Nggak Usah Bilang Makasih

28.8K 1.9K 20
                                        

"Kenapa dengan Marsel?"

"Apa dia mengganggu kalian? Kata pada saya Renata!" ucap Devan dingin, nada bicaranya terdengar menuntut membuat Renata meremang menahan takut.

Bahkan sekedar untuk menelan salivanya sendiri pun rasanya sangat sulit, ia seolah tengah berhadapan dengan Devan yang dulu. Devan yang terkenal dingin dan tanpa belas kasihan, Devan yang tak pernah sekalipun melihat kearah Renata, serta Devan yang suka berkata kasar padanya.

"I... itu,"

"Jawab Renata! Ada apa dengan Marsel?!"

"Ng... nggak papa ka,"

"Terus? Tadi kamu bilang takut dengan Marsel,"

"Sekarang jujur sama saya Renata, jangan menyembunyikan apapun!"

Renata menundukkan wajahnya takut, ragu-ragu ia mengangguk.

"A... aku takut, kalo tiba-tiba Marsel datang ke pernikahan kita."

"Terus dia mau ambil Devanka, dan bawa Devanka pergi jauh dari kita ka." tuturnya jujur.

Devan diam selama beberapa saat, di detik ketiga pria itu kembali bersuara. Namun kali ini Devan berkata dengan nada yang terdengar jauh lebih lembut.

"Kamu tenang ya, jangan mikir yang aneh-aneh."

"Kalo pun Marsel datang, maka anak buah saya yang akan mengurus dia. Tapi jika dia masih bersikeras ingin mengambil Devanka, maka dia harus berhadapan langsung dengan saya."

"Saya berjanji, nggak akan membiarkan siapapun mengambil Devanka dari kamu. Karena kamu lebih berhak atas Devanka dari siapapun, termasuk bajingan itu sekalipun!"

Sebulir kristal luruh begitu saja bersama isak tangis, Renata bukan merasa sedih. Melainkan ia merasa bersyukur, karena Tuhan bersedia mempertemukannya dengan pria sebaik Devan.

"Hust, jangan nangis. Nanti cantiknya luntur loh." hibur Devan.

Renata menganggukkan kepalanya patuh, meski ia sadar Devan tidak akan mampu melihatnya. Tangan perempuan itu terangkat guna menyeka kedua pipinya yang mulai basah, setelahnya ia memaksakan sebuah senyuman untuk terbit.

"Makasih ka,"

"Nggak usah bilang makasih."

"Oh iya, saya lupa."

Kening Renata membentuk guratan halus, bahkan terlihat jelas jika perempuan itu merasa penasaran dengan perkataan Devan.

"Lupa apa ka?"

"Saya mau bilang, nanti sore orang-orang dari butik akan datang ke rumah. Kamu coba dulu gaun pengantinnya, kalo kurang cocok minta mereka untuk memperbaiki atau buat ulang. Termasuk ukuran, jika terlalu sempit minta mereka untuk segera memperbaikinya. Oke?"

"Hmm, makasih ka."

Renata mengusap tengkuknya yang mulai memberat.

"Maaf ya nggak bisa tolong apapun, soalnya semua udah di handle sama kakak." sesalnya, perempuan itu tertawa kecil.

Devan pun sama, pria itu terdengar ikut tertawa ringan bersama Renata.

"Nggak masalah,"

"Oh iya soal undangan, gimana? Kamu setuju sama desain yang saya pilih?"

Renata mengangguk "Aku suka kok. Elegan tapi tetep simple,"

"Syukurlah kalo kamu suka, tadinya saya pikir kamu bakalan nolak."

RENATA (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang