Bab 34. Masa Lalu

59.5K 7.4K 273
                                        


Aku mau ketemu sama kamu, Mas.’

Adam membaca pesan dari mantan istrinya saat dia sedang memiliki waktu sejenak sebelum kembali ke aula karena menjadi juri untuk lomba final. Dia tidak membalas namun getaran ponselnya kembali menarik atensinya.

Please, Mas. Ada yang perlu aku omongin kalau bisa berdua saja.’

Pria itu mendesah lelah. Adam kini membuka kontak dan mencari nama Alara yang telah ia ubah menjadi ‘My Love’ di ponselnya. Adam memanggil nomor tersebut.

Halo, Mas.”

Dahinya seketika berkerut samar mendengar suara bising yang ditimbulkan oleh istrinya. “Kamu dimana? Kenapa berisik sekali disana?”

Oh di rumah, aku lagi bikin kue. Ada apa, Mas?”

“Kue untuk siapa? Kamu nggak boleh capek, Ra.”

Ulang tahun Ara kan nanti malam, Mas. Jangan bilang Mas lupa!” Terdengar suara Alara tampak mengancamnya membuat Adam terkekeh pelan. “Nggak capek kok. Ini sama Bunda.”

“Mas nggak lupa, Sayang.” Ia menghentikan kalimatnya sejenak sebelum kembali berkata. “Tadi, Fira kirim pesan kalau dia mau ketemu sama Mas, Ra. Apa Mas boleh pergi?” Karena bagaimana pun yang berhak atas dirinya adalah istrinya.

Alara tidak langsung menjawab.
“Kalau kamu nggak ngizinin, Mas nggak bakalan pergi,” imbuhnya kemudian agar istrinya tidak salah paham.

Pergi aja, Mas. Mungkin ada hal penting yang mau dia omongin.” Alara tampak mematikan sumber keributan yang terjadi agar keduanya bisa berbicara dengan jelas. “Aku nggak pa-pa, kok.”

“Yakin?”

Iya, Mas.”

“Ya sudah, nanti Mas pulang sebelum jam lima. Acaranya habis maghrib, ‘kan?”

Alara terdiam tanpa menjawab. “Mas?” panggilnya pelan.

“Iya, sayang. Ada apa?”

Eum, anu... Mas ajak aja Mbak Fira nanti malam. Bagaimana pun Ara pasti seneng kalau kedua orang tuanya datang.”

Adam memejamkan matanya sejenak. Ia tahu pasti berat bagi Alara untuk mengatakan hal ini. “Ra—”

Nggak pa-pa, Mas. Malam ini kebahagiaan sepenuhnya milik Ara. Udah ah, aku lanjut bikin kue lagi. Bye.” Tidak membiarkan suaminya menjawab, Alara sudah mematikan ponselnya lebih dulu.

Adam menjauhkan ponsel dari telinganya. Memikirkan perkataan istrinya yang sama sekali tidak mampu Adam pahami karena setahunya jika wanita lain tidak akan repot-repot untuk mengundang mantan istri suaminya sendiri. Ia menghela napas pelan kemudian membuka pesan Fira lalu membalas.

Kita bertemu di cafe biasa.’

***

“Adam bilang apa?” tanya ibu mertuanya yang kini membantu Alara membuat kue untuk ulang tahun cucunya.

Alara tersenyum lalu menggeleng pelan. “Nggak bilang apa-apa, Bunda.”

“Kamu bohong sama Bunda?”

“Enggak, Bun.” Alara kembali menghidupkan mixer dan mengaduk tepung, telur, dan semacamnya. “Mas Adam cuma bilang pulang nanti sebelum jam lima.”

Lena menghela napas pelan karena tahu menantunya ini sedang berbohong. Ia meraih kedua bahu Alara dan berkata. “Jujur Ra, Bunda nggak suka kamu nyuruh Adam buat ajak Fira ke pesta Ara nanti. Tapi, karena kamu sudah memutuskan, Bunda nggak bisa bilang apa-apa.”

Dear, Mr. DudaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang