19. Rumor

6.8K 516 23
                                        

"Tif, lo kerudung aja segede taplak, tapi murahan juga ya," ucap Rangga saat aku masuk kelas. Apa maksud ucapan dia barusan? Tapi yang jelas itu bikin aku merasa... you know... sakit hati. Cewe mana yang gak sakit hati dibilang murahan?

"Jaga omongan lo ya!" Bentak Nissa yang melihat aku tidak bereaksi apa apa. Bintang dan Tara hanya memandang Rangga bingung.

"Lo jangan pura pura sok suci gitu deh, lo udah mencemari nama kelas ini tau gak?" Bentak Rangga. Taklama setelah itu, Azam, Gilang, Fikri, dan Awan pun datang. Entah apa tujuannya, Rangga pun menghampiri mereka berempat.

"Dan lo! Gilang! Lo juga jangan pasang muka so suci! Lo juga sama bejat nya sama ini cewe! Gue gak habis pikir sama kalian, malu maluin, mencemari nama kelas ini!"

Aku bingung, apa hubungannya coba? Apa salah aku? Apa salah Gilang? Tiba tiba disemprot gini sama Rangga?

"Lo jangan asal ngomong dong ya! Apa maksud lo?" Serang Gilang.

"Halah, jangan pura pura gatau gitu lo!"

"Ini ada apa?" Bentak Pak Heidi, kepala sekolah. Nah loh, kenapa Pak Heidi ke sini?

"Dan kalian, Latifah dengan Gilang ikut saya ke kantor, sekarang!" perintah pak kepala sekolah. Aku beserta Gilangpun mengekorinya sampai ruang kepala sekolah.

"Kalian anak muda macam apa sih?" bentaknya ketika aku duduk di depan meja beliau. Aku pun mengangkat tangan dan pak Heidi mengizinkan aku untuk berbicara.

"Maaf pak sebelumnya, tapi apa yang telah saya perbuat?" ucapku, Pak Heidi pun tampak bingung. Entahlah, dia seperti sangat kaget, bingung, marah, kesal, dll.

"Apa maksud kamu?" tanya Pak Heidi dan dia seperti... melunak. Tidak ada bentakan yang tadi Pak Heidi lontarka .

"Entah kau yang pintar menyembunyikan ekspresi mu, atau memang kalian sedang tidak sedang berbohong, tapi saya ingin bertanya, apa maksud dari gambar ini, dan gambar yang beredar di mading? Jawab saya!" bentaknya lagi dan melempar sejumlah foto.

Foto aku dan Gilang, yang sebenernya terjadi dalam Foto itu ialah Gilang yang sedang bisik bisik dan aku yang tengah pusing untuk mencerna perkataanya Gilang sehingga aku memejamkan mata.

Tapi terlihat seperti Gilang yang sedang menciumku.

"Pak, ini bukan yang sebenarnya terjadi," ucap Gilang dan Pak Heidi berdeham.

"Jelaskan!"

Dan Gilang pun menjelaskan semua dengan detail. Tapi dia tidak menceritakan apa yang dibisikannya padaku.

Setelah Gilang menjelaskan semuanya, pintu ruangan ini pun diketuk dan Pak Heidi mempersilahkan masuk. Ternyata bu Jeha, ibu Pembimbing Konseling.

"Bawa kedua anak ini ke ruangan ibu, dan periksa mereka." Tegas pak Heidi dan Bu Jeha pun menyuruh kami mengikutinya. Aku takut. Aku takut dengan ruangan BK, setelah kejadian di SMP yang melibatkan ruang BK. Aku merasa seperti siswi yang teramat sangat bermasalah.

Akhirnya kami sampai ke ruang BK, dan kami di bawa di ruangan kosong hanya ada satu meja dan satu kursi, dan sebuah alat yang entah apa namanya. Satu kata untuk sekolah ini, canggih.

"Jelaskan semua sekarang," perintah Bu Jeha, dan aku mengangguk ke Gilang memberi kode supaya dia aja yang ngejelasin.

Dia pun menjelaskan semuanya, dan Bu Jeha tampak kebingungan.

"Tidak ada nada kebohongan yang terdeteksi di mesin ini," ucapnya.

"Mau bersumpah demi Allah? Agar kalian menerima konsekuensi jika berdusta," tawar Bu Jeha dan kami mengangguk mantap.

Boarding School [Editing]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang