Gaess, chapter ini cuma diisi ++ 🤣🤣
Tolong bijak yes 😂
Happy reading ~
***
Malam ini Adam, Alara, dan juga Ara memilih untuk menghabiskan waktu keluarga. Jam sudah hampir menunjukkan pukul setengah sepuluh malam namun Ara tampaknya masih belum ingin terlelap. Ia sedang meminta izin ayahnya untuk melaksanakan pesta ulang tahunnya.
"Jadi, kamu mau dibikin pesta?" tanya Adam pada putri semata wayangnya ketika mereka sedang berkumpul di ruang keluarga.
Ara mengangguk. "Mama udah bilang mau siapin pesta buat Ara. Ya kan, Ma?"
Alara yang sedang memakan buah apel mengangguk seketika. "Iya, Pa. Mama udah janji sama Ara."
Mendengar hal itu Ara tersenyum. Ia kembali melirik ayahnya dan bertanya. "Boleh 'kan, Pa?"
Adam menyisir rambut dengan jemarinya ke belakang. Siang tadi ia baru saja memangkas rambutnya yang mulai panjang kini sudah terpotong rapi di sisi kiri dan kanan. "Kalau Mama sudah bertitah, Papa akan menurut. Tapi-" Adam memberikan syarat pada putrinya. "Tidak sampai larut malam."
"Oke, Pa!" Ara segera berlari ke kamar setelah izin untuk membuat pesta ulang tahunnya di setujui oleh kedua orang tuanya.
Tiba-tiba saja, Adam menarik tangan Alara membuat wanita itu berada di pangkuannya. Sejak tadi Alara terlihat menggemaskan di matanya hanya saja dia menahan hasratnya karena Ara berada disana.
"Mas!" pekiknya tidak percaya.
Tangan Adam bergerak ke tengkuk Alara, menahannya disana sementara bibirnya mulai mencicipi bibir Alara yang memabukkan untuknya.
Alara segera mendorong dada suaminya dan berkata. "Kalau dilihat Ara bagaimana?" tanyanya namun diabaikan oleh pria itu.
Adam kini membuka dua kancing piyama istrinya, menampilkan bra hitam yang membuat hasratnya semakin menggebu bahkan Alara merasakan milik suaminya yang menegang dibalik celana pendek lelaki itu.
Tangan Adam kini menelusup ke balik baju Alara. Meremas dada istrinya dengan pelan sementara bibirnya mengecup leher Alara.
"M-as, nanti Ara li-hat."
"Sebentar saja, sebelum kita pindah ke kamar," bisik Adam dengan suara berat.
Tak lama terdengar langkah kaki Ara yang mendekat.
"Mas, lepasin aku!"
Adam seketika menjatuhkan kepala di bahu istrinya dan bergumam. "Nanggung, Ra."
Alara berdecak, lalu menarik diri dari suaminya dan mengancingkan kembali pakaiannya. Sementara Adam langsung beranjak ke kamar setelah berkata, "Mas tunggu di kamar."
Ara kembali dengan senyuman di wajahnya. "Ma, ini aku udah tulis teman-teman yang mau aku undang."
Alara menerimanya. "Oke Mama simpan. Sekarang kamu tidur ya, udah jam sepuluh tuh."
"Oke Ma, good nite."
"Nite, Sayang."
Setelah memastikan Ara masuk ke dalam kamarnya, Alara segera mematikan semua lampu menyisakan lampu remang-remang. Ia lalu langsung kembali ke kamarnya dan disana suaminya sedang duduk sambil memangku laptop.
"Ara sudah tidur?"
Alara mengangguk lalu menyimpan catatan yang diberikan oleh Ara padanya sebelum bergabung dengan suaminya di ranjang.
"Berarti udah bisa dong?"
Alara melebarkan mata tidak percaya. Terkadang suaminya ini merengek seperti anak kecil ketika meminta jatah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear, Mr. Duda
RomantizmCerita sudah tamat! Sudah tersedia versi Audio Book Pogo ya teman-teman :) Sinopsis, "Biar saya lihat," gumam Pak Adam membuat Alara terperanjat kaget tiba-tiba melihat dosennya sudah ada di sebelahnya. Mata teman-teman Alara kini menatap Alara p...
