"Kamu duduk disini dulu ya," pinta Devan sesaat setelah meletakkan tubuh Renata diatas ranjang.
Pria itu berjongkok didepan Renata, guna melepas sepasang high heels yang dikenakan oleh istrinya.
"Saya keluar bentar, kamu disini dulu."
Renata mengangguk patuh, selagi menunggu Devan kembali entah dari mana. Perempuan itu memilih untuk membaringkan tubuhnya sejenak, guna menyingkirkan rasa lelah yang mulai menggerogoti badannya.
"Jangan tidur dulu Ren,"
Sebuah suara barito terdengar mengintrupsi, hingga mau tak mau Renata kembali mengangkat kelopak matanya. Kedua sudut bibirnya bergerak ke atas, melihat Devan sudah duduk tepat disampingnya.
"Kita bersihin make up kamu dulu ya, habis itu kamu boleh istirahat."
"Dapet dari mana?"
Devan mengangkat botol mungil berwarna putih itu ke udara.
"Dari ruang make up," jawabnya enteng.
Dengan telaten Devan menuangkan micellar water keatas kapas, untuk selanjutnya disapukan tepat diatas kulit wajah Renata.
"Biar aku aja ka,"
Renata berusaha merebut botol dan kapas dari genggaman Devan, namun pria itu berhasil menjauhkan tangannya dari jangkauan Renata.
"Nggak usah, biar saya aja. Kamu pasti capek kan?"
"Kakak juga pasti capek kan."
"Dikit."
Renata memejamkan matanya, saat merasakan sapuan halus kapas menyapa kulit wajahnya.
"Dingin," gumam Renata.
Devan tersenyum "Habis ini kamu mandi, baru boleh istirahat."
Selesai membersihkan make up yang menyelimuti kulit wajah Renata, perlahan tangan Devan kembali terangkat guna melepas beberapa jepit rambut. Butuh beberapa menit, hingga akhirnya rambut Renata benar-benar tergerai sempurna.
"Selesai,"
"Sekarang kamu mandi ya. Terus istirahat, oke?"
Devan mengacak surai Renata sejenak, kemudian beranjak keluar dari kamar. Sepeninggal Devan, Renata pergi menghampiri sebuah koper mungil. Ia mengambil sepasang piyama berbahan katun berwarna baby blue dengan pola polka-dot hitam kecil.
Karena saat ini statusnya sudah resmi menjadi nyonya Renata Fernandes, yang menuntut perempuan itu untuk melayani Devan selaku suaminya. Jadi Renata tak lupa menyiapkan piyama berbahan serupa, namun berwarna hitam polos untuk Devan. Renata meletakkan piyama Devan diatas ranjang, sedangkan ia sendiri sudah masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah 20 menit Renata baru menyelesaikan ritual mandinya, dengan handuk yang membungkus rambut perempuan itu.
"Udah selesai?"
Renata menganggukkan kepalanya "Oh iya, aku udah siapin baju buat kakak."
Cup
Ciuman singkat jatuh diatas kening Renata, membuat wajahnya memerah seketika.
"Makasih ya, kalo gitu saya mau mandi dulu."
Renata menangkup wajahnya yang terasa memanas, tubuhnya berbalik menghadap pintu kamar mandi yang baru saja tertutup.
"Ohhh jadi gini rasanya nikah,"
"Pftt... kayanya enak juga, hihi."
🐝🐝🐝🐝
KAMU SEDANG MEMBACA
RENATA (END)
General Fiction❗GANTI JUDUL ❗ Perempuan dianggap sebagai makhluk yang lemah, tak heran mereka sering menjadi target kejahatan yang dilayangkan orang-orang tak bertanggung jawab. Tak terkecuali dengan Rania Mahendra, gadis 17 tahun yang harusnya hidup dalam selimu...
