Bab 19. Bertemu Clara

78.5K 6.8K 33
                                        

“Hmm, iya.” Alara menyahut saat Ara menelponnya. “Iya, nanti kamu wa lagi ya, biar Mama nggak lupa.” Alara mengangguk mendengar ocehan putrinya. “Iya, bye.”

“Telepon dari siapa?” tanya Dita ketika Alara kembali ke kursinya untuk membahas kerja kelompok yang diberikan oleh Bu Yunita. “Kok kayaknya penting banget harus ngejauh gitu.”

Putri sendiri memilih menyipitkan mata curiga pada sosok Alara.

“Ish, dari Mama gue. Minta bawa pulang roti gulung.”

“Yaelah, kayak dari siapa aja harus ngejauh segala.”

Alara hanya menyengir kemudian memanggil pelayan untuk memesan makanan dan minumannya. Ya, saat ini Alara, Dita, dan Putri sedang berada di kafe untuk membahas tugas yang diberikan oleh Bu Yunita.

Ia juga sudah meminta izin suaminya untuk pergi bersama temannya. Ara meneleponnya karena ingin dibelikan bolu gulung. Untung saja, Mas Adam tidak ada jadwal mengajar hari ini sehingga Alara bisa belajar dengan bebas di luar rumah. Lagi pula, Suster Lila juga sedang pulang kampung.

“Jadi, kita bahas dari mana?”

***

Alara keluar dari grab online ke rumahnya. Ia memang berniat untuk pulang ke rumahnya dulu baru ke rumah suaminya karena Alara merindukan ibunya.

“Assalammualaikum, Ma! Pa! Abang! Aku pulanggg!” serunya dengan suara volume tertinggi.

“Berisik, Dek.”

Mata Alara seketika melebar melihat abangnya. Ia langsung melangkah mendekati abangnya dan menarik tangan Naka. “Bang, lo ketemu Clara ‘kan? Pesan gue nggak dibales. Dih, gitu amat.”

“Iya, abang ketemu Clara.”

Alara menatap antusias abangnya kemudian menaikkan kedua alisnya. “Jadi?” tanya Alara menunggu kelanjutan cerita abangnya.

“Ya gitu!” sahut Naka pendek membuat Alara berdecak seketika karena tidak puas dengan jawaban tersebut.

“Ish, gitu gimana?! Jawab yang bener atau aku hubungin Clara sendiri nih buat nanyain.”

Naka langsung merebut ponsel adiknya lalu memasukkannya ke dalam kantung celana pendeknya. “Udah nggak usah.”

“Balikin ponselku!” seru Alara sambil meraih ponselnya di saku celana abangnya.

“Makanya jangan kepo!” sahut Naka kemudian hendak beranjak.

“Ponselku!” seru Alara sekali lagi.

“Dek, kamu pulang?”

Alara menoleh menatap ibunya. “Mama!” Ia langsung menghampiri ibunya kemudian memeluknya. “Ah aku kangen masakan Mama.”

“Ya sudah yuk makan. Suami kamu mana?”

“Aku naik grab kemari. Susah disana nggak ada kendaraan, aku juga nggak bisa bawa mobil.”

Naka seketika memelintir kepala adiknya dengan lengannya. “Makanya kalau disuruh belajar mobil tuh nurut! Gini pasti nyusahin suami kamu kan? Minta antar jemput.”

“Nggak. Aku mau minta antar sama abang kok nanti.” Alara menyahut santai sambil memperbaiki tatanan rambut yang berantakan akibat ulah abangnya.

“Males!” sahut Naka ketus kemudian mengembalikan ponsel adiknya sebelum kembali ke kamarnya untuk tidur.

“Ish, pelit amat.”

“Sudah-sudah. Ayo sayang, kita makan. Mama hari ini masak kesukaan kamu karena kangen sama kamu.”

Dear, Mr. DudaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang