Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Tidur Kok, Cuma Nggak Teratur

33.7K 2.3K 42
                                        

Devanka mengesap habis orange juice yang dipesan Devan beberapa saat lalu. Mungkin karena cuaca Jakarta hari ini yang terlampau panas, hingga membuat tenggorokannya mengering dengan cepat.

"Pah,"

Devan menoleh, kedua alisnya terangkat "Hm?"

"Sebenarnya kita mau ngapain sih disini? Padahal kalau papah mau, kita bisa pergi ke tempat mama kerja."

"Ya nggak bisa gitu dong, nanti mama malah nggak fokus kerja gara-gara kita."

Devanka mengangguk "Oh iya pah, kenapa Devan nggak boleh cerita ke mama soal papah?"

Devan diam, detik berikutnya ia terlihat mengulas sebuah senyum. Satu fakta yang selama ini Devan dan sahabatnya sembunyikan dari Renata, soal Devan yang katanya menempuh pendidikan di Jerman. Namun pada kenyatannya Devan kuliah di Jakarta, bahkan setiap hari ia selalu menghabiskan waktu dengan Devanka tanpa sepengetahuan Renata.

Devan tidak mau meninggalkan Renata seorang diri, apa lagi ditengah kondisi Renata sebagai single mom. Ada banyak hujatan dan kebencian yang dilontarkan padanya, bahkan berimbas pada Devanka. Karena itu Devan sering meminta bantuan para sahabatnya, dengan mengatakan jika mereka bertiga yang akan membantu merawat Devanka.

Meski pada akhirnya hanya Devan seorang yang akan menghabiskan waktu selama berjam-jam dengan Devanka. Ketika Renata datang untuk menjemput Devanka dirumah salah satu sahabatnya, maka Devan akan terlebih dahulu pergi atau setidaknya menyembunyikan segala jejak yang mengarah pada keberadaannya.

Tak heran sekarang Devanka jauh lebih akrab dengannya, dibanding dengan Ajun, Rafa maupun Zani. Nama papah yang disematkan padanya juga murni dari Devanka sendiri. Saat pertama kali anak itu belajar bicara, Devanka sudah menyematkan panggilan khusus itu didepan nama Devan.

"Sabar ya, nanti juga mama bakal tau soal papah kok."

"Tapi Devan pengin kaya yang lain pah, tinggal serumah bareng mama dan papah!" protes Devanka.

Devan tersenyum tipis, ini bukan kali pertama Devanka melontarkan protes seperti itu. Meski ingin namun cara kerja dunia tak semudah itu.

"Kenapa?"

"Apa ada yang ngomongin kamu lagi?"

Tanpa menunggu jawaban Devanka, Devan sudah bisa menebaknya dengan tepat lewat ekspresi sendu anak 7 tahun itu. Belum sempat Devan angkat bicara, sebuah suara membuat wajah keduanya terangkat bersamaan.

"Ka Devan."

"Eh, Juan?"

Devan bangkit dari duduknya, ia menyalami keluarga Mahendra secara bergantian.

"I... ini?"

Kalimat Juan tergantung saat kedua bola matanya menangkap sosok anak kecil didepan mereka.

"Ah iya, Devan perkenalkan ini om Juan."

Devanka mencium punggung tangan Juan dengan sebuah senyuman, tak lupa mengenalkan dirinya.

"Halo om, aku Devanka."

Hal serupa juga berlaku pada Arya dan juga Maia yang sejak awal terbengong melihat paras Devanka, surai hitam kecokelatan di beberapa sisi. Bola iris mahogani, bibir tipis yang persis seperti milik Renata.

"Duduk dulu om, tante." ucap Devan mempersilakan.

Ketiganya mengangguk ragu, tanpa melepas tatapannya dari Devanka. Mereka duduk dikursi yang berada tepat didepan anak laki-laki itu.

Devanka mendongakkan kepalanya. Dengan kening berkerut, ia menatap wajah teduh Devan yang selalu dihiasi dengan rahang tegasnya.

"Mereka siapa pah?"

RENATA (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang