Alara baru saja sampai rumah saat supir grab online mengantarkannya sampai depan pagar. Ia melihat mobil pajero suaminya ada di dalam garasi, lalu mobil siapa sedan putih ini?
Perlahan ia masuk ke dalam rumah dan menyadari keadaan sepi. Alara menutup pintu kemudian mencoba memanggil suaminya namun tak ada sahutan apapun. Ia menghela napas pelan lalu beranjak ke kamar Ara. Disana, Alara mendengar suara Ara tampak sedang mengobrol. Ia segera membukanya dan melihat sosok Fira ada disana.
“Mba Fira,” gumamnya sambil menatap Ara dan Fira bergantian.
“Ah, kamu baru pulang? Saya mampir untuk melihat anak saya.”
Alara lalu mendekati Ara dan bertanya. “Kamu baik-baik aja?”
Ara tersenyum dan mengangguk. “Aku baik-baik aja, Ma.”
“Apa kamu pikir aku akan mencelakai anakku sendiri?”
Mendengar hal itu kini Alara berdiri. “Silakan bicara sama saya diluar karena menurut saya, nggak etis jika Anda marah-marah tanpa sebab di depan anak Anda sendiri.” Ia berusaha untuk kuat jika menghadapi Fira karena Alara tahu Fira akan suka sekali menindas jika dirinya terlihat lemah.
Alara keluar yang mau tidak mau diikuti oleh Fira. Kedua wanita itu kini saling berhadap-hadapan di ruang tamu yang sedikit jauh dari kamar Ara berada. Alara memperhatikan sekelilingnya berusaha untuk melihat suaminya, namun suaminya tak terlihat sama sekali.
“Mas Adam lagi mandi kalau kamu mau tahu. Dia ngizinin aku masuk karena aku masihlah ibu kandung Ara.” Fira menatap kuku ditangannya yang diberi kutek merah.
Penampilan Fira memang modis namun sangat kekurangan bahan layaknya wanita penggoda. Lalu, apa yang dilakukan Fira dan Mas Adam sebelumnya? Alara melihat wanita itu santai duduk di atas kursi ruang tamu sambil meraih bingkai kecil yang berisi fotonya, Ara yang berumur 3 tahun, dan juga Mas Adam.
“Kamu lihat foto ini?” tanya Fira lalu memperlihatkan foto tersebut pada Alara. “Ini menandakan bahwa Mas Adam tidak akan melupakanku, Alara. Dia bahkan tidak membuangnya.” Fira tersenyum kemenangan ketika melihat wajah Alara kini tampak tertekan. “Kamu nggak akan bisa menggantikan posisiku di hati Mas Adam, Alara.”
Setelahnya, Fira memegang rambut hitam Alara yang terurai begitu saja lalu tersenyum sinis. “Sampaikan salamku untuk Mas Adam. Aku merindukannya,” lanjut Fira sebelum keluar dari rumah itu dengan langkah lebar.
Seketika Alara terduduk lemas di sofa. Seharusnya ia tidak perlu mengambil hati akan ucapan Fira, bukan?
“Ra, kamu sudah pulang?”
Alara tersentak mendengar pertanyaan suaminya yang kini berdiri di depannya. Terlihat Mas Adam memang baru saja mandi dan hanya mengenakan kaos abu-abu gelap dipadukan dengan celana pendek berwarna hitam.
“Mba Fira titip salam untuk Mas.” Alara mengucapkannya dengan nada dingin kemudian hendak beranjak namun tangan Mas Adam lebih cepat menahannya dan memegang kedua pundaknya.
“Apa yang dia katakan?”
Alara menatap suaminya dalam diam. Memperhatikan setiap jengkal mata yang berwarna coklat, hidung mancung, dan bibir tipis menggoda. Baru kali ini Alara benar-benar memperhatikan wajah tampan yang dimiliki oleh Mas Adam.
“Ra, apa yang dia katakan?” ulangnya saat Alara tidak menjawab apapun.
Alara menipiskan bibirnya lalu menepis kedua tangan Mas Adam dan berkata. “Seharusnya aku yang bertanya kenapa Mas biarin dia masuk seenaknya ke rumah ini? Mas masih cinta sama dia? Iya?!” Alara tersenyum mengejek pada dirinya sendiri lalu menatap figura foto yang sempat dipegang Fira. Ia meraih figura tersebut lalu memberikannya pada Mas Adam dan berkata. “Kalau masih cinta kenapa terima perjodohan itu? Mau nyakitin aku, hm?” tanyanya dengan suara yang mulai bergetar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear, Mr. Duda
RomanceCerita sudah tamat! Sudah tersedia versi Audio Book Pogo ya teman-teman :) Sinopsis, "Biar saya lihat," gumam Pak Adam membuat Alara terperanjat kaget tiba-tiba melihat dosennya sudah ada di sebelahnya. Mata teman-teman Alara kini menatap Alara p...
