Tidak ada harapan yang bersifat nyata, semuanya hanya semu belaka.
_Devan Fernandes_
***
Hari makin larut membuat suasana berubah hening. Devan mengamati wajah Renata yang tengah tertidur, hidung mancung dengan bibir tipis berwarna pink alami. Meski wajahnya terlihat lebih tirus hingga berimbas pada tulang pipinya yang terlihat menonjol. Bulu mata pendek dan jauh dari kata lentik, tapi tetap saja Renata seperti memiliki daya tarik tersendiri.
Devan sudah mendengar cerita lengkap soal kehidupan gadis itu. Sejak peristiwa di club, keputusan Renata untuk mengakhiri hidup, keluarga yang mencampakkanya, hingga sahabat yang enggan bertanggung jawab dan berusaha untuk mencelakai Renata dan bayinya.
Apa yang dilakukan Devan saat Renata menceritakan semua itu sambil menangis? Laki-laki itu hanya diam menyimak, ia tidak tau harus melakukan apa. Karena jujur ini kali pertama dia dekat dengan seorang perempuan.
Jadi sepanjang cerita Devan hanya diam menyimak tanpa mengeluarkan pendapat, ataupun sumpah serapah yang ditunjukan pada Marsel. Karena baginya tidak baik mencampuri urusan orang lain, apa lagi mereka baru bertemu beberapa jam lalu.
Awalnya ia sempat merasa terkejut karena Renata begitu mudahnya terbuka dan berbagi cerita, sedangkan Devan hanyalah orang asing bagi gadis itu. Tapi kemudian ia berpikir, mungkin penderitaan Renata terlampau berat jadi dia butuh tempat berbagi.
Ternyata ada yang lebih menderita dari gue,
Gue nggak nyangka, cewek kaya dia lebih kuat dari yang terlihat. Batinnya kagum.
Devan menarik nafas panjang, jam dipergelangan tanganya sudah menunjukan pukul setengah 12 malam. Pantas saja sejak tadi matanya sudah terasa berat, ia ingin pulang sekedar untuk membersihkan diri. Tapi dokter sempat berpesan untuk tidak meninggalkan Renata seorang diri.
Sekarang gue harus gimana? Nggak mungkin kalo gue ninggalin Rena disini sendirian, apa gue minta tolong aja?.
Devan menggeleng cepat. Yang ada mereka bakal mikir yang nggak-nggak soal gue atau Rena, jangan sampe dia down cuma karena masalah sepele.
Ponsel yang ada didalam saku jeans Devan bergetar panjang, tanda jika ada telepon masuk. Diraihnya benda pipih itu dan benar saja, ada banyak panggilan terlewatkan dari ibunya.
"Van?" panggil wanita paruh baya dari seberang sana, mendengar suaranya saja sudah bisa dipastikan jika wanita itu tengah khawatir.
"Hm?"
"Kamu dimana nak? Udah malem kok belum pulang juga, mama telepon sejak tadi siang tapi nggak diangkat sama sekali." protesnya mendengus kesal.
"Devan sibuk, maaf."
Wanita itu menghembuskan nafasnya berat "Ya udah, sekarang kamu pulang gih. Mama mau ngomong penting,"
"Ya,"
Panggilan telepon terputus sepihak.
Kayanya nggak papa kalo gue tinggal nih cewek, toh cuma bentar.
Devan mengangguk mantap, dia memungut jaket dari atas sofa. Karena tak ingin hal buruk terjadi, sebelum pergi dia sengaja meninggalkan ponselnya disana. Tepat diantara vas yang ada disebuah meja kecil disudut ruangan, tak lupa ia mengaktifkan mode perekam dan sengaja mengarahkannya pada brankar Renata.
Setelah memastikan semuanya aman, Devan turun menuju basement rumah sakit dimana motornya berada.
🐝🐝🐝🐝
KAMU SEDANG MEMBACA
RENATA (END)
General Fiction❗GANTI JUDUL ❗ Perempuan dianggap sebagai makhluk yang lemah, tak heran mereka sering menjadi target kejahatan yang dilayangkan orang-orang tak bertanggung jawab. Tak terkecuali dengan Rania Mahendra, gadis 17 tahun yang harusnya hidup dalam selimu...
