"Kak Alara," panggil Ara yang kini duduk di belakang keduanya.
"Iya?" sahut Alara sambil menoleh ke belakang.
"Kakak main ke rumah Ara ya?"
Dahi Alara mengernyit seketika, belum sempat ia menjawab, Ara kembali memohon pada Papanya. "Boleh ya Pa kalau Kak Alara main ke rumah kita?"
"Boleh asal Kak Alara nggak keberatan." Adam melirik Alara sekilas dan bertanya. "Gimana Ra? Kamu mau? Nanti saya telepon orang tua kamu kalau kamu khawatir sama mereka."
"T-tapi, Pak-"
Sejujurnya ia sudah malu mengingat kejadian barusan yang dengan terang-terangan mengungkapkan rasa tidak sukanya pada Buk Erika. Alara rasanya ingin segera sampai di rumah lalu membenamkan diri di kasur empuknya dan menyesali perbuatannya.
"Nanti saya antar kamu."
"Bukan begitu...," gumamnya pelan lalu melirik Ara dengan mata penuh harap. Alara menghela napas pelan. "Ya sudah, tapi Kak Alara nggak janji lama ya?"
Ara mengangguk. "Iya, Kak."
***
Mereka sampai di rumah yang Adam dan juga Ara tempati selama ini berdua. Alara turun diikuti oleh Ara dan juga Papanya. Mereka berjalan terlebih dahulu kemudian Alara mengikuti.
"Ayo, masuk kak."
Alara mengangguk dan mengucapkan salam sebelum masuk ke rumah milik Pak Adam yang sederhana namun elegan.
"Ini rumah saya dan setelah menikah kita akan tinggal disini yang berarti akan menjadi rumah kamu juga."
Alara menipiskan bibir lalu duduk di ruang tamu sementara Pak Adam menyuruh Ara untuk mengganti pakaiannya terlebih dahulu pun dengan lelaki itu.
"Saya ganti baju dulu."
Alara mengangguk dan tak lama ia berdiri lalu menatap sebuah bingkai foto yang ada di ruang keluarga. Alara meraih bingkai kecil yang terletak di atas nakas. Disana ia melihat Ara tertawa lebar sementara disisi kiri dan kanan ada Pak Adam serta mantan istrinya Pak Adam.
Mungkin usia Ara saat itu sekitar 3 tahun.
"Foto itu sengaja tidak saya buang untuk mengingatkan Ara bahwa dia punya masa lalu yang indah."
Jujur saja Alara terperanjat mendengar suara Pak Adam yang tiba-tiba menjelaskan. Ia kembali meletakkan foto tersebut dan menatap dosennya dengan pakaian santai. Ini kali pertama Alara melihat Pak Adam hanya memakai kaos biasa dan celana selutut.
"Saya mau minta maaf."
"Tentang?" tanya Adam kemudian duduk di hadapan Alara.
Alara memilih duduk dan berguman pelan sambil menatap dosen di depannya. "Tadi. Tidak seharusnya saya bersikap kurang sopan dengan gurunya Ara."
Dilihatnya Pak Adam mengangguk. "Saya paham."
"Saya masih belum bisa bersikap dewasa."
"Kamu bisa belajar."
"Saya merasa malu."
"Itu wajar."
Seketika mata bening Alara menatap Pak Adam dengan tatapan bingung. "Bapak memaklumi sikap saya?"
"Kenapa tidak? Perlahan kamu akan belajar."
"Belajar?"
Adam mengangguk. "Ya, belajar bersikap dewasa sebagaimana mestinya."
Tak lama, Ara keluar dan sudah menggunakan pakaian santainya. Gadis kecil itu terlihat bersemangat saat melihat Alara ada di rumahnya.
"Aku seneng Kak Alara main ke rumah. Sering-sering ya kak?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear, Mr. Duda
RomantikCerita sudah tamat! Sudah tersedia versi Audio Book Pogo ya teman-teman :) Sinopsis, "Biar saya lihat," gumam Pak Adam membuat Alara terperanjat kaget tiba-tiba melihat dosennya sudah ada di sebelahnya. Mata teman-teman Alara kini menatap Alara p...
