"Jika iya, boleh saya tau alasannya?"
"K... ka Devan beda," cicitnya.
Renata merasa segan melihat tatapan yang diberikan Devan, tatapan itu membuatnya muak. Ia tau betul jika saat ini Devan berusaha untuk dekat dengannya, serta mencari tau semua soalnya. Gadis itu tau alasan Devan membawanya kerumah ini, tak lebih karena rasa iba.
Bukan seperti apa yang dikatakannya pagi ini. Tapi tak bisakah laki-laki itu sedikit peka dan jangan memberi tatapan itu padanya. Renata tau hidupnya sudah hancur, tapi ia tidak ingin mendapat tatapan semacam itu. Ia tidak ingin dikasihani dan dicap lemah, meski sebenarnya ia memang lemah.
"Beda?" beo Devan.
Renata mengangguk samar "K... kenapa kakak baik sama aku?"
"Itu karena..."
"Tolong kakak jujur," pintanya menjeda kalimat Devan.
Melihat tatapan menuntut itu, membuat Devan merasa tidak nyaman. Diam-diam ia menarik nafas berat, wajahnya beralih menatap lurus kedepan.
"Saya belum bisa menceritakannya,"
"Tapi kenapa?"
Devan menggeleng, kali ini sebuah senyuman benar-benar muncul diatas bibirnya. Bukan karena paksaan, tapi senyuman itu murni dari hatinya.
"Kamu akan tau nanti,"
Setelah kalimat itu terlontar, tak ada lagi yang berniat untuk membuka suara. Keduanya sama-sama dibungkam oleh memori buruk, yang berputar layaknya kaset rusak.
"Apa kamu akan mempertahankannya?"
Renata menatap Devan bingung "Maksudnya?"
"Bayimu,"
Devan menoleh sekali lagi, tatapannya terkunci pada manik cokelat mahogani Renata yang terlihat sayu dan lelah.
"Apa kamu akan mempertahankan bayi itu? Meski akhirnya kamu akan mendapat hinaan, bukan hanya kamu. Tapi juga bayimu,"
"Apa kamu siap?"
Renata terdiam, coba mencerna kalimat Devan.
"Kenapa kakak ngomong gitu? Harusnya kakak..."
"Mendukungmu?" tebak Devan, Renata mengangguk.
Salah satu sudut bibir Devan terangkat naik, benar juga apa yang dikatakan Renata. Tapi sekali lagi ditekankan, jika Devan tipe orang yang tidak peka, tidak mudah ditebak dan satu lagi dia bukan laki-laki yang ada di novel-novel pasaran.
"Saya hanya mengatakan fakta. Bagus jika kamu ingin mempertahankan anak itu, tapi kamu harus tahan banting. Bukan hanya untukmu, tapi juga bayimu itu."
"Hidup kalian tidak akan semudah kisah yang tercetak di novel atau bahkan film, kamu harus siap menghadapi segala jenis cibiran. Kamu anak pertama bukan?"
Renata mengerjap kemudian mengangguk.
Devan mangut-mangut "Anak perempuan pertama, bahumu harus sekuat karang. Apa lagi kamu sedang mengandung, jika anakmu lahir nanti, kamu berkewajiban untuk memberinya pemahaman tentang dunia. Jangan lupakan dengan cara menghadapi semua cemoohan yang dihadapkan pada kalian."
"Jika kamu lemah, anakmu yang akan menjadi korbannya." tambah Devan, intonasi suaranya terdengar melemah.
Untuk sesaat Devan larut pada arus waktu yang membawa ingatannya kembali ke masa lalu, hal yang ingin ia lupakan dengan sekuat tenaga. Tapi rupanya Tuhan berkata lain, kehadiran Renata di hidupnya justru membuatnya semakin sulit melupakan semua memori kelam itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
RENATA (END)
Narrativa generale❗GANTI JUDUL ❗ Perempuan dianggap sebagai makhluk yang lemah, tak heran mereka sering menjadi target kejahatan yang dilayangkan orang-orang tak bertanggung jawab. Tak terkecuali dengan Rania Mahendra, gadis 17 tahun yang harusnya hidup dalam selimu...
