Alara memilih untuk memakai gaun koktail sebatas lutut tanpa lengan berwarna hijau toska. Rambutnya sebahunya ia blow agar terlihat lebih rapi membuat penampilannya semakin menawan. Sementara Ara memakai ball gown berwarna putih dan rambutnya juga ditata sedemikian rupa oleh Alara hingga menyempurnakan tampilan putri kecilnya.
Sudah ramai yang datang dan Alara sedang membuat minuman untuk tamunya. Bahkan, Clara dan Abangnya juga hadir disana untuk merayakan.
"Kamu beneran ngundang Mamanya Ara?" tanya Clara saat ia membantu Alara untuk menyiapkan minuman buat para orang tua yang menemani anak-anaknya untuk menghadiri pesta Ara.
Alara mengangguk. "Aku nggak boleh egois. Ini hari kebahagiaan Ara."
"Tapi, Ra-"
"Nggak pa-pa kok." Alara menyela dengan cepat. "Ayo, bantu aku bawa ini ke belakang."
Clara menyerah, ia membantu Alara membawa minuman ke belakang. Masing-masing dari mereka membawa satu nampan lalu meletakkannya di meja dimana para orang tua berkumpul bahkan orang tuanya dan juga mertuanya sedang mengobrol menemani para orang tua lainnya.
Sementara para anak-anak kini sedang bermain-main di taman dekat kolam renang yang sudah dipagari agar tidak ada yang bisa masuk ke sana tanpa pengawasan orang tuanya.
Setelah memberikan minuman tersebut, Alara memilih ke depan untuk menemui suaminya yang mungkin sedang berbicara dengan Abangnya.
"Mas," panggil Alara membuat Adam yang sedang menyimak pembicaraan para orang tua itu menoleh.
Ia permisi sebentar lalu menghampiri istrinya. "Kenapa, Sayang?"
Alara memilih membawa suaminya menjauh. "Mas beneran tadi ajak Mbak Fira 'kan?"
Adam meletakkan kedua tangan di pinggang istrinya. "Iya. Kamu nggak percaya?"
"Kenapa belum datang?" tanya Alara lalu melirik pergelangan tangannya. "Udah jam delapan lho."
Adam mengendikkan bahunya. "Mas nggak tahu, lagi pula kalaupun dia nggak datang juga nggak masalah."
"Ya nggak bisa gitu dong, Mas." Alara melepaskan tangan suaminya dan hendak beranjak, namun tampaknya Adam enggan melepaskan istrinya. "Apa lagi?"
"Kamu cantik malam ini." Pria itu membelai rambut Alara dan membawanya ke belakang. Ia meninggalkan kecupan di leher jenjang Alara.
"Mas, jangan macam-macam."
Adam mengulum senyumnya lalu melepaskan istrinya. "Ayo, kita kesana."
Alara mengangguk dan membiarkan suaminya merangkul pinggangnya. Sesaat mereka kembali ke ruang tengah, Alara berhenti melangkah dan melihat Fira yang baru saja sampai tampak kebingungan.
"Mas, itu mbak Fira."
Adam mengikuti telunjuk Alara. "Ayo, kita samperin dia sama-sama."
Keduanya berjalan melangkah untuk menemui Fira.
"Mas Adam, Alara," panggilnya dengan senyumnya yang menawan seakan kejadian siang tadi bukanlah apa-apa.
"Kamu nggak sama Andre?"
Fira menggeleng. "Dia sibuk, Mas."
Alara tersenyum kecil lalu berkata. "Selamat datang, Mbak Fira. Ayo masuk, acaranya segera dimulai. Ara udah nungguin loh dari tadi."
Melihat kebaikan Alara membuat Fira merasa tidak nyaman. Namun, ia tetap mengangguk dan mengikuti pasangan suami istri itu menuju ke belakang.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear, Mr. Duda
RomanceCerita sudah tamat! Sudah tersedia versi Audio Book Pogo ya teman-teman :) Sinopsis, "Biar saya lihat," gumam Pak Adam membuat Alara terperanjat kaget tiba-tiba melihat dosennya sudah ada di sebelahnya. Mata teman-teman Alara kini menatap Alara p...
