"Dimana Ara?" tanya Adam saat keduanya sampai di rumah mantan istrinya. Sementara Alara memilih untuk bersembunyi dibalik tubuh tegap Adam. Ia benar-benar tidak berani untuk melihat Mba Fira yang sepertinya sudah jelas tidak suka padanya.
Fira seketika membuka pintunya melebar saat dilihatnya mantan suaminya datang. "Ada di dalam, Mas."
Adam segera masuk diikuti oleh Alara. Fira hanya melihat Alara sekilas lalu membuang wajahnya. Alara menelan salivanya mendapat tatapan sinis tersebut. Lagi pula mana ada istri dan mantan istri yang bisa berbaikan? Padahal Alara tidak ingin membuat permusuhan dengan siapa pun. Tapi, sudah begini apa boleh buat. Dia juga tidak bisa banyak berharap untuk hubungannya dan Fira.
Alara kini mengikuti langkah Fira dari belakang menuju kamar Ara. Disana Mas Adam tampak sudah membawa Ara dalam pangkuannya dan bercerita-cerita kecil membuat Ara seketika tersenyum. Tak lama Fira turut bergabung dalam obrolan mereka membuat Alara merasa terasingkan lalu dengan diam-diam memilih keluar dari kamar Ara.
Alara berjalan ke luar rumah Fira. Ia memilih berdiri di teras rumah wanita itu sambil memeluk dirinya sendiri. Ternyata menikah dengan seorang duda, memiliki satu anak tidak semenyenangkan itu. Ada rasa iri menyerap di hatinya, rasa cemburu yang membakar dadanya, tapi Alara tidak berhak protes akan itu semua, 'kan?
Kemungkinan semesta sudah memilih takdir ini untuknya agar ia menjadi lebih kuat dan siap menerima apapun cobaan dalam hidupnya. Alara tersenyum miris sampai tiba-tiba dekapan hangat dari belakang menyentaknya.
"Kenapa keluar?" bisik suara Mas Adam membuat Alara menoleh ke arah perutnya yang dilingkari oleh lengan kokoh berwarna kuning langsat yang berarti putih kekuning-kuningan milik Mas Adam.
"Nggak pa-pa, Mas."
Seketika Adam memaksanya untuk berbalik dan menatap istrinya. Lalu kedua tangannya bergerak menangkup wajah cantik Alara. "Ara nyari kamu, ayo kita masuk."
Alara menggeleng. "Aku tunggu disini aja."
"Ra, aku nggak akan masuk kalau kamu nggak mau masuk."
"Pa, Ma," suara mungil itu membuat Adam dan Alara menoleh. "Ayo, kita pulang."
Alara melihat Ara yang masih begitu pucat. Di belakang Ara ada Fira yang menatapnya tidak suka. Tak lama, Ara seakan ingin tumbang namun Adam lebih gesit dan cepat menangkup putrinya. Ia menggendong Ara yang sudah lemah.
"Kita ke rumah sakit ya?" tanya Adam namun Ara menggeleng.
"Ara takut."
"Ada Papa sama Mama."
"Bener Papa sama Mama di samping aku?" tanya Ara memastikan.
Kini Fira maju dan tersenyum lalu mengelus rambut Ara yang ada di gendongan Mas Adam. "Iya, Papa bener. Mama sama Papa selalu disamping kamu."
Ara seketika menggeleng. "Aku mau Mama Alara."
Dan jawaban itu membuat mereka menoleh pada Alara karena bagaimana pun kasih sayang ibu kandung yang jarang menghabiskan waktu dengan anak-anak mereka akan kalah dengan yang selalu ada.
***
Alara menatap Ara yang tertidur di rumah sakit dan mendapatkan perawatan inap disana. Mereka membawanya ke ruangan VIP sehingga baik Alara maupun Mas Adam bisa beristirahat tanpa ada yang mengganggu. Alara duduk di kursi sebelah brankar di mana Ara tertidur lelap. Ia sama sekali tidak ingin mengganggu Ara.
Tak lama Mas Adam masuk ke ruangan tersebut. Ia mengambil remote ac lalu membuat suhunya naik agar tidak terlalu dingin. "Kemungkinan besar Ara tipes."
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear, Mr. Duda
Roman d'amourCerita sudah tamat! Sudah tersedia versi Audio Book Pogo ya teman-teman :) Sinopsis, "Biar saya lihat," gumam Pak Adam membuat Alara terperanjat kaget tiba-tiba melihat dosennya sudah ada di sebelahnya. Mata teman-teman Alara kini menatap Alara p...
