Terkadang, senyum adalah cara terbaik untuk menyembunyikan luka seseorang.
_Renata Agatha_
***
Sepulang dari transmart, Renata dan Devan masih perlu membagi tugas untuk menyusun semua belanjaan mereka disepanjang rak yang ada didapur. Renata bertugas menyusun berbagai jenis mie instans dan snack, sedangkan Devan harus memasukkan sayur, buah dan daging kedalam kulkas.
Selesai dengan tugasnya dan tak tau harus melakukan apa, akhirnya Renata memilih untuk kembali mengekori Devan.
"Nah,"
Devan memutar kepalanya, ia menatap bingung Rania yang sedang menyodorkan apel kepadanya.
"Ngapain?"
"Bantuin kakak," jawabnya, tersenyum manis.
"Nggak usah, saya bisa sendiri!" tegas Devan.
"Tapi kan aku pengin bantuin kakak, apa lagi kayanya kakak keliatan capek banget. Jadi gimana kalo aku yang beresin semua ini, dan kakak pergi ke kamar terus istirahat." usulnya.
Devan diam tak menanggapi, ia masih sibuk menata semua belanjaannya hingga rapi. Ketika semuanya sudah tersusun rapi, barulah Devan mengambil belanjaan terakhir yang dipegang Renata.
"Sama-sama," celetuk Renata girang, Devan mengangkat wajahnya tak paham.
"Apa?"
"Eh?"
Renata mengedipkan matanya cepat "I... itu, tadi kakak ngambil buah dari tangan aku kan? Jadi ya... sama-sama,"
"Nggak paham ya?" tambahnya, lalu tertawa renyah.
Devan menggelengkan kepalanya heran, setelah selesai ia bangkit berdiri dan langsung mencuci tangannya di wastafel.
Nih cewek kenapa ngikutin gue mulu dah, nggak punya kerjaan apa gimana?!. Devan melirik Renata sinis.
"Oh iya ka, aku mau tanya dong. Boleh kan?"
"Hm."
"Oke, berarti boleh nanya kan?"
Lah dipikir dari pagi lo ngapain, nggak perlu izin dari gue juga pastinya lo bakal tanya.
Devan menghembuskan nafasnya panjang. Sabar Van, gimanapun caranya lo harus jaga nih cewek.
Seusai mengeringkan tangan, keduanya pergi menuju ruang tengah yang amat mungil. Karena hanya ada satu paket sofa bersama mejanya, serta tv yang seolah menyatu dengan tembok.
"Ka, jadi boleh tanya apa nggak?"
"Apa?" tanya Devan akhirnya.
Renata celingukan "Keluarga kakak dimana? Kok sepi sih?"
"Di rumah,"
"Oke mereka tinggal di rumah, tapi mana? Kok aku nggak lihat mereka?"
"Rumah mereka, bukan rumah saya!"
Renata ber-o ria "Ih kakak enak ya, bisa tinggal sendirian di rumah. Aku juga pengin, tapi mamah sama papah nggak bakal ngizinin aku punya rumah sendiri." tambahnya kecewa.
Devan mendengus sebal "Kita beda!"
"Kamu masih 17 tahun, sedangkan saya sudah 20 tahun. Ditambah lagi, nggak baik kalo kamu tinggal sendirian. Kamu itu cewek," timpalnya.
"Oh jadi umur kakak 20 tahun, masih muda ya?"
Ya lo liatnya aja gimana, Ya Tuhan!. Geram Devan.
KAMU SEDANG MEMBACA
RENATA (END)
General Fiction❗GANTI JUDUL ❗ Perempuan dianggap sebagai makhluk yang lemah, tak heran mereka sering menjadi target kejahatan yang dilayangkan orang-orang tak bertanggung jawab. Tak terkecuali dengan Rania Mahendra, gadis 17 tahun yang harusnya hidup dalam selimu...
