Renata terduduk lemas di depan ruang ICU tempat Devan ditangani oleh para petugas medis. Ruangan Devanka sendiri berada tepat disebelah ruangan Devan, hingga memudahkan orang-orang untuk mengecek kondisi mereka nantinya.
Dokter yang menangani Devanka sudah keluar sejak 10 menit lalu, menurut penuturan dokter benturan kuat itu bisa saja merenggut nyawa Devanka. Beruntungnya saat itu Devan memeluk tubuh Devanka dengan erat, hingga efek benturan bisa sedikit di netralisir.
Devanka mengalami patah tulang pada bagian kaki kanannya, sedangkan tubuhnya mengalami lebam dibeberapa titik. Kondisi Devanka mulai membaik, hanya tinggal menunggu efek obat biusnya habis, barulah anak itu bisa siuman.
"Ren?"
Renata mendongak, air matanya kembali meleleh saat melihat keluarga Mahendra sudah sampai disana.
"Mamah,"
Renata berhambur kedalam pelukan Maia, tangis yang sedari tadi berusaha ia tahan mati-matinya akhirnya pecah.
"Ma... mas Devan mah, hiks."
Maia menepuk-nepuk punggung anaknya "Kamu tenangin diri dulu ya,"
"Om," sapa Ajun.
Arya mengangguk dengan seulas senyum tipis, ia menerima uluran tangan Ajun, Rafa, Zani dan Darel secara bergantian.
Maia mengurai jarak, sementara Renata sibuk menyeka air matanya sendiri.
"Kita duduk dulu,"
Renata mengangguk patuh, dia duduk dengan diapit oleh Maia dan Arya. Wajah sembab dan lelah Renata membuat hati orang tuanya teriris halus, apa lagi saat mendapati bercak darah yang menyelimuti hampir seluruh permukaan baju yang dikenakan oleh putri mereka.
"Gimana kondisi Devanka, Ren?"
"Ka... kata dokter Devanka nggak papa mah, cuma luka ringan sama... patah tulang kaki,"
Maia membekap mulutnya secara refleks.
"Astagfirullah," pekik Maia dan Arya bersamaan.
"Kalo Devan sendiri? Dia nggak papa kan?" tanya Arya khawatir.
Renata tertunduk, ia menggeleng lemah.
"Do... dokter masih menangani mas Devan pah,"
"Rena takut pah, hiks."
Renata menatap kosong kedua telapak tangannya yang sudah bersih, karena sebelumnya dibersihkan oleh Rafa dengan tisu basah. Tubuhnya kembali gemetar ketika mengingat betapa banyaknya darah yang dikeluarkan dari tubuh sang suami, air matanya jatuh diikuti isak tangis yang terdengar memilukan.
"Darah mas Devan," cicitnya, namun masih bisa didengar dengan baik oleh kedua orang tuanya.
Maia memeluk tubuh Renata, ia bisa merasakan ketakutan putrinya.
"Percaya sama mamah, Devan pasti baik-baik aja. Hm?" bisik Maia lembut, coba memenangkan Renata.
Arya berdiri menghampiri keempat pria yang duduk dengan wajah tertunduk, terlihat jelas jika mereka juga syok dengan kejadian ini. Kondisi mereka tak jauh beda, penampilan acak-acakan dengan bercak darah dimasing-masing baju mereka.
"Gimana sama Marsel?" tanya Arya lirih.
Ajun menoleh "Marsel sudah dibawa ke kantor polisi dengan pengawalan ketat,"
"Semoga kali ini dia mendapat balasan setimpal." harap Arya.
Zani menggeleng tidak setuju "Saya harap, Marsel membusuk didalam penjara. Sampai dia lupa bagaimana rasanya hidup diluar penjara," geramnya penuh dendam.
KAMU SEDANG MEMBACA
RENATA (END)
General Fiction❗GANTI JUDUL ❗ Perempuan dianggap sebagai makhluk yang lemah, tak heran mereka sering menjadi target kejahatan yang dilayangkan orang-orang tak bertanggung jawab. Tak terkecuali dengan Rania Mahendra, gadis 17 tahun yang harusnya hidup dalam selimu...
