Part 56

2.4K 123 9
                                        

"Gue ga akan ninggalin elo."

Jawaban aneh itu membuat suasana diantara mereka jadi sunyi seketika. Merasa dipermainkan Elisha menendang punggung Jimy yang masih setia berjongkok dihadapannya. Membuat dokter gadungan itu tersungkur mencium lantai.

Tulang punggung gua, keknya ada yang patah.

"Mampus, cepetan ntar para preman pada balik." Elisha ikut berjongkok dan menarik kaki Jimy yang sebenarnya masih terbaring di lantai.

Apa ia harus memotong kaki Jimy saja ya? Orang ini kan dokter pasti bisa melakukannya sendiri. "Amputasi aja ni kaki."

"Gila lo ya!" Dengan takut Jimy langsung merebut kakinya dari Elisha. Bisa-bisanya gadis itu memikirkan cara kejam dan tidak manusiawi untuk menyelamatkannya, tak heran Aldric menyukainya. Pikiran mereka berdua memang nyambung.

Elisha mengedarkan pandangannya keseluruh area rungan luas ini, yang ternyata berisi kardus-kardus. Beberapa sudah dilakban rapi dan sisanya masih terbuka menampakkan barang-barang yang kemungkinan besar dapat dijual kembali.

Seperti barang elektronik dan perhiasan. Jimmy benar ini tempat harta karun, pasti ini jadi tempat para preman itu mengumpulkan hasil jarahan mereka dari rumah-rumah penduduk yang kosong. Tak heran Dimas dapat mengumpulkan orang sebanyak itu. Pasti mereka juga dapat untung yang besar karena merampok rumah-rumah warga sebanyak ini.

Sebuah benda menarik perhatian Elisha. Jimmy masih mengawasi gerak-gerik manusia itu dengan waspada. Elisha mendekati tempat perkakas disimpan, ia menarik sesuatu dari sana yang tidak dapat dilihat oleh Jimmy.

Perasaan gue gak enak njirrr.

Dengan satu tarikan, Elisha membawa sebuah kapak ditangannya. Terlihat baru di asah karena bagian yang tajam sudah mengkilap bagai baru.

Tuh kan bener.

"Ampun Sha pliss jangan gitu." Mohon Jimy berusaha menyeret kakinya mencoba menjauh, namun tentu rantai dikakinya akan menahan Jimy tetap diam.

"Ga usah drama." Elisha mengayunkan kapaknya diudara, membuat Jimy menahan nafas dan memejamkan matanya rapat-rapat.

Percobaan pertama meleset, kapaknya tidak mengenai rantai namun malah membuat retak lantai disampingnya. Jimmy memberanikan diri membuka matanya setelah mendengar suara besi beradu dengan lantai. Ia sempat berfikir Elisha akan sama gilanya seperti Aldric untunglah ia hanya ingin memotong rantainya.

"Et bentar agak jauh an dari kaki gue." Khawatir Jimy.

"Bawel." Ayunan kedua, kena. Tapi ternyata memecah rantai dengan kapak tidak semudah yang ia kira. Mungkin karena efek sudah kelelahan juga.

Jimy merebut kapak yang dipegang Elisha. Para penjahat itu hanya memasang rantai pada kaki kanan Jimy saja, ia bisa mendapatkan cukup ruang untuk mengayunkan kapak. Terdengar tarikan nafas Jimy yang terdengar sangat serius.

Elisha hampir tersedak tawanya sendiri, ia tak menyangka Jimy akan se konyol itu saat sedang serius. Jimmy mengayunkan tinggi kapaknya diatas kepala, ia kembali menghirup nafas panjang. Dan pada percobaan pertamanya, rantai itu langsung putus.

Elisha membuka mulutnya terheran. Ia tak menyangka Jimy yang agak kurusan ini sekuat itu. Elisha lebih terkejut karena rupa Jimy jadi lebih parah.

Seolah tadi adalah semua kekuatan yang dikeluarkannya. Urat leher dan lengannya bermunculan. Wajah sampai kuping pria itu memerah dan keringatnya sudah seperti baru berlari dari amukan masa. Parah sekali.

"Dah ayo kabur." Ajak Elisha, gadis itu menarik tangan Jimy yang lunglai. Menjatuhkan kapaknya sembarangan.

Membawa pria itu keluar dari tempat mereka bersembunyi. Sunyi, tidak ada lagi suara adu tembak yang mencekam.

He's a Psychopath ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang