20. it is'nt your business, is it?

7.2K 527 8
                                        

"Mi, Tifah izin pindah dari sini ya, Please. Terserah ummi kalo ummi mau daftarin Tifah ke Gontor kek, atau Insan Candekia, atau Yasfi, Nurul Hakim, Al-Luqman, atau Madrasah Aliyah lain, tapi Tifah mohon Mi, izinin Tifah pindah," ucapku menelfon ummi.

"Ummi tidak keberatan kamu mau pindah, tapi ummi harus tau kenapa kamu mau pindah?"

"Ummi ke Nurul Fikr aja dulu, urus pindahan Tifah,"

"Ummi harus ke sana kapan?"

"Ummi bisanya kapan?"

"Nanti Ummi hubungin Tifah lagi ya sayang?" Ucap Ummiku tersayang, cuma ummi deh yang noner satu di hati Tifah.

"Oke Mi, Assalamu'alaikum,"

"Wa'alaikumsalam warahmatullah,"

Ummi pun memutuskan sambungan telefon ku. Boleh sebut aku kuntil anak, karena pada jam tengah malam gini aku masih terjaga dan menelfon ummiku. Anak macam apa aku? ponselku kembali bergetar.

Kak Faiz is Calling

Aku pun menjawab panggilan kak Faiz.

"Assalamu'alaikum kak?"

"Wa'alaikumsalam cantik, kakak mau nanya, tapi jawab jujur ya!" Ucap Kak Faiz di sebrang sana.

"Lebay deh, ya tinggal nanya aja sih, susah amat,"

"Lo kenapa mau pindah dari sana?" Tanya kak Faiz, tapi tunggu kok dia tau sih? Pasti lagi ngumpul nih jam segini.

"Kok kakak tau? Kalian lagi ngumpul tanpa Tifah ya," ngambekku Kak Faiz malah tertawa, jika ngobrol sama kak Faiz entah kenapa aku menjadi anak manja.

"Sirik aja, udah sih tinggal jawab susah amat," ucapnya mengulangi perkataanku tadi. Dasar plagiat.

"Aku gak nyaman di sini kak, pertama gara gara aku selalu ketemu Idham, dan aku punya temen sekelas, yang ngingetin aku sama Ilham, terus... insiden Ilham keulang kak,"

"Insiden Ilham?"

"Kakak inget waktu SMP, aku pernah jadi bahan perbincangan satu sekolah, gara gara Fitnahan Agnes, nah itu ke ulang kak," ucapku mengutarakan alasan mengapa aku ingin pindah.

"Ya kali lo punya sahabat lagi, yang nusuk dari belakang, dengan cara ngefitnah, cuma gara gara cowo yang ia taksir deket sama lo gitu?"

"Siapa yang Fitnah, aku belum tau, dan bukan sahabat yang nusuk dari belakang, cuma gara gara cowo yang dia taksir deket sama aku, karena gak ada cowo yang lagi deket sama aku, ya kali kak udah gede, bukan SMP lagi," ucapku.

"Oke deh, yang udah gede, tapi masih nangis pengen pindah sekolah,"

"Hoek,"

"Udah malem Tif, kakak ngantuk, udah telfonnya ya? Assalamu'alaikum,"

"Wa'alaikumsalam,"

Mungkin aku harus tidur.

Sudah seminggu semenjak insiden itu, aku hanya mencurigai satu orang yang menurutku tidak mungkin melakukannya. Tapi gerak gerik dia mencurigakan, dan dia burubah 180 derajat kalo lagi ngomogin fitnahan itu.

Seminggu? Berarti besok jadwal aku cek sum sum tulang belakang dong?

Dengan segala keribetan yang aku jalani untuk izin ke rumah sakit, akhirnya disinilah aku di mobil Kak Faiz yang entah kenapa gak kuliah hari ini.

"Bolos kuliah ya? Bilangin ummi loh,"

"Kalo gue gak bolos kuliah, lo ke rumah sakit sendirian mau? Lagian gue minta izin, bukan bolos."

Boarding School [Editing]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang