Lathifah: Kak, gimana caranya Tifah mau tranfusi coba? Sedangkan besok jadwalnya Tifah untuk tranfusi.
Setelah reminder itu berbunyi, aku langsung menghubungi kak Faiz. Tapi mungkin dia lagi ada di kampusnya jam segini.
"Kenapa Tif? Ko setelah alarm hp lo bunyi, jadi bengong?" Tanya Nissa hati hati, apakah aku sebengong itu?
"Gak kok Nis, aku cuma keinget sesuatu, ga penting sih," balasku dan hp ku langsung berdering, ternyata telepon dari kak Faiz. Aku pun keluar dari kamar, dan menuju gazebo yang terletak di persimpangan asrama perempuan dan laki laki.
"Assalamu'alaikum kak, ada apa?"
"Wa'alaikumsalam Tif, Kakak hanya ingin menanyakan tentang tranfusi lo, apa perlu kakak ke sana?" Ucap kak Faiz, beruntung aku punya kakak yang kelewat baik
"Nggak usah kak, nanti malah merepotkan kak Faiz, bukannya kakak ada kelas besok? Ga mungkin kakak bolos cuma gara gara aku kan?" Ucapku sambil mengganti posisi dudukku, aku merasa ada yang mengamatiku.
"Gak tifah, besok kakak ga ada kelas, jadi gue bisa nemenin lo," ucap kak Faiz, alhamdulillah kalo dia bisa menemaniku ke rumah sakit.
"Serius kak? Boleh deh kalo gitu, tapi emang boleh izin dari sini?" Tanyaku, dan kupikir dia menghela nafasnya di sana.
"Ya boleh lah Tif, masa ia ga boleh," jawab kak Faiz, yaa aku kan cuma nanya, kalo nantinya aku ga boleh pergi gimana?
"Okey kak, Assalamu'alaikum,"
"Wa'alaikumsalam,"
Setelah sambungan telepon terputus, aku kembali ke kamar, untungnya jarak kamarku dengan gazebo tak terlalu jauh. Aku sangat tidak nyaman, dari tadi aku merasa seseorang tengah mengamatiku.
"Lo dari mana coba?" Tanya Bintang menatapku penuh dengan kecurigaan. Dan tatapan Ninis dan Tara padaku juga seolah penuh tanya.
"Dari gazebo, emang kenapa?" Ucapku dan balik nanya.
"Ngapain?" Kini Tara yang bertanya, mereka kenapa sih?
"Jawab telepon dari kakak," jawabku, emang ia kan, aku tadi jawab telepon dari kak Faiz.
"Ooh, kita siap siap shalat maghrib yu," ucap Nissa, sepertinya Nissa mengalihkan pembicaraan, tapi bagus deh.
"Ayuk," ucap Bintang lalu kita semua mempersiapkan diri untuk pergi ke masjid sekolah.
★
Setelah shalat maghrib selesai, aku berniat menjumpai kepala sekolah. Dan kini aku telah berada di depan kantornya.
"Assalamu'alaikum pak?" Ucapku lalu mengetuk pintu kantor kepala sekolah.
"Wa'alaikumsalam, masuk!" Ucap beliau dari dalam, dan aku langsung memasuki kantornya dan duduk di hadapannya.
"Maaf pak, saya Lathifah, saya ingin meminta izin, besok kakak saya akan datang kemari untuk mengantar saya ke rumah sakit, apa diizinkan pak?" Tanyaku hati hati. Entah apa yang merasuki diriku, tapi aku sangat gugup berada di depan kepala sekolah.
"Memang ada apa?" Tanya Kepala Sekolah, seraya menghidupkan laptopnya, mungkin mencari data? Siapa tahu kan? Gak penting banget sih Tif.
"Saya harus tranfusi darah, tiga bulan sekali, dan besok waktunya saya tranfusi kembali," jawabku, dan tampaknya Pak Heidi sedang mencari sesuatu.
"Lathifah Khairunnisa Azzahra?" Tanya Pak Heidi dan aku mengangguk.
"Riwayat penyakit Thalasemia?" Tanya beliau lagi dan aku kembali mengangguk. Tuhkan, Pak Heidi pasti sedang mencari Informasi tentangku.
Pak Heidi tampak menimbang nimbang, akhirnya beliau mengangguk tanda mengizinkanku untuk pergi besok. Terimakasih Ya Allah, kau memudahkan izin ku.
"Terimakasih pak, assalamu'alaikum" tanyaku seraya pergi dari ruangan Pak Heidi. Apa lagi? Aku kan sudah mendapat izin.
"Mau kemana kamu? Surat izinnya kan belum jadi, tunggu di sini bentar," cegah yang membuatku terduduk kembali. Oh iya, aku lupa.
Nampaknya Pak Heidi sedang ngeprint sesuatu, setelah beres, dia menyatukannya dengan kertas lain menggunakan hekter, dan dia menuliskan sesuatu lalu menandatangan kertas itu dan mengecapnya.
"Ini berikan pada guru piket besok sebelum kau ke rumah sakit," ucap Pak Heidi dan memberikan kertas tadi kepadaku.
"Terimakasih Pak, assalamu'alaikum," ucapku berpamitan kepada Pak Heidi.
"Wa'alaikumsalam, cepet sembuh ya," ucapnya, lalu aku pergi dari sana. Dan mendapati Nissa sedang berkacak pinggang di depan kantor kepala sekolah.
"Nissa, astaghfirullah, kamu ngagetin aja ish," ucapku seraya mengelus dada, aku sangat terkejut, melihat Nissa dengan tatapan tajam nan kepo.
"Lo ke ruang kepala sekolah?" Tanya Nissa seraya berjalan menuju asrama. Tapi aku melihat wajah takut Nissa. Entahlah aku selalu melihat Nissa sedang ketakutan.
"Ia," jawabku singkat, aku hanya tidak ingin salah berbicara, dan membuat hubungan ukhuwah*) kami retal gara gara ke-kepoan ku.
"Buat apa?" Tanya Nissa kembali, rupanya dia kepo banget.
"Minta izin," jawabku tanpa nada.
"Izin? Buat?" Tanya Nissa lagi, kenapa sih dia nanya mulu, apa aku mencurigakan? Dia berbakat menjadi tukang introgasi orang.
"Besok aku ga akan masuk kelas," jawabku, sekilas ku lihat Nissa mengerutkan dahinya, oh ayolah Nis, kamu kepo banget si.
"Kenapa?" astagfirullah, Nissa, kamu ga perlu tahu.
"Ada perlu," jawabku, aku tidak berbohong dong ya? Aku kan emang ada perlu.
"Ooh," ucapnya, tapi aku yakin dia masih belum yakin, karena mana bisa aku diizinkan hanya karena 'ada perlu'.
"Tif? Bagaimana jika kapan kapan kita mengobrol? Berdua?" Ucap Nissa hati hati. Nissa terlihat sarkastik jika dari luar, cuek, dan tidak peduli dengan keadaan sekitar. Tapi yang perlu digaris bawahi, bahwa Nissa seperti kelinci mungil yang tersesat mencari tempat perlindungan.
♡
TBC
Curhat deleted wkwk, karena ada temen gua yang kepo mau baca cerita abal ini mwehehehee
Wassalamu'alaikum! Be a good reader, please:)
![Boarding School [Editing]](https://img.wattpad.com/cover/25616746-64-k162543.jpg)