23. Keputusan

48 12 0
                                        

"Jihyo? Jihyo? Hei, aku ada berita baik buat kamu," seru Daniel heboh.

Jihyo mengangkat sebelah alisnya. "Berita apa?"

Daniel duduk di sebelah Jihyo. Wajahnya terlihat sumringah. "Dengar, dokter sudah dapat pendonor hati buatmu. Menurut jadwal, kamu akan dioperasi minggu depan."

Kedua mata Jihyo membulat. "Yang benar?"

"Iya! Kamu nggak perlu khawatir soal biaya operasi. Kamu nggak usah pake uang dari Pak Park itu. Semua akan ditanggung oleh keluargaku."

"Aduh, nggak usah segitunya, Niel. Aku pake uangku aja."

"Jangan... Udah, kamu siapin aja diri kamu buat operasi nanti. Trus banyakin do'a juga. Biar semuanya lancar."

"Iya deh... Aamiin... Makasih udah bantu aku nyari pendonornya. Makasih buat semuanya..."

Daniel tersenyum tipis. "I'll do anything for you, my princess."

"Ngomong-ngomong, siapa pendonornya? Apa kamu tau?"

Daniel kembali tersenyum. "Ada lah pokoknya. Udah, kamu nggak usah mikirin itu. Nanti juga tau."

**

Di tempat lain, Jinjin kembali bertamu ke rumah Seungyoun. Sekarang mereka ada di kamar Seungyoun.

"Kayaknya aku harus mundur," ucap Jinjin lirih.

"Beneran nyerah? Nggak mau maju lagi?" balas Seungyoun.

Jinjin menggigit bibirnya, terlihat sedikit ragu. "Y-ya gimana? Penyakitku udah parah. Tinggal menunggu waktu lagi. Dan Jihyo,,, dia akan menerima domor hati. Dan pendonornya adalah Daniel!"

Seungyoun menepuk pundak Jinjin pelan. "Hei, jangan ngomong gitu. Aku percaya kok kamu masih bisa diselamatkan. Aku percaya masih ada keajaiban untukmu."

"Aku udah nggak percaya lagi, Youn. Aku udah hopeless. Nggak ada harapan lagi."

Kemudian Jinjin berjalan menuju jendela. Disibaknya tirai, memperlihatkan langit malam yang cerah bertabur bintang.

"Youn, aku jahat nggak sih, kalau berharap operasinya gagal?"

Seungyoun tercekat. "Apa maksudmu?"

"Seandainya operasinya gagal, maka nggak akan ada yang bisa memiliki Jihyo. Baik aku, maupun Daniel."

Seungyoun langsung menampar Jinjin.

"Apa-apaan kau? Pikiran gila macam apa itu? Mereka juga berhak buat bahagia, Jin! Jangan pernah berpikir kayak gitu lagi!"

Jinjin membuang mukanya. "Maaf..."

"Sekali lagi aku dengar kamu ngucapin itu lagi, atau justru punya niat jelek, kamu berurusan denganku! Bukannya aku nggak sayang sama kamu, Jin. Kamu, juga Daniel, kalian itu sahabatku. Jangan sampai gara-gara perempuan, hubungan pertemanan kalian retak. Aku akan menjagamu, juga Daniel. Pun dengan Jihyo. Ingat itu!"

**

Daniel menghempaskan tubuhnya dengan kasar di atas kasurnya. Baru saja dia kembali setelah mengantarkan Jihyo pulang.

Pintu kamar Daniel diketuk.

"Daniel? Ini Mama. Apa boleh Mama masuk?"

"Masuk aja, Ma. Nggak Daniel kunci, kok."

Kemudian pintu terbuka, menampilkan sosok cantik Mama Daniel.

Sang Mama lalu duduk di sebelah Daniel.

"Daniel anak mama tercinta, apa keputusan kamu sudah bulat?"

Daniel mengangkat sebelah alisnya. "Soal apa ya, Ma?"

"Soal Jihyo. Kamu sudah mantap mau mau menjadi pendonor hati buat dia?"

Daniel mengangguk mantap. "Iya, Ma. Daniel udah mantap. Mama,,, keberatan kah? Soal biaya juga--"

Sang mama mengusap lembut rambut Daniel. "Mama nggak keberatan kok soal biaya. Itu perkara kecil. Tapi soal kamu, benar kamu yakin mau melakukan itu?"

"Iya, Ma... Daniel yakin. Mama mau kan dukung keputusan Daniel? Daniel mohon, Ma..."

"Baiklah kalau itu sudah menjadi keputusan kamu. Mama dukung. Kalau begitu, kamu harus jaga diri kamu dengan baik sampai hari-H operasi. Bahkan sampai setelah operasi pun, Mama harap kamu tetap dalam kondisi sehat. Jujur, Mama sedikit takut. Tapi Mama akan do'akan agar kamu baik-baik saja."

Daniel tersenyum. Dipeluknya tubuh sang mama. "Makasih ya, Ma? Jangan khawatir. Daniel akan jaga diri dengan baik."

#####

Hello, Park JCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang