"Nah, pelajari lagi bab yang tadi, pertemuan selanjutnya kita ulangan," ucap Pak Badru. Kenapa di sekolah ini ulangan mulu?
Hanan sangat serius membaca buku Biologi. "Han, serius amat, bel istirahat tuh," ucapku, dan Hanan menutup bukunya.
"Mati aja gue Tif kalo ga masuk MIA," ucapnya dan langsung menghidupkan ponselnya. Setelah ponselnya hidup sempurna, dia menunjukan sebuah foto.
"Ini Almarhumah Bunda gue, dia berharap gue bisa jadi dokter, dan gue janji akan mengabulkannya," ucapnya. Aku harusnya bersyukur masih punya Ummi dan Abi. Bukannya tetep ngeluh.
"Semangat!" Ucapku, dan dia mengangguk dan melangkah ke kantin. Di kelas tidak terlalu sepi. Dan masih ada Bintang.
"Lo tumpahin kayu putih ke kolong meja gue kan!" Teriak Awan, Gilang langsung menahannya untuk melabrak Bintang.
"Wan!" Seru Gilang meredam emosi Awan, dan Bintang menunjukan ekspresi seperi Hah?
"Apaan sih! Lo juga ngumpetin gelang gue kan?" Sungutnya tak kalah nyolot dengan Awan, aku hanya bisa menutup telingaku. Dan orang orang di kelas hanya mereka-ga-pernah-damai.
"Berantem sih boleh! Tapi jangan buat kuping orang sakit!" Ucapku, berteriak, dan mereka terdiam. Bintang langsung duduk di bangku Hanan dengan wajah asam.
"Kenapa Allah nyiptain makhluk kaya Awan?" Ucapnya sebal.
"Ga baik loh, mempertanyakan Allah Bi," ucapku dan Bintang mendengus.
"Cowo bukan lo?" Ucap Gilang dari arah bangku Awan.
"Cowo juga manusia Lang," ucap Awan geram, Bintang tidak terlihat takut seperti beberapa hari yang lalu, dia malah terlihat geram. Mungkin gara gara Gelang. Ini juga salah aku.
"Bi, belum tentu itu salah Awan, dia belum tentu ngumpetin gelang kamu, siapa tahu itu kebetulan?" Ucapku dan wajah Bintang makin kecut.
Ini masalah kecil kenapa jadi gede?
"Wan! Maafin aku ya, ini salah paham gara gara aku sebenernya, aku nemuin gelang Bintang di bawah bangku kamu, terus Bintang berasumsi ini salah kamu, maaf ya!" Ucapku dan Gilang mengangguk.
Ini yang dimintain maaf Awan, yang ngangguk Gilang.
Awan-Bintang, sama sama benda langit. Keren.
Aku melihat potongan kertas di laci meja Hanan. Ambil gak ya? Ambil aja deh.
Tifah, gue pengen jadi temen lo, boleh?
-Gilang Hikmah
Mataku pasti sudah membulat sempurna, dan bodohnya kenapa aku membacanya sekarang? Saat Gilang ada di ruangan ini. Jangan sampe Bintang liat.
"Astaghfirullah!" Teriak Bintang, membuat orang orang yang ada di kelas, memperhatikan kami. Dan aku melirik Bintang yang tengah melihat kertas di tanganku.
Sebelum Bintang berteriak, aku memasukan kertas itu di saku jasku, dan membekap Bintang dengan tangan kanan, serta menaruh telunjuk kiri di atas bibirku.
"Hehe, biasa Bintang lebay," ucapku nyengir, dan mereka langsung sibuk dengan urusannya masing masing.
"Sssst!" Desisi ku dan mata Bintang melotot sempurna, dan dalam sekejap wajahnya menampilkan ekspresi jahil.
"Gil-" teriak nya terputus saat aku membekap mulutnya. Bintang itu keras kepala. Dibilang jangan, malah dilakuin.
"Lo manggil gue Bi?" Tanya Gilang, dari bangku Awan.
"Eh.. ngga! Tadi gue cuman mau ngomong 'gila! Ini keren banget!' Iya itu," jelasnya pada Gilang, dan aku menghela nafas. Bintang memang nekat.
☆
Tbc
Pendek? Emang hehee
![Boarding School [Editing]](https://img.wattpad.com/cover/25616746-64-k162543.jpg)