Pembukaan acara dies natalis membuat Alara, Tania, Dita, dan Putri ikut duduk di aula yang terbuka untuk siapapun yang ingin menyaksikan. Mereka berempat memilih duduk paling belakang mengingat bangku depan sudah penuh diisi oleh mahasiswa lainnya.
Para dosen fakultas ekonomi disediakan sofa paling depan untuk melihat beberapa acara pembukaan seperti tarian dan beberapa drama nantinya yang akan dimainkan.
“Wah, Aqila cantik banget!” seru Tania dengan kagum.
Alara akui memang Aqila yang sedang berdiri di podium memakai baju kebaya serta sanggulan rambutnya yang bagus membuat penampilannya semakin memukau. Belum lagi make-up di wajah gadis itu yang memperindah dirinya sehingga menjadi sosok yang sempurna untuk hari ini sebagai pembawa acara pembukaan dies natalis yang akan diadakan selama seminggu penuh.
“Berapa lama pembukaan resminya?” tanya Alara pada Dita yang duduk di sebelahnya.
“Sampai siang, terus disambung habis dzuhur. Kenapa?”
Alara menggeleng pelan dan melirik jam tangannya yang menunjukkan jam sepuluh lewat. Ia harus bertemu dengan suaminya setelah acara pembukaan resmi selesai. Tak lama alunan musik yang lumayan memekakkan telinga terdengar. Semua orang bertepuk tangan pada performance tarian dari adik kelas sebagai pembukaan resmi dies natalis untuk seminggu ke depan.
Alara menatap setiap penari itu dengan rasa kagum. Gerakan mereka dengan musik begitu sesuai. Tarian yang mereka bawakan juga tarian modern membuat setiap orang bisa menikmati tarian dan musik sekaligus.
Alara mencoba melihat barisan dosen paling depan tapi dia kesulitan mengingat ramainya mahasiswa saat ini di aula utama yang mungkin berjumlah ratusan orang. Setelah tarian pembukaan selesai, dekan fakultas ekonomi maju guna untuk membuka acara dies natalis.
Memberikan sepatah dua patah kata lalu mendapatkan kembali tepuk tangan yang meriah dari para mahasiswa bahkan ada yang sampai bersiul saking semangatnya di minggu-minggu tenang setelah mereka menyelesaikan finalnya.
“Gue ke toilet dulu,” gumam Alara pamit pada temannya. Tanpa menunggu teman-temannya, ia segera ke toilet karena memang hasratnya sudah diujung.
Alara menyelesaikan buang air kecil lalu mencuci tangannya dengan sabun dan memilih keluar toilet. Ia merasakan ponselnya bergetar. Alara segera membuka pesan yang ternyata dari suaminya.
‘Ke ruangan Mas sekarang.’
Acara padahal belum selesai, namun Alara segera melangkah ke ruangan suaminya. Saat di koridor, ia melihat suaminya yang berjalan di depannya, tampaknya pria itu juga baru saja keluar dari aula menuju ke ruangannya.
“Pak Adam!” panggilnya geli lalu menghampiri pria itu yang kini menatapnya kaget. Bahkan beberapa mahasiswa tampak memperhatikannya ketika memanggil santai dosen yang terkenal killer itu.
Lagi pula, Alara tidak mungkin memanggil ‘Mas Adam’ karena ada banyak mahasiswa dan dosen yang berkeliaran diluar saat ini.
“Kamu nggak lihat acara pembukaan tadi?”
“Lihat kok, Pak. Tapi, nggak lama karena saya langsung ke toilet, terus Bapak kirim pesan, ya udah saya langsung kesini.” Seketika dahi Alara mengernyit. “Bapak kok cepet keluar? Bukannya belum selesai?”
Adam membuka pintu ruangannya kemudian masuk yang diikuti Alara. Bahkan suara musik dari aula masih terdengar sampai kemari.
“Hanya sampai kata sambutan Pak Dekan aja. Selebihnya tidak penting.” Pria itu duduk di kursinya sementara Alara duduk di depannya. “Keluarin portofolio kamu.”
Untung saja Alara sudah menyiapkannya dan mengeluarkannya. Ia menarik asal buku yang ada di meja suaminya sebagai alas untuk menulis. “Pinjam bukunya, Pak.”
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear, Mr. Duda
RomanceCerita sudah tamat! Sudah tersedia versi Audio Book Pogo ya teman-teman :) Sinopsis, "Biar saya lihat," gumam Pak Adam membuat Alara terperanjat kaget tiba-tiba melihat dosennya sudah ada di sebelahnya. Mata teman-teman Alara kini menatap Alara p...
