"Oh, oke."
"Ada satu pertanyaan terakhir."
"Apa?"
Devan menggeram "Tanganmu,"
Renata menahan nafasnya sejenak, ia mengikuti sorot mata Devan yang tertuju pada lengannya.
"Oh ini, gatel jadi aku garuk deh." alibinya, tapi sepertinya tidak membuat Devan puas.
Laki-laki itu memperhatikan Renata dengan tatapan mengintimidasi, membuat gadis di depannya bergerak tak nyaman.
"Kenapa?"
Devan menurunkan intonasi suaranya, memang terdengar sexy tapi tetap saja membuat bulu roma Renata menegang. Bahkan beberapa kali ia harus membasahi tenggorokannya yang terada dicekat dengan salivanya sendiri.
"I... itu,"
"Jangan bilang nggak papa, jujur sama saya. Ada apa?" tuntutnya datar.
Renata menarik nafas berat, matanya ikut terpejam karena tak mampu menatap Devan lebih lama. Aura laki-laki itu sangat tidak bersahabat dengan jantungnya.
"Jadi gini ka, tadi siang di cafe ada acara ulang tahun anak pengusaha."
"Terus?"
"Dia... Juan, adek aku."
Mata Renata menerawang jauh. Hingga wajah yang biasanya suka memamerkan senyuman khas itu, seolah lenyap berganti kesenduan.
"Ada mamah, papah dan Juan disana. Mereka juga lihat aku, tapi..."
Renata tertawa sinis "Didepan tamu undangan, mereka bilang kalau Juan adalah anak semata wayang. Saat aku mau bicara sama mereka, mereka justru membubarkan pesta. Mereka juga langsung pergi, saat aku coba ngejar mereka dan menjelaskan semuanya..."
Devan menggenggam erat tangan Renata, bermaksud menyalurkan energi positif.
"Nggak usah dilanjutkan, kamu masih punya saya disini. Oke?"
Renata tersenyum simpul, bahagia rasanya saat tau ada yang peduli dengannya meski ia dan Devan tidak saling terikat hubungan.
"Makasih."
Area meja makan kembali diisi oleh keheningan, tapi itu semua tak bertahan lama. Karena Renata tak mau keadaan menjadi canggung karena ulahnya, ditambah lagi kepalanya dipenuhi berbagai macam bertanyaan.
Gadis itu berdeham pelan "Ka,"
Devan menoleh setelah mengesap sedikit kopi panasnya.
"Hm?"
"Kakak kan udah tanya, sekarang giliran aku ya?"
Devan berdeham sambil mengangguk.
"Awal pertemuan kita, kakak kan nggak kenal aku. Dan... dari pengamatan aku selama ini, kakak paling nggak suka kalau dekat sama orang baru."
"Terus?"
"Ya... terus kenapa kakak mau tolong aku, sampe ngizinin aku tinggal disini. Beberapa hari lalu, waktu aku minta izin buat keluar dari rumah ini. Dalam artian aku nge-kost sendiri, kakak nggak ngasih izin."
"Oh itu." gumam Devan singkat.
Renata bertopang dagu, siap mendengarkan semua penjelasan Devan.
"Besok."
"Hah?"
Hidup selama tiga bulan bersama Devan, membuat Renata tau tabiat laki-laki itu. Dia juga mulai paham dengan Devan yang kadang irit bicara, tapi bawel jika menyangkut masalah yang menurutnya penting. Tapi meski hanya mengeluarkan dua tiga kata, sedikit demi sedikit Renata mulai memahami maksud laki-laki itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
RENATA (END)
General Fiction❗GANTI JUDUL ❗ Perempuan dianggap sebagai makhluk yang lemah, tak heran mereka sering menjadi target kejahatan yang dilayangkan orang-orang tak bertanggung jawab. Tak terkecuali dengan Rania Mahendra, gadis 17 tahun yang harusnya hidup dalam selimu...
