Marsel memenuhi panggilan polisi setelah kemarin ia mendapat surat panggilan, jadilah dia harus duduk untuk memberi keterangan versi dirinya soal kejadian beberapa tahun silam. Bukannya takut, Marsel justru merasa dirinya benar dan tidak pernah melakukan semua yang dituduhkan padanya.
Segala alibi sudah ia siapkan, seperti rekaman CCTV milik tetangga Renata. Dimana seorang perempuan yang mirip Renata dibawa oleh pria dengan mobil, sedangkan pria yang mirip Marsel pergi kearah berlawanan. Awalnya ia hendak membawa Surya dan Deswita kesana, tujuannya untuk memberi kesaksian dan diharapkan Marsel mampu terbebas dari jerat hukum.
Namun sialnya Surya menolak ajakan Marsel dengan tegas, ayahnya itu juga memperingatkan Deswita agar tidak terlibat lebih jauh.
"Sejak awal Marsel sudah salah mah!"
"Apa mamah lupa apa yang Marsel perbuat pada Renata dan Devanka? Dan kini tiba saatnya bagi Marsel untuk mempertanggung jawabkan segala tindakannya dimasa lalu!"
"Oh gitu? Jadi papah pengin liat Marsel dipenjara, gitu?!" sentak Marsel geram.
Surya menatap lekat kedua netra tajam Marsel yang memancarkan aura kebencian yang kuat.
"Kenapa kamu takut mempertanggung jawabkan semua tindakan kamu? Padahal dulu kamu nggak pernah takut untuk merusak masa depan Renata?" cibir Surya.
Marsel menggeram kesal, bisa-bisanya Surya lebih membela Renata dari pada putranya sendiri. Rahangnya sudah menegas mendengar semua cemoohan Surya, hingga urat yang melintang dilehernya tercetak dengan sangat jelas.
"Pah!"
"Kenapa papah selalu menyudutkan Marsel? Itu cuma masa lalu pah, sekarang waktunya kita untuk menyelamatkan Marsel. Supaya dia nggak..."
"Cuma masa lalu?" potong Surya sinis.
"Apa kamu pernah mikir gimana keadaan keluarga Mahendra, karena perilaku Marsel dimasa lalu?"
Marsel berdecih sinis. Surya, ayahnya itu sangat menyebalkan. Disaat Marsel butuh bantuan keluarganya agar selamat, Surya justru menolaknya mentah-mentah. Ingatan saat dirumah pagi tadi membuat ubun-ubun Marsel serasa berasap.
"Jadi dimana anda saat peristiwa pemerkosaan itu terjadi?"
Marsel merotasikan bola matanya jengah.
"Saya sudah pernah bilang pak, saya langsung pulang setelah mengantarkan Renata pulang!" tegas Marsel tanpa keraguan.
"Bukti rekaman CCTV juga sudah jelas kan? Renata pergi dengan pria lain dan itu bukan saya, saya cuma mengantar sampai didepan rumah. Nggak lebih!" imbuhnya kesal.
"Maaf pak Marsel, namun dari beberapa informasi yang kami dapat pelaku sebenarnya adalah pak Marsel sendiri."
"Dan mereka yang ada didalam rekaman CCTV 8 tahun lalu, mereka adalah orang yang sengaja pak Marsel sewa untuk menggantikan posisi anda. Bahkan bu Renata sendiri yang mengatakan hal itu pada kami." tambah polisi.
"APA?!"
Sudut bibir Marsel tertarik, ia menatap remeh polisi didepannya. Seolah tidak memiliki rasa takut dan merasa paling benar, dengan sifat angkuhnya Marsel menjatuhkan punggungnya pada sandaran kursi dengan tangan dan kaki terlipat.
"Dan bapak percaya pada keterangan Renata?"
"Mohon pak Marsel untuk bersikap koperatif, agar proses ini bisa segera dilanjutkan."
Alis Marsel terangkat "Silakan dilanjut, toh sejak awal saya memang tidak merasa bersalah kok. Semuanya hanya omong kosong dan tuduhan palsu, agar Renata bisa menjebloskan saya kedalam penjara!" sinisnya, masih mempertahankan sifat angkuh.
KAMU SEDANG MEMBACA
RENATA (END)
General Fiction❗GANTI JUDUL ❗ Perempuan dianggap sebagai makhluk yang lemah, tak heran mereka sering menjadi target kejahatan yang dilayangkan orang-orang tak bertanggung jawab. Tak terkecuali dengan Rania Mahendra, gadis 17 tahun yang harusnya hidup dalam selimu...
