"Aku udah siap!" seru Ara keluar dari kamarnya. Gadis itu hanya memakai celana jeans panjang dan baju blouse tanpa lengan. Ya, hari ini adalah kencannya dengan ayah yang tidak ingin diganggu ibunya.
Alara berkacak pinggang melihat tampilan putrinya. "Diluar mendung, takutnya hujan. Kamu pakai jaket ya? Nanti dingin loh."
"Kan naik mobil, Ma."
"Walau naik mobil, tetap saja harus menjaga diri biar nggak sakit." Alara masuk ke dalam kamar putrinya lalu memilih jaket yang cocok untuk dikenakan. "Ini, bagaimana?" tanyanya setelah mengambil jaket pink berbulu di bagian penutup kepala.
Ara mengangguk lalu mengambil jaket tersebut. Ia tidak langsung memakainya dan hanya menggantungnya di lengan. "Papa mana Ma? Kok lama?"
"Papa harus terlihat tampan jalan sama kamu. Jadi, Papa butuh waktu."
Ara mencibirkan bibirnya. "Papa nggak usah ngapa-ngapain juga udah ganteng, Ma. Dulu, aku pernah jalan sama Papa terus banyak cewek lirik-lirik Papa sampai minta disalamin ke aku."
"Masa?"
"Bener, Ma!" sahutnya antusias. "Untung aja Papa orangnya cuek."
"Wah, kalau begitu kamu harus jaga Papa biar nggak diambil orang nanti." Alara menjawab seakan ingin bersekongkol dengan putri tirinya.
Ara mengangguk. "Mama tenang aja. Nanti aku galakin semua cewek yang mau deket sama Papa."
"Toss!" Alara memberikan tangannya yang disambut baik oleh putrinya.
"Toss!"
"Apa itu toss-tossan?" tanya Adam yang hanya memakai baju kaos berwarna abu-abu gelap dipadukan dengan celana chino pendek berwarna hitam. Adam juga memakai sepatu everbest atan black yang mampu menggoda iman wanita.
Ara tersenyum melihat ayahnya. "Pa, Ara udah cantik belum?"
"Kamu cantik. Siapa yang dandani rambut kamu jadi keriting begini?"
Alara berdecak seketika. "Bukan keriting! Itu rambutnya aku blow biar bergelombang. Ya sudah, sana pergi hati-hati." Alara menatap putrinya. "Inget kalau hujan atau kedinginan jaketnya dipakai."
"Siap, Ma!" sahutnya dengan semangat empat lima.
Alara tersenyum sambil mencubit kedua pipi Ara dengan gemas.
"Salam Mama dong," tegur Adam pada putrinya.
Ara menyalami Alara. "Kami pergi dulu, Ma."
"Kamu mau nitip apa?" tanya Adam sambil menatap istrinya teduh.
Alara menggeleng. "Nggak deh, Mas. Tapi, kalau aku mau sesuatu nanti aku kabarin."
"Kalau ada apa-apa kabarin Mas."
Alara mengangguk. Adam mencium keningnya sebelum berkata. "Mas pergi dulu. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
"Bye, Ma." Ara melambaikan tangannya yang dibalas oleh Alara hingga keduanya menghilang dibalik pintu ruang depan.
***
Adam benar-benar menuruti keinginan putrinya untuk menghabiskan waktu weekend mereka berdua. Keduanya menonton, makan bersama, bahkan berbelanja.
"Pa, untuk dedek baru." Ara memperlihatkan sebuah baju berwarna kuning bergambar gajah.
"Itu untuk anak setahun, Sayang." Adam mengelus kepala putrinya. "Kita cari sepatu untuk sekolah kamu aja ya? Adik baru masih lama lahirnya. Nanti kalau Mama sudah dekat lahiran baru kita pergi berbelanja lagi."
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear, Mr. Duda
RomansCerita sudah tamat! Sudah tersedia versi Audio Book Pogo ya teman-teman :) Sinopsis, "Biar saya lihat," gumam Pak Adam membuat Alara terperanjat kaget tiba-tiba melihat dosennya sudah ada di sebelahnya. Mata teman-teman Alara kini menatap Alara p...
