"Gue izin libur."
Alara bergumam sambil memotong kuku kakinya sementara ponselnya diapit diantara bahu dan telinganya. Putri menelepon karena menanyakan keberadaannya yang tidak hadir.
"Tumben lo libur? Ada acara apaan?"
Alara menjawab santai. "Acara keluarga. Udah ya, gue mau siap-siap dulu." Karena semakin lama ia berbicara dengan Putri, gadis itu akan segera merecokinya dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuat Alara malas menjawabnya karena berkata jujur pun seperti yang dilakukannya tempo hari, mereka tidak percaya.
Besok adalah pernikahannya dan hari ini Alara akan menerima kehadiran keluarga besarnya. Para sepupunya pasti akan bertanya yang aneh-aneh mengenai pernikahan dadakan ini. Tidak dadakan juga, hanya saja Alara mengabari sepupunya baru-baru ini sehingga mereka berpikir bahwa Alara hamil diluar nikah.
Dasar para sepupu laknat!
Setelah memotong kukunya, Alara membersihkan kamarnya kemudian keluar untuk melihat persiapan apa-apa saja. Sudah seminggu ia dan Mas Adam tidak bertemu karena memang sudah aturannya seperti itu. Namun, Mas Adam sering mengabarinya melalui pesan atau telepon singkat saat malam hari.
"Mama dimana, Tante?" Alara bertanya pada tantenya yang sedang melewatinya sambil membawa satu ember ayam mentah yang mungkin hendak di masak.
"Mama kamu keluar sama Mama Adam nggak tahu kemana. Tapi, tadi nitip pesen supaya kamu siap-siap."
"Siap-siap?"
Tante Kila yang merupakan adik dari Mamanya itu mengangguk. "Iya, biar luluran terus besok pagi kamu mau dikasih inai. Sebentar lagi mereka sampai. Sudah sana, tante mau bawa ini dulu ke belakang."
"Eh?" Alara mengernyit bingung. "Mereka? Mereka yang mau lulurin aku maksudnya?" tanyanya namun tantenya sudah berjalan jauh.
***
Seperti yang sudah Alara duga bahwasanya para sepupunya ini akan menanyakan bagaimana dia mungkin bisa secepat ini menikah sementara kakak sepupunya Yani yang lebih tua tiga tahun darinya saja belum menikah.
Mereka kini berkumpul di kamar Alara saat Alara baru saja selesai luluran dan mandi. Alara memilih untuk membiarkan persepupuannya ke kamarnya. Ada sekitar delapan orang sepupu yang umurnya tidak jauh beda darinya namun yang berkumpul di kamarnya kini hanya tiga orang.
"Jadi, lo jawab jujur. Gue denger dari nyokap lo nikah karena dijodohin?" Gadis bernama Cerry itu membuka suara. Menatap Alara dengan pandangan menuntut penjelasan.
"Gue kaget pas nyokap bilang Kak Alara mau nikah." Kali ini si gadis berkacamata yang lebih muda dari Alara bernama Gina bergumam sambil memeluk boneka yang kesayangan yang memang ia bawa kemana-mana. "Kirain Kak Alara beneran hamil diluar nikah."
"Huss!" Alara menyahut cepat. "Gue memang dijodohin dan tiba-tiba aja yang dijodohin ya dosen gue sendiri."
"Nyokap bilang dia duda ya, Ra?" tanya Kak Yani.
Alara mengangguk. "Anak satu, Kak."
"Gue pernah baca di aplikasi wattpad tuh cerita tentang duda-duda." Gina menyipitkan mata mencoba mengingat salah satu novel yang pernah dibacanya. "Tapi, duda di wattpad ya lo tahu sendirilah kan, tampan, kaya pokoknya versi sempurna. Nah, gue harap lo nggak dapet duda yang perut buncit, kepala botak, Kak."
"Sembarangan." Alara melempar bantal untuk adik sepupunya itu. "Ya, dia nggak jauh dari versi wattpad lah. Sebelas dua belas."
"Heh? Serius?" tanya Gina antusias.
Baik Cerry maupun Yani mendengarkan dengan seksama.
Alara mengangguk dan tersenyum membayangkan sosok Mas Adam di pikirannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear, Mr. Duda
RomanceCerita sudah tamat! Sudah tersedia versi Audio Book Pogo ya teman-teman :) Sinopsis, "Biar saya lihat," gumam Pak Adam membuat Alara terperanjat kaget tiba-tiba melihat dosennya sudah ada di sebelahnya. Mata teman-teman Alara kini menatap Alara p...
