Jika bisa cepat, kenapa harus diperlambat? Apa lagi jika masalah hati.
_Devan Fernandes_
***
Renata duduk tenang disamping Maia, niatnya ingin mengganti daster yang dikenakannya dengan pakaian yang jauh lebih sopan gagal. Apa lagi ini adalah acara lamaran, mempertemukan dua keluarga besar dibawah satu atap yang sama. Acara yang harusnya dikenang karena dianggap sebagai momen bersejarah, karena ini kali pertama Renata dilamar oleh pria.
Apa lagi jika pria itu adalah seorang Devan Fernandes, pria yang sangat Renata cintai sejak beberapa tahun terakhir. Tapi sialnya Renata tidak diperbolehkan berganti pakaian oleh Devan, dengan dalih ia sudah cantik apa adanya. Tentu saja Renata sempat merasa ragu, meski didasar hatinya terbesit rasa ingin bersorak bahagia.
Beruntungnya dater yang Renata kenakan masih terbilang aman, dengan panjang dibawah lutut dan lengan sebatas siku. Jadi ia tidak terlalu malu.
"Jadi bagaimana nak Renata? Apa kamu bersedia menerima anak kami?" kembali Putra mengutarakan tujuan mereka datang ke kediaman Mahendra.
Renata menghela panjang "Saya bersedia." jawabnya tanpa ragu.
"Alhamdulillah?" ucap mereka bersamaan.
Renata mengulas senyum, kepalanya perlahan terangkat dan tatapan pertama jatuh kepada Devan yang ternyata juga sedang menatapnya. Pandangan mereka saling terkunci.
'Terima kasih' ucap Devan tanpa suara, Renata mengangguk.
"Ayo silakan di nikmati, maaf ya cuma ala kadarnya. Soalnya kita nggak tau kalo kalian semua bakal dateng," jujur Maia.
Winda mengibaskan tangannya sambil tertawa kecil.
"Nggak papa jeng, anak saya juga salah. Punya mulut tapi nggak dipake!" sindir Winda, melirik sinis Devan meski sekilas.
Devan menghela berat, ia merasa sedikit malu karena Winda terang-terangan menyindirnya didepan keluarga Mahendra. Hingga membuat mereka yang ada disana terkikik geli.
"Jadi, rencananya kapan acara pernikahan kalian akan dilangsungkan? 3 bulan, 4 atau..."
"Minggu depan!" Devan memotong cepat perkataan Arya.
"Heh gue tau lo udah ngebet nikah sama Rena, tapi ya kalo mau nikah harus ada persiapannya." geram Rafa.
Zani mengangguk setuju "Dipikir nikah gampang apa,"
"Setidaknya lo harus nyiapin gedung, baju, catering..."
"Kalian tenang, saya sudah menyiapkan semuanya." timpal Devan memotong perkataan Ajun.
Lagi-lagi mereka dibuat tercengang oleh pernyataan Devan yang dianggap out of the box itu.
"Serius?" kali ini Renata yang membuka suara karena tak percaya.
Devan mengangguk "Bahkan saya sudah mencetak undangan, baju untuk keluarga juga sudah siap. Bahkan gaun pengantin kamu sudah selesai dibuat, soal ukuran masih bisa di..."
"Wow, Juna nggak nyangka ternyata kakak Devan bener-bener ngebet nikah." goda Arjuna.
"Karena saya nggak mau, ada yang mengambil Rena sebelum saya!"
Renata menangkup pipinya yang terasa memanas mendengar jawaban Devan, ditambah tawa menggoda dari mereka yang ada disana. Disatu sisi Renata ingin ditenggelamkan ke dasar samudra, disisi lain ia bahagia dan siap terbang menembus angkasa.
Zani mencebik "Ckk, untung si Rena mau terima lamaran lo. Kalo nggak, entah gimana nasib undangan sama semua yang udah lo persiapkan."
KAMU SEDANG MEMBACA
RENATA (END)
General Fiction❗GANTI JUDUL ❗ Perempuan dianggap sebagai makhluk yang lemah, tak heran mereka sering menjadi target kejahatan yang dilayangkan orang-orang tak bertanggung jawab. Tak terkecuali dengan Rania Mahendra, gadis 17 tahun yang harusnya hidup dalam selimu...
