Alara mengerjapkan matanya ketika jam menunjukkan pukul lima pagi. Ia duduk di ranjangnya lalu melirik Ara dan Wina yang masih tertidur sangat lelap. Alara memilih ke kamar mandi untuk segera mencuci muka, menyikat gigi, lalu berwudhu dan melaksanakan kewajibannya sebagai umat muslim.
Setelahnya Alara turun ke bawah untuk membantu persiapan lainnya hari ini. Di dapur Alara melihat Ibunya, Neneknya dan Tante Ola sedang merapikan meja karena ijab qabul diadakan di rumah ini jam delapan pagi nanti.
“Mama jam berapa bangun?” tanya Alara kemudian memilih duduk di meja makan.
“Jam empat. Adam tidur dimana semalam?”
Seketika Alara mengernyit. Sejak semalam ia tidak melihat suaminya. “Nggak tahu, Ma.”
“Tidur di kamar tamu sama Naka.” Ola menyahut karena dia memang benar-benar melihat dua pria dewasa itu masuk ke kamar tamu sekitar jam satu malam tadi.
“Bangunin abang dek. Suruh siap-siap.” Ratna menyuruh Alara.
Alara menaikkan alisnya. “Nggak berani ah, ada Mas Adam.”
“Kok nggak berani?” tanya sang nenek yang sedang duduk di kursi sebelahnya. “Suami sendiri nggak pa-pa, Nak.”
Alara mendesah dan kini ia dengan terpaksa beranjak ke kamar tamu dimana abang dan suaminya tertidur. Perlahan Alara membuka kamar yang untung saja tidak dikunci, lalu kegelapan langsung menyergap di matanya beningnya.
Alara melihat dua siluet manusia sedang tertidur lelap tanpa mengenakan baju. Satu tidur di karpet, sementara yang lainnya tidur di atas kasur.
Kenapa mereka tidak tidur satu kasur? Tanya Alara dalam hati.
Ia segera menuju ke abangnya yang tidur di karpet lalu menggoyangkan bahu lelaki itu. “Bang, Abang, bangun!” bisiknya pelan agar suaminya tidak ikut terbangun. “Bang, bangun ihh. Disuruh siap-siap sama Mama.”
“Nghhh,” suara Naka mengerang tidak jelas.
Alara menghela napasnya, membangunkan abangnya untuk bangun pagi seperti membangunkan kerbau. Seketika ia dengan isengnya langsung mencubit idung abangnya agar susah bernafas.
Alara merasakan abangnya mulai megap-megap kemudian membuka matanya. Alara refleks melepaskan cubitan dihidung abangnya. “Maap, Bang.”
“Gila lo ya, Dek!” serunya sambil mencoba mengatur pernafasan.
“Ya gue bangunin susah amat. Sana mandi, subuhan, terus siap-siap. Clara juga lagi di dandani kayaknya.”
Naka berdecak seketika karena masih kesal tingkah adiknya. Pria itu mau tidak mau segera bangun dan memakai baju kaosnya lalu memilih keluar kamar untuk kembali ke kamarnya.
Kini, Alara memilih membangunkan suaminya yang tidur dengan badan telungkup. “Mas! Bangun. Udah subuh.”
“Hm.”
“Jangan hm hm. Bangun Mas!” Alara menggoyangkan punggung kokoh suaminya.
Adam mengerjapkan matanya lalu menatap istrinya yang kini menunggunya untuk bangun.
“Subuhan dulu sana.” Alara hendak beranjak namun tarikan di tangannya membuat Alara seketika memekik kaget. “Mas!”
Adam segera bangun lalu menindih istrinya. Ia sengaja membiarkan Alara merasakan hasratnya yang kini sedang menggelora. Berdiri dengan gagah dibalik celana pendeknya membuat Alara seketika merona malu dan untung saja suasana kamar ini masih gelap.
“Mas!”
“Kamu ngerasain kan, Ra?” tanya Adam dengan suara serak khas bangun tidur. Ia tenggelamkan kepalanya di leher Alara dan mengecup leher Alara. “Mas pengen, Ra.”
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear, Mr. Duda
RomanceCerita sudah tamat! Sudah tersedia versi Audio Book Pogo ya teman-teman :) Sinopsis, "Biar saya lihat," gumam Pak Adam membuat Alara terperanjat kaget tiba-tiba melihat dosennya sudah ada di sebelahnya. Mata teman-teman Alara kini menatap Alara p...
