Dokter Tidak Perlu Ikut Campur

39.4K 2.6K 30
                                        

Dan disinilah mereka berada, sebuah ruangan bernuansa putih dengan berbagai ornamen dan poster soal kandungan. Rania mengedarkan pandangannya, tanpa sadar seulas senyum muncul kala melihat foto bayi yang terpampang lucu. Sedangkan tangannya sibuk mengelus perutnya sendiri.

Rupanya semua hal itu tak lepas dari kaca mata Marsel, yang sedari tadi memperhatian pergerakan Rania. Terlihat jelas jika gadis 17 tahun itu sedang bahagia, tapi tidak dengan Marsel yang merasa gelisah dan takut.

Dia masih terlalu muda untuk menjadi seorang ayah, Marsel tidak mau bertanggung jawab dan pada akhirnya akan menghancurkan masa depannya.

Gimana pun caranya, gue nggak akan biarin tuh anak lahir di dunia ini. Batin Marsel bertekad.

"Selamat siang," sapa seorang dokter diikuti suara pintu didorong, membuat kedua pasiennya menoleh bersamaan.

"Siang dok." jawab Rania sumringah.

"Wah ada apa ini? Ada yang bisa saya bantu?"

Dokter wanita dengan hijab hitam itu tersenyum mengikuti raut wajah Rania, lalu dirinya duduk dikursi kerjanya agar lebih mudah berhadapan dengan keduanya.

Rania mengangguk "Begini dok, kami mau memeriksakan kandungan sa..."

"Gugurkan bayinya dok!" potong Marsel cepat.

Senyum diwajah Rania mendadak luntur, dia menoleh kearah Marsel. Sementara laki-laki itu terlihat biasa saja, tidak ada menyesal karena perkataannya barusan.

"Menggugurkan?" beo sang dokter

Marsel mengangguk mantap "Iya dok, tolong gugurkan anak dalam rahim dia."

"NGGAK! GUE NGGAK AKAN MENGGUGURKAN BAYI INI!" bentak Rania.

"Mending lo diam!"

"Nggak Sel, gue nggak mau!"

"Tunggu, memang apa alasannya?" dokter itu menengahi.

"Dia anak haram, dan saya nggak mau masa depan saya hancur karena kehadiran anak itu."

Rania berdecih "HARUSNYA LO MIKIR KAYA GITU SEBELUM LO MELECEHKAN GUE DI CLUB, BANGSAT!! HIKS," bentaknya lalu beranjak dan bersiap untuk pergi.

Grep

Marsel mencekal kasar tangan Rania. Sebelum gadis itu sempat meronta, ia terlebih dahulu menyentak tangan Rania hingga si empunya jatuh terduduk diatas kursinya.

"Ash." rintih Rania.

"Maaf mas, anda tidak seharusnya bersikap kasar. Apa lagi mba ini sedang hamil."

"Dokter nggak perlu ikut campur!" sarkasnya penuh penekanan.

"Tapi dia sedang hamil muda, apa lagi dilihat dari usianya..."

"Nah dokter tau kan? Dari usia aja udah salah, jadi gugurkan bayi itu sekarang!"

Rania menggeleng cepat "Ng... nggak, gue nggak mau!"

"Gue nggak mau gugurin anak kita Sel, hiks"

Rania memamerkan tatapan memelasnya, yang kemudian di tunjukkan pada sang dokter. Bibirnya terus mengeluarkan suara tangisan, berbanding terbalik dengan hatinya yang meronta meminta belas kasihan dokter.

"Nggak usah nangis!" sentak Marsel, tapi tak kunjung membuat tangis Rania berhenti.

"Cepat dokter, gugurkan anak dalam kandungannya!"

"Gue nggak Sel, hiks."

Rania menyentak kasar tangan Marsel, ia berlari menghampiri dokter dan langsung bersimpuh dibawah kaki jenjang itu.

RENATA (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang