10. menjaga hati

8.4K 609 12
                                        

Seperti biasa, kami sedang belajar untuk ulangan besok, dan hp ku bergetar tanda pesan masuk. Ternyata Gilang menghubungiku, kami telah menjadi teman sejak itu.

Gilang: Assalamu'alaikum ukhti, tadi ga keliatan di masjid?

Tanpa sadar, kedua ujung bibirku terangkat membentuk senyum. Aku pun membenarkan posisi dudukku, seraya membalas pesannya. Eh tunggu! Apakah ini masuk kategori khalwat*)?

Lathifah: Wa'alaikumsalam wr wb, kebetulan aku sedang tidak shalat.

Sent.

Tak lama, hp ku bergetar lagi.

Gilang: Ohh, semoga sukses ya Fah ulangan besok, semangat!

Lathifah: Jzklh Lang, aamiin

Gilang satu satunya orang yang memanggilku Fah, biasanya aku di panggil Tif atau Tifah aku berasa... ah! Dia temanku, aku tak punya perasaan apapun padanya. Tak boleh. Aku harus menyimpan perasaanku untuk suamiku kelak. Mungkin akan sulit jika aku saja tidak tahu siapa kelak yang akan menjadi imamku, dan akupun (mungkin) belum pernah bertemu dengan imamku.

"Ciee, senyam senyum," ucap Tara, dan aku tersadar dari bengong. Saat ku melirik mereka, ajaibnya mereka memperhatikanku dengan senyum penuh arti.

Hayooo-ada-apa-? Begitulah ekspresi mereka.

"Kalian, belajar sana! Aku-aku juga akan belajar," ucapku gugup sendiri.

"Ehm," kini Bintang yang pura pura batuk.

"Tifah, tadi waktu shalat isya, ada yang cariin lo," ucap Nissa. Hah? Nyariin aku? Jangan bilang Gilang tanyain aku ke mereka.

"Siapa? Ngarang, gak mungkin lah ada yang mencariku," ucapku dan kembali belajar cosinus. Meskipun pikiranku sedang tidak ke cosinus.

"Hah, terserahlah, percaya atau nggak, Gilang nyariin lo," ucap Bintang dan aku hanya mendengus. Ada nada yang lain saat Bintang berbicara seperti itu. Entahlah, aku hanya mendengar nada lain.

Bismillah

Oke aku bisa!

1.Dengan menggunakan aturan sinus hitunglah c pada ΔABC Jika a = 10,∠ B  = 75° , dan ∠ C = 60°!

"Oke, besok bapak bagikan hasilnya, ikhtiar sudah, berdoa lah yang banyak!" ucap pak Galih dan mengucapkan salam.

Setelah menjawab salam Pak Galih, Ibu Lelly langsung masuk ke kelas, baru kali ini aku bertemu dengan bu Lelly. Dia guru Kimia, aku agak sedikit parno.

"Assalamu'alaikum," sapa bu Lelly, dan kami semua menjawab salam bu Lelly dengan semangat, tapi Hanan, gugup setengah mati.

"Apa kalian sudah hafal nomor atom?" tanya bu Lelly, dan tidak ada yang menjawab. Hanan semakin gugup. Ada apa dengan dia?

Pelajaran Kimia berlngsung lancar, kecuali untuk Hanan. Mungkin.

"Gimana tadi ulangan?" tanya Gilang dari bangkunya, ya kami mengobrol. Tapi aku sama sekali tidak memperhatikannya, aku berbicara dengannya tapi aku tidak melihatnya. Karena Allah melarang zina, dan yang mendekatkan pada zina.

"Alhamdulillah, akhi gimana ulangannya?" tanyaku. Aku sama sekali tidak menatap Gilang. Kita tidak tahu hati manusia, lebih baik kita mencegah, daripada mengobati. Itu yang selalu abi ucapkan.

"Gilang sih, jangan ditanya matematikanya Tif," ucap Awan, dan menghampiri kami, aku tidak sendiri, ada Bintang dan beberapa akhwat di sini.

"Aamiin Wan, tapi masih tahap belajar," ucapnya, rendah hati. Kaya Ilham.

Kan, keinget Ilham. Salahku, dulu aku tidak menjaga hati, salahku, duly aku tidak menjaga pandangan. Sampe kesemsem sama Ilham.

"Kepada Lathifah Khairunnisa A, kelas 1. D, ditunggu di ruang tata usaha,"  mendengar namaku di sebut, aku langsung ke ruang tata usaha.

"Thifah, Madrasah Aliyah ini mempunyai fasilitas kesehatan, kini kau tak perlu izin sebulan sekali untuk ke rumah sakit, kau bisa melakukan tranfusi di sini," ucap wanita muda yang berjas putih. Oke, bahkan mereka mempunyai dokter.

Aku tak tahu, apakah ini berita bagus, atau buruk. Yang pasti, aku hanya tersenyum dan mengucapkan 'Terimakasih,'

Akupun kembali ke kelas, entah mengapa perasaanku tidak enak. Seperti ada yang mengganjal.

Setelah aku tiba di kelas, aku akhirnya tau. Aku akhirnya tau apa yang (mungkin) membuat perasaanku tidak enak. Kali ini bukan hanya mengganjal, tapi benar benar membuat dadaku sesak.

Bukankah berkhalwat itu dilarang? Bukankah itu mendekati zina? Apa mereka tidak tahu hukumnya? Bagian berkhalwat mana yang mereka tidak mengerti?

Bukankah aku pun pernah berkhalwat? Lalu, mengapa aku menghujat mereka gara gara berkhalwat?

Ada apa sebenarnya dengan aku?

Tbc

Ada saran?

Khalwat: Berdua duaan. Kalo gak salah, chating juha masuk kategori berkhalwat. Maaf kalo salah:)

Btw, masa ya, gue udah edit banyak part di cerita ini, mulai dari kosa katanya, typo, tanda baca, dll. Eh gak tau kenapa gak ke save. Hate udahlah hate. Curhat._.

Boarding School [Editing]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang