Bel ganti jam pelajaran pun berbunyi menandakan waktu olahraga tiba, pelajaran sebelumnya memang tak ada guru yang masuk ke kelas. Tapi kami diberi tugas sebanyak rumput di gunung Puntang. Itu majas.
"Ganti baju!" teriak Bintang yang menghampiri meja ku.
"Oke," ucapku membalas teriakannya.
"Bi, talingo ambo sakit," ucap Hanan dan Bintang tertawa. Entahlah, aku punya perasaan yang gak baik tentang apa yang akan terjadi hari ini.
"Yuk, cepet!" ucap Nissa yang menghampiri kami, aku pun mengambil baju olahraga ku dan membawanya ke ruang ganti di dekat gedung olahraga.
Tapi, dengan tongkat ini, aku memang bisa olahraga apa?
***
"Lathifah, kamu buat makalah senam lantai saja," ucap pak Hasan dan aku mengangguk. Memangnya apa yang bisa diharapkan dari wanita cacat seperti ku. Maksudku, cacat sementara. Aku pun memisahkan diri saat dibagi kelompok, rupanya mereka akan bertanding voli.
Aku bersyukur sekali, karena jujur aku payah dalam olahraga, apalagi yang berbau bola. Aku pun hanya memperhatikan mereka dari atas tribun. Saat tiba tiba pak Hasan menghampiriku.
"Tifah, bapak mau nanya, apa benar kamu adiknya Kahfi?" aku pun mengangguk, ya kedua kakak ku alumni Nurul Fikr. Tapi aku tak yakin Pak Hasan pernah mengajar Bang Kahfi, umurnya saja mungkin tak jauh dari umur Bang Kahfi.
"Iya, ada apa pak?" tanyaku dan pak Hasan berdeham.
"Kalo boleh nanya, Kahfi apa kabar?" tanya pak Hasan, aku tak mengerti mengapa ia terus menanyakan Bang Kahfi.
"Bang Kahfi... Alhamdulillah baik," ucapku diikuti anggukan pak Hasan.
"Apa dia masih trauma tentang kuliah magang nya?" tanya pak Hasan. Kok Pak Hasan tau sih?
"Pak Hasan! Azam pingsan pak!" teriak salah satu temanku dan pak Hasan langsung berlari turun. Refleks, aku pun ikut turun dengan susah payah karena tongkat ini. Siapapun yang teriak, aku ucapkan terimakasih.
Pak Hasan pun membawa Azam ke UKS, hidung cowok itu meneteskan darah, dan wajahnya semakin pucat.
Sedangkan kami diintruksikan untuk diam di gor dan tak membuat kerusuhan. Aku sendiri memutuskan untuk memikirkan Bang Kahfi dan Pak Hasan dari tribun.
***
Autors pov
Saat menunggu di gor, Gilang pun harus mengatakan yang sebenarnya pada Lathifah. Setidaknya ini janji yang terucap jum'at malam yang lalu.
**
"Zam, gue baru tau kalo lo leukimia," ucap Gilang dan duduk di samping tempat Azam berbaring dan malah memakan buah buahan yang harusnya Azam makan.
"Wajarlah, kalo lo udah tau dari dulu, baru gak wajar." Ucapnya seraya terkekeh.
"Bukan itu maksud gue," ucap Gilang seraya mendengus. "Eh, lo sama Nissa ada apa sih?"
"Bukan urusan lo," ucap Azam dengan kejam, Gilang pun memakluminya, karena wajah Azam selalu menunjukan ekspresi terlukanya jika menatap Nissa. "Lo tau Lathifah kenapa?" tanya Azam.
"Lathifah?" tanya Gilang seraya menaikan alis kanannya.
"Iya, Lathifah Khairunnisa Azzahra." Tegas Azam
"Gak tau, memang kenapa?" tanya Gilang, lagi.
"Gue kan cuman nanya," ucap Azam, dan Gilang seperti... entahlah menaruh curiga?
![Boarding School [Editing]](https://img.wattpad.com/cover/25616746-64-k162543.jpg)