Ran Juga Korban Disini

41.8K 2.8K 47
                                        

"Ran memilih pergi!"

Keluarga itu dibuat terkejut dengan keputusan Rania, tapi Arya berhasil menutupi keterkejutannya dengan sangat baik.

"Kamu sudah membuat keputusan, sekarang bereskan barang-barang kamu dan segera pergi dari sini!" ketus Arya.

Dengan mata berkaca-kaca, Rania pergi mengambil seluruh pakaiannya lalu memasukkannya kedalam ransel. Tak lupa ia juga membawa celengan yang tersembunyi rapi, didalam lemari.

Karena tengah hamil muda jadi Rania tak bisa membawa banyak barang, takut akan membebani bayi didalam kandungannya.

"Maksud kamu apa sih mas?" protes Maia marah.

"Bukankah sudah jelas?"

"Mas nggak mau anak itu tinggal disini, jika bisanya cuma membuat malu!" ia melanjutkan dengan nada ketusnya.

"Tapi bukan gini caranya pah," protes Juan, mendapat tatapan tajam Arya.

Juan terdiam saat merasakan atmosfer disekitarnya berubah, ia takut melihat perubahan ekspresi yang ditunjukan sang ayah. Tapi disisi lain ia juga tidak mau jika sang kakak harus pergi, ditambah lagi Rania sedang hamil muda.

"Cukup! Sudah papah putuskan, jika Rania akan angkat kaki dari rumah ini. Sesuai dengan pilihannya!" tegasnya final.

Tap

Tap

Derap langkah terdengar mengalun lembut, membuat mereka yang ada diruang tamu menoleh kecuali Arya.

Terlihat Rania yang perlahan menuruni anak tangga, dengan ransel hitam pekat yang menggantung dikedua bahunya. Mata gadis itu terlihat memerah dan sembab, bisa dipastikan jika Rania diam-diam menangis didalam kamarnya.

"Pah," panggil Rania lirih saat berhadapan dengan Arya, tapi yang diajak bicara tak sekalipun menoleh atau bahkan menjawab panggilannya.

Rania tersenyum miris, air mata yang berusaha ditahan mati-matian kembali jatuh. Wajahnya tertunduk penuh penyesalan, beberapa saat dia berdiri tanpa mengucapkan sepatah katapun. Hanya isak tangis menyayat hati, yang lolos dari mulutnya.

"Ran minta maaf, hiks."

"Ran banyak salah sama kalian, Ran udah bikin kalian semua malu. Tapi ini bukan keinginan Ran pah, hiks"

"Ran juga korban disini."

Rania menjeda kalimatnya, hanya isak tangisnya saja yang menyambut indra pendengaran orang-orang. Perlahan nafas gadis itu berubah tak beraturan.

"Maaf kalo pilihan Ran nggak sesuai sama apa yang kalian harapkan. Sekali lagi maaf karena selama ini, Ran cuma bisa bikin kalian malu. Hiks,"

Maia dan Juan ikut menitihkan air mata, seakan mereka juga merasakan beban berat yang dipikul Rania.

"Pa... papah tenang aja, hiks."

"Setelah ini Ran nggak akan ganggu kalian lagi, Ran akan pergi jauh, Ran juga akan memutus hubungan sama keluarga ini, hiks."

Rania mengelap kedua pipinya kasar, ia memaksakan sebuah senyum dan tak lupa untuk memamerkannya didepan sang ayah. Meski tak sekalipun dilirik, Rania tetap menekan garis bibirnya hingga melengkung sempurna.

"Papah tenang aja, Ran akan berusaha jaga diri kok. Semua fasilitas dari papah bahkan ponsel dan kunci kamar, semuanya ada diatas meja belajar."

"Papah juga nggak perlu, hiks..."

Pertahanan Rania akhirnya runtuh, ia kembali terisak. Dadanya terasa sangat sesak hingga beberapa kali ia harus memukuli dadanya sendiri, berharap bisa merasa sedikit lebih baik.

RENATA (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang