Renata memotong wortel, kentang dan hingga brokoli lalu memasukkannya kedalam panci berisi air mendidih dan beberapa potong daging ayam yang mulai memucat.
12 hari berlalu, namun tantangan masih berlanjut. Setiap hari Renata tidak pernah absen untuk merayu Devan, segala cara ia lakukan agar rasa cintanya yang sudah dipendam selama bertahun-tahun itu bisa terbalaskan.
"Pagi ka Devan,"
Devan bergumam pelan.
"Ganteng." imbuhnya sambil mengerling nakal, membuat Devan mendelik.
Renata terkekeh geli melihat ekspresi Devan yang menurutnya sangat menggemaskan. Sedangkan Devan sendiri sudah mulai biasa dengan rutinitas barunya, yaitu disapa dan menyapa Renata, hingga mendengar gombalan maut gadis itu.
Renata menuang semangkuk sup ayam hangat, kemudian diangsurkan kepada Devan. Disusul nasi, tahu dan tempe.
"Kerja?"
Renata bergumam "Kenapa? Mau ngajak jalan ya?"
"Jangan kepedean, saya cuma tanya."
Renata mencebik kesal, sikap Devan ambigu sekali. Kadang laki-laki itu blush karena rayuannya, tapi kadang ia juga terlihat acuh. Sama seperti sekarang ini.
"Nanti siang saya ada kelas,"
"Oh. Kalo waktu buat aku, ada nggak?"
"Uhuk,"
"Eh?" pekik Renata terkejut.
Devan menenggak gelas berisi air yang terulur kearahnya hingga tandas.
"Uhuk... uhuk,"
Renata menepuk pelan punggung Devan, hingga batuk lelaki itu perlahan mereda.
"Pelan-pelan aja, lagian nggak ada yang mau minta makanan kakak. Ya... paling cuma minta perasaan aja." ujarnya tersenyum genit.
Devan menghela panjang, ia mengurut dadanya sendiri "Astagfirullah."
"ASSALAMUALLAIKUM, AJUN PULANG!"
Kening Renata dan Devan terlipat kasar, keduanya saling beradu tatap lalu beralih pada sosok Ajun, Rafa dan Zani yang tiba-tiba saja sudah bergabung dengan mereka dimeja makan.
"Wah makanan nih," ucap Ajun dengan mata berbinar.
Rafa melirik Devan dan Renata bergantian "Boleh dong bagi dikit."
"Bentar ya, aku ambilin dulu."
Renata beranjak menuju dapur, setelahnya ia kembali dengan tiga mangkuk sup ayam hangat yang baru keluar dari panci. Gadis itu kembali ke dapur, mengambil tiga piring nasi bersama lauk pendampingnya. Setelahnya ia mengangsurkan semua makanan itu, lalu mempersilakan ketiganya untuk ikut makan.
Rafa mengecap sup didalam mulutnya, matanya terpejam erat. Ekspresinya berubah layaknya chef profesional.
"Hmm... enak banget," pujinya tulus.
Renata bersemu "Kakak bisa aja, makasih pujiannya."
Rafa menodongkan sendoknya kearah Renata "Kamu udah cocok tau Ren,"
"Cocok? Cocok apa ya?"
"Cocok jadi ibu dari anak-anak kita."
"Beuh... rayuan mautnya," pekik Ajun.
"Lemes amat tuh mulut, mau lo jadiin Renata korban ke berapa?" sinis Zani.
Renata tersenyum geli, beginilah jika keempat sahabat itu berkumpul. Pasti ada saja yang membuat mereka berdebat, tapi bukannya menakutkan. Perdebatan mereka justru mengundang tawa. Renata bertopang dagu, untuk beberapa saat ia memperhatikan Devan sementara laki-laki itu coba bersikap acuh.
KAMU SEDANG MEMBACA
RENATA (END)
General Fiction❗GANTI JUDUL ❗ Perempuan dianggap sebagai makhluk yang lemah, tak heran mereka sering menjadi target kejahatan yang dilayangkan orang-orang tak bertanggung jawab. Tak terkecuali dengan Rania Mahendra, gadis 17 tahun yang harusnya hidup dalam selimu...
