"Jadi kita ketemu di SMA Pertiwi aja?"
Devan menganggukkan kepala "Iya, kebetulan kakak sudah dekat dengan SMA Pertiwi."
"Oke, kalo gitu Juan langsung kesana."
Tut
Panggilan terputus, Devan memutar balik arah setirnya.
"Maaf sebelumnya pak, apa Juan bersedia membantu kita pak?" tanya Gio yang duduk dikursi samping kemudi.
"Hmm, kalo soal Rena, Juan nggak mungkin nolak."
Gio menganggukkan kepalanya paham.
Oh iya, jika kalian bertanya kenapa Devan yang mengemudikan mobil bukannya Gio. Maka jawabannya karena Devan ingin, sebelumnya Gio sempat menolak permintaan bosnya. Tapi apalah daya, Devan tetap kekeh pada keputusannya. Jadi Gio terpaksa menuruti permintaan Devan, meski rasa bersalah masih setia bercokol dalam hatinya.
Perjalanan kembali diisi oleh keheningan, hanya butuh 20 menit Devan dan Gio sudah sampai di SMA Pertiwi. Rupanya Juan sudah ada disana, berdiri disamping mobil SUV hitam miliknya yang terparkir rapi.
"Sudah lama Ju?" tanya Devan yang baru saja turun dari mobilnya.
Juan menurunkan kaca mata hitamnya, dia menggeleng.
"Baru aja nyampe. Tadi liat mobil ka Devan, jadi aku nunggu biar sekalian masuk."
"Kalo gitu kita masuk sekarang?"
Juan mengangguk. Ia berjalan disamping Devan, sedangkan Gio berdiri dibelakang mereka. Ketiganya menyusuri koridor yang nampak lengang, hanya ada beberapa guru yang berlalu lalang hendak menuju kelas masing-masing.
"Permisi," sapa Juan pada sosok pria paruh baya yang baru saja keluar dari ruang guru.
Pria itu menoleh, senyumnya langsung terukir ramah.
"Iya?"
"Maaf pak, kami kesini untuk bertemu dengan kepala sekolah."
"Kepala sekolah?"
"Iya. Kebetulan kami ada urusan dengan kepala sekolah,"
"Oh, kalian tinggal lurus. Ruangan dekat perpustakaan, itu ruangan khusus kepala sekolah."
"Terima kasih pak,"
"Sama-sama, kalau begitu saya permisi."
Ketiganya mengulas senyum saat guru itu beranjak pergi, setelahnya kaki mereka kembali melangkah menuju tempat yang dimaksud.
Tok
Tok
"Permisi,"
Ceklek
Pintu terbuka, memperlihatkan seorang wanita paruh baya dengan hijab hitam yang terlihat cocok dipadukan dengan batik biru bertuliskan PGRI. Kaca mata minus nampak bersanding diatas hidung yang tidak terlalu mancung itu.
"Maaf menganggu ibu, bisa bicara sebentar?" tanya Devan sopan.
"Silakan masuk."
Devan, Gio dan Juan mengangguk patuh, ketiganya masuk kedalam ruangan yang cukup luas dengan nuansa hijau. Ada dua buah pot kecil berisi tanaman dekat jendela, menambah kesan asri dalam ruangan itu.
"Silakan duduk."
"Terima kasih bu."
"Jadi ada yang bisa saya bantu?"
"Ah iya, perkenalkan ibu. Nama saya Juan, ini kakak ipar saya Devan dan itu teman saya Gio."
Wanita dengan name tag Lindah itu mengangguk, masih dengan senyum ramahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
RENATA (END)
General Fiction❗GANTI JUDUL ❗ Perempuan dianggap sebagai makhluk yang lemah, tak heran mereka sering menjadi target kejahatan yang dilayangkan orang-orang tak bertanggung jawab. Tak terkecuali dengan Rania Mahendra, gadis 17 tahun yang harusnya hidup dalam selimu...
