Cinta adalah tentang pengorbanan serta kepedulian, dan itu yang coba saya lakukan selama ini.
_Devan Fernandes_
***
Dengan telaten Devan mengganti perban di lengan Renata. Beruntung tadi Devan sempat mencegah Renata agar tidak bertindak lebih jauh, dan akhirnya disinilah mereka berada, didalam mobil pribadi Devan yang masih terparkir rapi dipelataran kampus.
"Maaf,"
Devan mendongak, membuat wajah keduanya hanya terpaut beberapa senti saja.
"Buat?"
"Eumm, karena udah ngrepotin bapak."
Devan bergumam, wajahnya kembali bergerak turun. Ia memotong beberapa plaster untuk merekatkan perban Renata.
"Sejak kapan kamu ngrepotin saya? Padahal kita baru kenal dan ketemu hari ini loh,"
Renata dibuat bungkam, sakit sekali mendengar kalimat Devan. Apa mungkin ini yang dirasakan Devan, saat Renata meminta pria itu pergi bahkan tidak menanggapi ucapannya.
"K... kakak marah sama aku?" cicitnya sukses menarik perhatian Devan.
Devan ingin berteriak senang, tapi urung dilakukan. Ia harus bermain-main dulu, anggap saja ini balasan karena Renata berani mengacuhkan keberadaannya.
"Nggak, saya cuma ngikutin permintaan dan cara main kamu aja."
Renata tertunduk dalam, mengamati jemarinya yang sibuk meremas satu sama lain. Jauh berbeda dengan Devan yang memilih asik menatap pelataran parkir didepan mereka, meski dengan kebungkaman.
"Hati kakak pasti sakit gara-gara aku ya?"
Devan menoleh, sebuah senyum terlihat terbit dari atas bibir tipis itu.
"Sedikit."
"Tapi ini konsekuensi, jika saya terus berharap pada harapan semu. Jadi semua sakit itu harus saya nikmati dengan baik," Devan menambahkan diikuti helaan berat diakhir kalimat.
"A... aku jahat kan?"
"Iya. Kamu yang memberi saya harapan, lalu pergi. Kemudian takdir kembali mempertemukan kita dan pada akhirnya, kamu meminta saya untuk pergi. Dan sekarang?"
Susah payah Devan mengulas sebuah senyum agar terlihat baik-baik saja, berbanding terbalik dengan Renata yang sudah hanyut dalam tangisannya sendiri.
Devan tertawa pelan, di usapnya kedua gumpalan pipi yang terasa halus itu.
"Kamu jelek loh kalau nangis,"
Renata tak menanggapi perkataan Devan, justru tangisnya terdengar makin nyata. Terlebih ketika irisnya menangkap keberadaan kurva diatas bibir pria itu.
"Udah jangan nangis. Nanti kalau saya makin cinta sama kamu, emang kamu mau tanggung jawab?"
"Apa hubunganya, hiks..."
"Hmm... soalnya kalau kamu nangis, persis kaya Patrick. Lucu, ditambah pipimu itu."
Devan mencubit gemas kedua pipi Renata, namun tak juga membuat tangis perempuan itu terhenti. Pada akhirnya Devan menarik tubuh Renata dan mendekapnya erat, tak ada penolakan dari perempuan itu hingga membuat Devan lebih leluasa menghisap semua aroma lembut yang menempel pada tubuh Renata.
Begitu pula dengan Renata, disela-sela isakannya ia bisa merasakan aroma maskulin Devan yang menggelitik indra penciumannya. Aroma tubuh Devan persis seperti candu yang meminta Renata untuk menghisapnya semakin dalam, dan perlahan menyalurkan rasa tenang pada dadanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
RENATA (END)
Aktuelle Literatur❗GANTI JUDUL ❗ Perempuan dianggap sebagai makhluk yang lemah, tak heran mereka sering menjadi target kejahatan yang dilayangkan orang-orang tak bertanggung jawab. Tak terkecuali dengan Rania Mahendra, gadis 17 tahun yang harusnya hidup dalam selimu...
