Jika perkataan orang lain kamu jadikan sebagai tolak ukur hidupmu, lantas kapan bahagiamu akan terbit?
_Devan Fernandes_
***
Seluruh mahasiswa mencatat apa yang di proyeksikan layar yang terhubung langsung dengan laptop milik Devan. Selagi menjelaskan, dosen muda itu juga sibuk mengitari ruang kelas. Dengan remot mungil didalam genggaman untuk memindah slide demi slide.
Berbanding terbalik dengan mahasiswa lain yang asik mencatat segala penjelasan Devan, Renata justru sibuk dengan pemikirannya sendiri. Lembar bukunya masih kosong, bahkan pulpen dalam genggamannya tergantung diatas udara.
Grep
Renata tersentak dari lamunannya, saat merasakan jemari kokoh mencengkeram pergelangan tangan kirinya. Perlahan kepalanya terangkat, didetik itu pula nafasnya terasa memberat ketika netranya kembali terkunci dengan netra gelap milik Devan.
"Statistika adalah ilmu yang mempelajari tentang cara merencanakan, mengumpulkan, menganalisis, lalu menginterprestasikan..." Devan menjeda kalimatnya sesaat.
Sret
Dengan gerakan cepat Devan menyibak lengan kemeja Renata yang menutupi pergelangan tangan perempuan itu. Sesuai dugaannya, lengan Renata penuh dengan luka gores.
Renata menggigit bibir kuat "Ashh," rintihnya tertahan.
Devan menghembuskan nafas panjang, ia kembali menurunkan lengan kemeja Renata. Namun kali ini dengan gerakan perlahan, karena diatas lengan itu terdapat banyak luka yang masih baru. Setelahnya Devan berlalu sambil terus berceloteh soal mata pelajaran yang di ampunya. Setelah berkutat cukup lama dengan buku akhirnya kelas berakhir, para mahasiswa sibuk mengemasi buku mereka. Devan pun sama, ia mengemasi laptop dan bukunya.
"Terima kasih untuk hari ini, kalian semua bisa pulang. Kecuali Renata Agatha." ucap Devan memantik rasa penasaran orang-orang.
Alis Renata terangkat "Sa... saya pak?"
"Pergi ke ruangan saya! Selamat malam!"
"Malam pak!"
Ami menatap Renata lekat, sementara yang di tatap hanya diam selama beberapa saat sebelum terdengar helaan nafas berat.
"Lo bikin salah sama pak Devan?"
Renata mengedikkan bahunya, ia sendiri tak tau sudah berbuat apa sampai dirinya harus dipanggil ke ruangan dosen muda itu. Apa mungkin ini ada hubungannya dengan masa lalu mereka?.
"Gue nggak tau." cicitnya takut.
"Mending lo cepetan ke sama deh, jangan sampe dosen baru itu marah." Bara mengingatkan.
"Perlu gue temenin nggak?" tawar Ami yang sama khawatirnya.
Renata diam menimang sesaat, lalu ia menggeleng mantap.
"Doain gue ya guys,"
🐝🐝🐝🐝
Tok
Tok
Pada ketukan ketiga pintu terbuka, memperlihatkan sosok Devan dengan mata tajam dan garis rahang menegas. Harusnya Renata sudah terbiasa dengan semua itu, mengingat mereka pernah tinggal dibawah atap yang sama. Tapi nyatanya semau tak.lagi sama, mereka sudah tidak saling berkomunikasi sejak beberapa tahun terakhir. Istilah asing pun nampaknya sudah sangat pas jika disematkan pada keduanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
RENATA (END)
Narrativa generale❗GANTI JUDUL ❗ Perempuan dianggap sebagai makhluk yang lemah, tak heran mereka sering menjadi target kejahatan yang dilayangkan orang-orang tak bertanggung jawab. Tak terkecuali dengan Rania Mahendra, gadis 17 tahun yang harusnya hidup dalam selimu...
