Gulali Kapas

5.6K 466 18
                                        

Diputar ya lagunya (media)

Tepat pukul tujuh malam aku berada di rumah Al. Malam ini aku bertemu orangtua, dan saudara-saudaranya. Awalnya aku belum siap bertemu keluarga Al, tapi karena dipaksa, yaudah. Al ialah anak ketiga dari lima bersaudara. Kakak laki-lakinya bernama Bapau, kakak perempuannya bernama Pipin, adik perempuannya bernama Indah dan adik bungsu laki-laki bernama Donat.

Ketika aku bertamu disana ibunya menyambutku dengan hangat, aku ditemani ketika Al sedang bersiap-siap. Beliau banyak ngobrol denganku, tapi yang jadi bahan obrolannya agak kurang enak didengar.

Beliau membanding-bandingkan Al dengan keempat anaknya yang lain. Dimatanya, Al adalah anak yang paling 'terendah' diantara anak-anaknya yang lain.

Aku hanya diam mendengar ceritanya. Ohya, biar ga salah paham aja, Al memperkenalkanku pada keluarganya sebagai seorang teman.

"Yuk Ey," ajak Al yang kini sudah berada disampingku.

"Pamit dulu tante," ucapku seraya menyalimi calon mertuaku.

"Pergi mah," pamit Al.

"Jangan pulang malam-malam ya,"

Diperjalanan Al tak banyak bicara, dia cuma bertanya apa yang ibunya katakan padaku. Ya jelas lah ga aku ceritakan. Aku yakin diapun enggan mendengar jika aku bercerita jujur.

"Mau makan apa?" tanyaku untuk mengalihkan fokusnya.

"Ehmm.. pengen makan nasi goreng di sana," tunjuk Al pada penjual nasi goreng kaki lima di pinggir jalan.

Aku menepikan motorku dan duduk lesehan di rumput hijau beralaskan karpet bersama Al. Ternyata dia mau juga makan di tempat beginian, kukira tampang kayak dia maunya yang mawwaahh mawwaahh aja.

"Pak, pesan nasi goreng spesialnya 2 pake telor, satu ga pedes, satunya lagi pedes poll ya," setelah memsan aku kembali duduk bersamanya di sana.

Al meraih tanganku kemudian menyenderkan kepalanya pada lenganku.

"Kenapa hm?" tanyaku lembut.

"Mama pasti ngebanding-bandingin aku di depan kamu ya tadi?" tanya-nya sambil memainkan jari-jari tanganku. Dia ga menatapku sama sekali.

"Ngga kok, kata siapa?" jawabku berbohong.

"Gausah bohong Ey, aku tau kok. Mama selalu kayak gitu," kata Al yang menatapku sebentar kemudian beralih pandang ke jari-jari tanganku lagi.

"Aku takut kamu ninggalin aku," Entah apa yang menarik dari jari-jariku sampai dia betah gitu ngeliat dan mainin. Wajahku seram banget ya?

Aku mengambil tangannya kemudian menaruh di pahaku.

"Lu ngomong apa sih? Hmm?"

Kuangkat pelan dagunya kearahku agar mata indah itu kembali menatapku.

"Dengar yah, mau gimanapun perkataan orang tentang lu, bahkan orangtua lu sekalipun, gue ga peduli. Kita emang belum lama saling mengenal, tapi gue yakin kok lu orang baik. Gue percaya lu ga seperti apa kata orang, jadi.. jangan pernah mikir gue bakal ninggalin lu cuma karena satu atau dua kekurangan lu. Okay? Gue juga banyak kurangnya, tapi gue sadar ini masih dunia bukan Surga, gaada yang sempurna."

Dia menganggukan kepalanya dengan senyuman lebar. Jadi gemas liatnya.

"Sini peluk," kurentangkan kedua tanganku dan membawa Al masuk dalam dekapanku. Ia mendekapku sangat erat.

"wowowowo santai dongg, Ey ga kemana-mana," kami tertawa bersama.

Nasi goreng pun datang.

"Ini punya lu yang ga pedes," aku memberikan nasi goreng itu pada Al, "Dan ini punya gue yang pedes,"

Kamu Kok Bangsad?! [TAMAT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang