Seorang wanita dewasa menyibak selimut berwarna soft pink, yang membungkus tubuh mungil putri sulungnya. Suaranya yang lembut beberapa kali menyapa gendang telinga sang putri yang tengah terlelap di atas ranjangnya. Lantaran tak ada respon, ia terpaksa menggoyangkan lengan putrinya agar kelopak matanya bersedia untuk terbuka.
"Rania sayang, ayo bangun nak. Hari ini kamu sekolah, loh." ucapnya mengingatkan, namun hanya dibalas dengan lenguhan kecil.
"Ayo bangun Ran. Kalo kamu nggak bangun, yang ada kamu bakal di tinggal lagi loh sama papa."
Wanita dewasa itu menarik nafas berat, karena upayanya untuk membuat si putri sulung bangun berakhir sia-sia. Sebenarnya ritual semacam ini sudah terlalu sering terjadi, hanya saja kebiasaan tidur putrinya terlalu sulit untuk di hilangkan. Karena merasa usahanya tak akan mendapat tanggapan positif, akhirnya dia memilih untuk beranjak pergi.
Ketika pergerakan kakinya terhenti di ambang pintu, wanita itu memilih untuk memutar kembali wajahnya.
"Kalo telat, terus ditinggal sama papa. Mama nggak mau ikut campur loh ya!" ucapnya untuk yang terakhir kali, sebelum melengos menuju dapur.
Sepasang mata yang semula terpejam pun langsung terbuka lebar, begitu kata-kata sang mama menghantui kepalanya. Seolah mendapat petir di siang bolong, kaki gadis itu turun dari atas ranjang queen size miliknya dan langsung berlari menuju kamar mandi.
Hanya butuh sepuluh menit baginya untuk membersihkan diri, serta mengganti piyama hitam miliknya dengan seragam kebanggaan SMA Pertiwi. Sebagai sentuhan terakhir, dia memandangi pantulan tubuh atas hingga bawahnya dari cermin besar di sudut kamar.
Setelah merasa puas dengan penampilan pagi ini, dia lantas menyambar sebuah tas biru muda dari atas meja belajar. Kaki mungilnya terus mengayun hingga membawa tubuh sang gadis menyusuri setiap anak tangga, dan berakhir di meja makan bersama seluruh anggota keluarganya.
"Pagi semua." sapa Rania, tersenyum lebar.
Ia menarik keluar salah satu kursi yang berada dekat dengan kursi sang mama, untuk selanjutnya mendudukkan pantatnya di depan sepiring nasi goreng hangat.
"Telat lagi, hm?" tanya Arya -papa Rania-, dengan senyum tipis yang menghiasi wajah teduhnya.
Rania nyengir kuda sambil menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. Bukannya marah karena sikap Rania yang kurang disiplin, Arya hanya mampu menggeleng heran. Sedangkan Maia hanya bisa menyimak, walaupun ingin namun ia tak bisa protes karena itu sudah menjadi tabiat Rania sejak kecil.
"Kamu ini anak perempuan loh Ran, jangan keseringan bangun siang. Nanti jadi kebiasaan, coba sekali-kali kamu contoh adikmu itu."
Rania melirik sinis anak laki-laki dengan balutan seragam kebanggaan SMP Adipura, yang duduk tepat berseberangan dengan dirinya.
Merasa dirinya di perhatikan begitu lekat, membuat Juan merasa tak nyaman. Hingga bersiap melayangkan sebuah protes, namun niatnya gagal begitu suara Maia menginterupsi niatnya dari seberang.
Maia menoleh pada Rania. "Makanya lain kali jangan kebanyakan nonton film, kalo udah tau akhirnya selalu kaya gini." Tegurnya.
Dengan cekatan tangan Maia mengambil sebuah telur mata sapi, kemudian meletakkannya di atas piring Rania. Hal serupa ia lakukan pada Arya dan juga Juan.
"Tapi kan seru mah!" rengek Rania.
Juan memicing. "Seru apanya coba?"
"Lebih penting juga belajar." Lanjutnya, mendapat anggukan setuju dari orang tua mereka.
"Ish ... kamu tuh masih bocah, jadi nggak usah ikut campur deh!"
"Nggak usah mulai!" Tegur Arya, seolah bisa menebak apa yang akan terjadi jika dia tak angkat suara.
KAMU SEDANG MEMBACA
RENATA (END)
Ficción General❗GANTI JUDUL ❗ Perempuan dianggap sebagai makhluk yang lemah, tak heran mereka sering menjadi target kejahatan yang dilayangkan orang-orang tak bertanggung jawab. Tak terkecuali dengan Rania Mahendra, gadis 17 tahun yang harusnya hidup dalam selimu...
