"Pergi!"
"Ran, tenang!" petintah Marsel tegas.
Rania dengan nafas terengah menghentikan aksinya, perlahan kepalanya berputar 90° kearah Marsel berada. Sekujur tubuhnya gemetar ketakutan, bibirnya kelu dan tak mampu mengeluarkan sumpah serapah yang tersusun didalam sana. Hanya ada kenangan buruk seminggu silam, membuat air matanya kembali jatuh.
"Argh!"
"Pergi! Jangan sentuh gue!"
Rania kembali bertindak diluar kontrol tubuhnya, ia mengambil apapun yang mampu di jangkaunya lalu melemparkannya tepat pada Marsel yang hanya berjarak satu meter darinya.
Marsel yang tak bisa menghindar, hanya mampu memanfaatkan kedua tangannya sebagai tameng. Sedangkan seluruh siswa yang ada didalam kelas secara refleks berteriak ketakutan, karena dibuat terkejut dengan aksi brutal gadis yang terkenal ceria itu.
"STOP RAN!" teriak Marsel mulai kewalahan.
Denita memegangi kedua lengan Rania berharap sahabatnya itu bisa sedikit lebih tenang.
"Udah Ran, sadar hiks." pinta Denita terisak.
"JANGAN SENTUH GUE!"
"PERGI LO SEMUA!"
"PERGI!!"
Suara ribut dari kelas 11 IPA 5 tanpa sadar mengundang perhatian dari beberapa siswa, hingga mereka melihat aksi Rania dari jendela.
"Disana pak!" tunjuk bu Rima yang baru saja kembali dengan pak Nazar _Wakil kesiswaan_.
Keduanya langsung membelah kerumunan siswa yang memadati kelas itu dan benar saja, keduanya langsung di sambut oleh aksi Rania yang terus menyerang Marsel.
"RANIA! MARSEL!" teriak pak Nazar, namun tak di indahkan.
Bruk
"PERGI LO SEMUA!"
"SAKIT RAN!" teriak Marsel mulai lepas kendali.
Pak Nazar tak tinggal diam, dia mencengeram kuat kedua tangan Rania. Sedangkan bu Rima di tugaskan untuk mengamankan Marsel, lalu membawanya menuju ruang BK.
"Sadar Rania, ini pak Nazar!"
Rania menggeleng kuat, tubuhnya terus meronta minta untuk di lepaskan. Isak tangis di sela-sela teriakannya semakin mengundang kerumunan, bahkan beberapa guru sudah hadir disana.
"Pak Ali, tolong minta semua siswa untuk bubar!"
"Jangan sentuh gue! Lepas!"
Guru dengan kaca mata itu mengangguk patuh, ia langsung meminta semua siswa baik yang ada di dalam kelas maupun di luar kelas untuk pergi.
"Saya sudah memanggil orang tua Rania, mereka akan segera datang." tukas pak Hamid.
"LEPASIN GUE! LEPAS!"
"Astagfirullah, sadar Rania."
"Ini bapak, sadar!" sambung pak Nazar yang mulai kewalahan karena aksi brutal Rania.
Bahkan pak Nazar harus meminta bantuan pada pak Hamid dan pak Fahmi untuk membantu memegangi Rania, tanpa menyakiti gadis itu tentunya.
"Sadar Rania!"
Rania memberontak "Lepasin gue!"
🐝🐝🐝🐝
"Maaf untuk semua kekacauan, yang sudah Rania perbuat." sesal Maia, mendapat anggukan dari pak Nazar.
KAMU SEDANG MEMBACA
RENATA (END)
Fiksi Umum❗GANTI JUDUL ❗ Perempuan dianggap sebagai makhluk yang lemah, tak heran mereka sering menjadi target kejahatan yang dilayangkan orang-orang tak bertanggung jawab. Tak terkecuali dengan Rania Mahendra, gadis 17 tahun yang harusnya hidup dalam selimu...
