinya.
Zasi berdecih "Kenapa Devan mau nampung cewek model kek gitu ya, kaya nggak ada cewek lain aja."
"Halah, paling juga si Devan disantet tuh sama noh." sindir Nela, menunjuk Renata malas melalui sorot matanya.
"Setuju gue, lagian mana mungkin Devan mau sama cewek model kek begitu."
Nela melipat tangannya angkuh, ia memandang rendah Renata yang masih setia tertunduk. Nela sadar jika saat ini Renata sedang menangis, meski wajah gadis itu tertutup oleh rambut panjangnya.
Tapi Nela tak peduli. Salah sendiri kenapa Renata berani mendekati pria yang sudah ia kejar cintanya, sejak pertama kali Nela menginjakkan kakinya dibangku kuliah.
"Kalau gue jadi tuh cewek sih, gue bakal pergi. Karena gue sadar, Devan itu cowok baik-baik."
"Devan juga dari keluarga terpandang, nggak kebayang sih gimana malunya keluarga itu pas tau Devan tinggal sama cewek yang hamil diluar nikah."
"Lah kenapa? Toh bukan Devan yang bikin tuh cewek hamil," tanya Mita.
"Ya... apa lagi? Kalau cewek kaya gitu, awalnya doang baik. Ujungnya, siapa yang tau kan?"
"Bisa aja dia bilang kalau anaknya itu, anak Devan. Jadi Devan dituntut buat tanggung jawab,"
Zasi menggelengkan kepalanya "Nggak kebayang sih, gimana hancurnya keluarga itu."
"Tapi yang lebih heran lagi, kenapa ada cewek yang tega nuduh orang lain buat kesalahannya sendiri. Kaya... dia nggak mikir gitu, dia deket sama Devan aja udah bikin nama Devan rusak. Apa lagi kalau sampe minta pertanggung jawaban Devan, pasti masa depan Devan juga ikut hancur."
Renata memejamkan matanya kuat, dadanya sangat sakit. Semua cacian itu membuat kepalanya berdenyut ngilu. Bahkan tanpa permisi Renata langsung berlari keluar cafe, menerobos orang yang tengah berlalu lalang disana.
KAMU SEDANG MEMBACA
RENATA (END)
Narrativa generale❗GANTI JUDUL ❗ Perempuan dianggap sebagai makhluk yang lemah, tak heran mereka sering menjadi target kejahatan yang dilayangkan orang-orang tak bertanggung jawab. Tak terkecuali dengan Rania Mahendra, gadis 17 tahun yang harusnya hidup dalam selimu...
