17

163 10 5
                                    

Sepulang sekolah,keempat remaja tersebut memutuskan untuk berkumpul di rumah Anin. Pada awalnya Anin menolak,bisa-bisa rumahnya jadi kapal pecah. Namun,ketiga orang tersebut terus memaksa hingga Anin hanya bisa pasrah. Satu lawan tiga,yang ada Anin yang babak belur kalau melawan tiga orang sinting itu.

Mereka berempat pun memasuki rumah Anin dan langsung menuju ruang tamu tanpa dipersilahkan oleh tuan rumah.

"Nin,ada minum gak?"

"Nin,ada makan gak?" Ucap Daffa dan Lani bersamaan. Sama-sama tidak tahu malu.

"Tunggu sini," Anin berjalan menuju dapurnya,mengambil minuman kaleng dan beberapa cemilan.

"Woah! Ngemil gratis nih," Ucap Lani antusias melihat Anin berjalan dari dapur membawa beberapa minuman kaleng dan cemilan untuk mereka yang bisa dibilang cukup banyak untuk mereka berempat.

Anin meletakkan minuman dan cemilan di meja lalu mendudukkan dirinya di samping Alro.
"Kalian kesini mau ngemil aja kan? Dasar gak modal!"

"Ih Anin,tau aja," Ucap Daffa sambil mengambil minuman kaleng dan beberapa cemilan dengan rakus. Dasar gak tau malu!

"Yaudah dimakan,jangan sungkan untuk minta diusir!"

Daffa membelakakkan matanya. "Heh! Yang ada itu jangan sungkan untuk nambah lagi,"

"Mau-mau gue lah! Gue kan yang punya rumah," Ucap Anin sewot.

"IYA DEH CUCU PAK ANANTA," Teriak Daffa dan Lani bersamaan. Kedua sejoli itu lantas saling memandang.

Alro yang melihat itu tersenyum jahil. Bahan nistaan nih. "Barengan mulu perasaan,jodoh emang gak kemana ya,"

"Najis!"

"Ih amit-amit!"

Mulai lagi deh,mulai. Batin Anin yang bosan dengan tingkah tiga orang sinting itu.

Anin memilih menghiraukan itu,lalu menatap Alro yang sedang menjaili Daffa dan Lani. Alro memang pintar menyembunyikan apa yang dia rasa. Semua tertutupi dengan senyum manis cowok itu. Anin tiba-tiba berpikir,akan kah mereka berhasil menemukan bukti kalau bukan Alro pelakunya,mengingat waktu persidangan cowok itu akan digelar tiga minggu lagi.

Alro yang merasa dirinya diperhatikan,sontak menoleh. Mendapat Anin yang sedang menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.

"Kenapa lo?" Tanya Alro yang membuat kesadaran Anin kembali.

"H-hah? Enggak gue gak kenapa-napa," Ucap Anin gelagapan ditangkap basah oleh Alro.

Lani dan Daffa melihat itu,ikut nimbrung menjadi lebih dekat dengan Anin dan Alro.

"Lo mikirin gelang itu lagi ya?" Tanya Lani.

"Gak usah dipikirin terus,lama kelamaan lo pasti inget kok," Ucap Daffa meyakinkan Anin.

Alro mengangguk setuju dengan perkataan Daffa. "Gak usah dipaksain,"

"Tapi kak,persidangan lo sisa tiga minggu lagi dan kita belum sama sekali nemuin satu bukti pun,"

Daffa dan Lani mengehela nafasnya. Anin benar,mereka belum sama sekali menemukan satu buktipun sedangkan persidangan Alro akan digelar tiga minggu lagi.

"A Regret"Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang