Devanka mengamati leher ibunya yang penuh dengan tanda merah, bulu romanya menegak membayangkan betapa nyerinya leher jenjang itu. Tapi herannya Renata seolah tidak merasakan apapun, bahkan perempuan itu bisa makan dengan tenang.
"Leher mama kenapa?"
"Uhuk... uhuk,"
"Minum dulu sayang."
Renata mengambil gelas yang disodorkan Devan, lantas menenggak isinya hingga tandas.
"Padahal Devanka cuma nanya soal leher, nggak minat buat minta makanan mama loh."
"Jadi leher mama kenapa?" imbuh Devanka penasaran.
Tingkah polos dan ingin tau Devanka, tanpa sadar membangkitkan rona merah diatas pipi Renata. Perempuan itu melirik sang suami, namun sialnya Devan justru seolah tidak terpengaruh dengan pertanyaan putra mereka.
Buktinya pria itu justru menikmati makan malamnya dalam tenang, tak terlihat jika Devan akan membantu Renata menjawab pertanyaan kritis Devanka. Renata menggeram kesal, Devan sungguh tidak peka. Padahal tadi siang Renata sudah memperingatkan Devan agar tidak meninggalkan jejak apapun, tapi bukan Devan namanya jika tidak keras kepala.
Dan lihat sekarang, bukannya membantu kebingungan istrinya. Renata justru dapat melihat senyum samar Devan, disela-sela kegiatan mengunyahnya.
"Ma, Devanka nanya loh?"
Renata tergeragap "Hah? Apa sayang?"
Devanka mencebikkan bibirnya, ia menarik nafas panjang sebelum akhirnya dihembuskan secara kasar.
"Ish... Devanka nanya, leher mama kenapa?"
"Kenapa bisa merah-merah gitu?" tuntut Devanka tak sabaran.
"Oh itu, nanya sama papah kamu tuh!"
Alis Devan terangkat, ia menatap Renata yang juga sedang menatapnya dengan senyum kemenangan. Atensinya teralihkan ketika Devanka kembali bersuara.
"Papah nyakitin mama ya?!"
Devan membelalak "Mana ada?!"
"Orang kita melakukannya secara suka rela kok, kamu aja dukung." imbuh Devan setengah berbisik, dan hanya mampu didengar oleh dirinya sendiri.
"Lah itu, kenapa leher mama merah-merah gitu?!"
"Ih itu... itu..."
"Itu apa?!"
Devan menggaruk pelipisnya bingung.
"Ke... kenapa kamu kepo sih?"
"Ya harus dong, Devanka nggak mau ya kalo mama terluka!"
Renata speechless mendengarnya, meski terkadang Devanka itu cuek sama seperti Devan. Tapi anak itu memiliki cara tersendiri untuk mengungkapkan rasa cinta dan khawatirnya. Ah, rasanya Renata tak siap jika Devanka harus tumbuh dewasa dengan cepat.
"Mama nggak sakit kok, kalo nggak percaya coba nanya ke mama."
Devanka beralih menatap Renata intens.
"Mama beneran nggak sakit?"
Renata tersenyum haru, kepalanya bergerak keatas dan kebawah.
"Mama baik kok sayang,"
"Beneran nggak ada yang sakit?"
Renata menggeleng "Nggak ada."
Devanka mangut-mangut "Oh oke, jadi kenapa leher mama merah-merah gitu?"
"Itu digigit nyamuk,"
"Masa? Devanka kalo digigit nyamuk, merah-merahnya nggak sebesar itu kok. Papah bohong ya?" tanya Devanka penuh selidik.
KAMU SEDANG MEMBACA
RENATA (END)
Tiểu Thuyết Chung❗GANTI JUDUL ❗ Perempuan dianggap sebagai makhluk yang lemah, tak heran mereka sering menjadi target kejahatan yang dilayangkan orang-orang tak bertanggung jawab. Tak terkecuali dengan Rania Mahendra, gadis 17 tahun yang harusnya hidup dalam selimu...
