Ey sedang mengendarai motornya menuju sebuah tempat. Entahlah, hari ini ia tiba-tiba merindukan mantan kekasihnya; Al.
Terasa janggal ketika ia rakit semua peristiwa di otaknya. Kenapa Al tiba-tiba menampakkan dirinya lagi setelah dua tahun mereka berpisah? Yang paling aneh, darimana dia tau ada acara kelulusan di rumah Billy? Siapa yang mengundangnya? Kan itu party-nya tertutup. Aneh - banget.
CIITTT
Suara decitan ban motor Ey.
Ia hampir saja menabrak seekor anak kucing lucu berwana putih yang tak bersalah.
“Astaga Tuhan!” teriaknya.
Ey turun dari motor dan dengan cepat menghampiri anak kucing itu yang tampak ketakutan di aspal. Ia menggendong dan memeluknya begitu erat.
“Maafin kakak ya, kakak ngga liat kamu tadi,” Ey mengelus kepala anak kucing tersebut. Tangan mungil kucing itu menggaruk tangan Ey. Ia tampak lucu dan manja sekali sekarang.
“Kamu sendirian ya? Duh mana kamu-nya masih kecil. Ikut kakak aja ya?” ia segera membawa anak kucing itu bersamanya. Ditaruhnya di dalam tas ransel dan membuka sedikit resleting tasnya untuk ruang pernapasan si anak kucing.
Ey kembali melajukan motornya, kini dengan lebih hati-hati karena ada delapan nyawa yang ia bawa sekarang. Nyawanya dan nyawa kucing.
Kata orang, kucing punya tujuh nyawa kan?
Tibalah Ey di tempat yang ia tuju.
Baru saja memarkirkan motornya, rindu yang makin kuat menghantam keras dadanya. Di tempat yang sama, tempat ia berdiri adalah tempat di mana pertama kalinya Ey mengutarakan perasaan terdalamnya kepada Al. Pantai yang ia namai ‘kembaran Al’.
Ey membuka tasnya dan mengambil anak kucing itu. Dibawanya kedalam pelukannya sambil mengelus lembut kepala si anak kucing.
Dengan mata terpejam Ey menghirup dalam-dalam udara pantai namun secara otomatis malah kenangannya bersama Al ikut terputar di dalam batinnya.
Kenangan ketika Al turun dari motor, berlari, berputar, melompat ke sana kemari, bahagia sekali mereka kala itu.
“Huaaa Ey.. kok kamu tau aku suka pantai?” memori itu, suara itu, seperti nyata terdengar di telinganya.
Al berlari dan melompat ketubuh kekasihnya dan dengan sigap Ey menangkapnya.
“Makasih Ey, aku seneeengggg,”
Tanpa Ey sadari, bibirnya menarik keatas. Senyumannya mengembang dengan mata yang masih terpejam sempurna, dan di saat yang bersamaan air matanya lolos begitu saja. Bahkan aroma Al seperti tercium pada indra penciumannya.
“Gue masih sayang lu, Al,” batin Ey perih tersadar kenyataan itu.
Meong
Ey tersadar dan membuka matanya. Ia tersenyum melihat anak kucing itu.
“Hey, haha ngga kok, kakak ngga apa-apa,”
Ia melangkahkan kakinya berjalan di bibir pantai sama seperti yang ia lakukan dulu ketika bersama Al. Namun sekarang berbeda, ia berjalan sendirian sambil menggendong kucing jalanan yang ia temui tadi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kamu Kok Bangsad?! [TAMAT]
RomanceWARNING! Dicerita ini banyak kata kasar dan adegan gxg18+. Bagi homophobic jauh-jauh deh. Sangat menerima masukan; kritik dan saran. Tapi harus sopan ya:) #1 in Mencari Jati Diri 13 maret 2019 #1 in Wuqian 13 Maret 2019 #3 in Dilrabadilmurat 6 Juni...
![Kamu Kok Bangsad?! [TAMAT]](https://img.wattpad.com/cover/180129336-64-k623898.jpg)