Coba berdamai dengan duka, lalu buka matamu untuk melihat rahasia sebuah pelangi.
_Renata Agatha_
***
Rafa menyandarkan tubuhnya pada pintu yang terbuka lebar, ia menatap remeh ketiga sahabatnya yang sedang terbaring lemah. Dengan sebuah smirk angkuh, kakinya mengayun mendekati ketiganya.
"Anjay, gue baru tau lo bertiga bisa sakit kaya gini."
Zani mendengus kesal "Iya nih, gegara kue si Devan. Bukannya enak, malah ngeracunin orang!"
"Lo bisa masak?" Devan berdecih remeh.
Ajun tertawa ringan "Halah so-soan ngomongin Devan, lo aja mau buka resto tapi nggak bisa masak."
"Lah lo nggak tau? Dia kan tiap hari pake pesugihan, sempak yang baru dia pake di celupin keadonan terus digoreng krispy." celetuk Rafa memecah ketegangan.
"Oh, pantesan aja sempak lo cepet habis. Rupanya dipake buat pesugihan toh,"
"Enak aja lo!" sungut Zani tak terima.
Mereka tertawa bersamaan, bahkan rasa mual yang semula menyerang perlahan lenyap. Tak lama tawa mereka usai, setelahnya Rafa menghampiri Ajun yang masih terkapar diatas sofa.
"Minggir lo!"
"Eh... lo mau apa?!"
"Duduk lah, cepetan bangun!"
Ajun mencebik kesal "Sabar, elah."
Susah payah Ajun mengambil posisi duduk, hingga Rafa bisa menjatuhkan pantatnya disana. Saat ini hanya ada 4 sekawan itu saja didalam kamar Devan yang bernuansa cokelat, dilengkapi sedikit sentuhan bernuansa alam. Sangat kurang cocok jika disandingkan dengan Devan, karena sejak kecil lelaki itu suka dengan dunia otomotif.
Tapi takdir berkata lain, karena lelaki itu justru harus terjun kedalam dunia bisnis. Sesuai dengan permintaan Putra, lantaran ia adalah anak pertama Putra dan Winda. Aneh memang, tak peduli sekeras apapun sikap Devan tapi nyatanya Putra tetap saja memiliki cinta yang banyak, bahkan sama banyaknya seperti yang didapat Alika dan Arjuna.
Rafa melipat tangan "Gimana ceritanya lo semua bisa kaya gini?"
"Tanya noh, sama chef." sinis Zani.
Ajun mengangguk setuju "Iya Van, gimana ceritanya kue buatan lo bisa goyang kaya biduan gitu."
Devan terduduk dengan punggung bertumpu pada headboard, tubuhnya jauh lebih baik setelah beristirahat. Untunglah ia tidak menelan habis kue itu, jika tidak entah apa yang akan terjadi nantinya.
Devan mengedik "Alika ulang tahun."
"Terus?" pancing Rafa.
"Wait! Jangan bilang karena Alika ulang tahun, lo mau bikinin dia kue. Gitu?" tebak Ajun dibalas anggukan Devan.
"Kurang ajar lo, eh gue yakin ya harta om Putra nggak akan habis kalo cuma beli kue satu biji doang. Untung yang makan gue sama Ajun, itu pun nggak sampe perut. Nggak kebayang, gimana jadinya kalo si Alika atau keluarga lo yang makan!" sarkas Zani.
Devan melirik sinis Zani dan mulutnya yang terdengar lancar dalam menghujat orang lain.
"Halah, kalo lo lupa. Lo juga sering ngeracunin kita pake makanan hasil eksperimen lo itu." Ajun mengingatkan.
"Heh? Kalo makanan gue nggak enak, mana mungkin gue mau buka resto lagi." jawab Zani sombong.
"Halah, resto cuma sebiji doang. Ada juga utang lo yang berjibun dimana-mana," sahut Ajun kesal.
KAMU SEDANG MEMBACA
RENATA (END)
General Fiction❗GANTI JUDUL ❗ Perempuan dianggap sebagai makhluk yang lemah, tak heran mereka sering menjadi target kejahatan yang dilayangkan orang-orang tak bertanggung jawab. Tak terkecuali dengan Rania Mahendra, gadis 17 tahun yang harusnya hidup dalam selimu...
