Part 41

11.7K 540 68
                                    

[ flash back masa kecil Elisha dan Dimas ]

Dimas POV

       Sudah tiga hari ini aku resmi berteman dengan seorang gadis yang menarik perhatian ku. Dia agak cuek dan galak tapi itulah yang membuatnya berbeda. Namanya Elisha.

       Gadis yang manis menurutku, Elisha sangat suka menyendiri dan selalu menghindari keramaian sama sepertiku. Aku rasa kami memiliki banyak kesamaan dan sialnya aku jadi memiliki hobi lain yaitu mengikutinya.

"Berhentilah mengikutiku." Seru Elisha yang sedang duduk di bangku taman sambil membaca buku.

"Hehe bagaimana kau tau aku mengikuti mu." Tanya Dimas sambil keluar dari semak-semak.

"Kau terlalu berisik Dimas. Berhentilah menginjak ranting atau daun kering kalau ingin jadi penguntit yang hebat." Sinis Elisha.

"Jadi kau ingin aku selalu mengikuti mu." Goda Dimas.

"Hei-hei aku hanya memberi saran."

"Kau ini galak sekali Elisha." Ucap Dimas sambil duduk disebelah Elisha kecil.

"Tumben kau tidak pakai kacamata konyol itu." Ejek Elisha.

"Aku sedang mencoba mengikuti kata mu saja. Bagaimana penampilan ku?." Tanya Dimas dengan bersemangat.

       Elisha menutup buku yang sedang ia baca dan mulai memperhatikan wajah Dimas.

       Dimas terlihat sangat berbeda, ia sudah tidak terlihat culun wajahnya yang dihiasi lesung pipi membuatnya terlihat sangat manis. Rambutnya juga tertata dengan baik tidak seperti kemarin-kemarin yang cenderung terlihat klimis.

"Lebih baik, kau jadi anak manis sekarang." Jawab Elisha sambil membuka kembali bukunya.

"Kau lebih manis." Ucap Dimas lirih.

"Hah? Apa?."

"Tidak-tidak maksud ku aku memang anak yang manis kan."

"Terserah lah." Acuh Elisha.

       Tanpa sengaja Dimas melihat lengan Elisha yang terdapat bekas luka memar yang memanjang.

"Tanganmu kenapa?!." Tanya Dimas panik.

       Elisha yang terkejut justru mencoba untuk menyembunyikan lengannya.

"Eeemmm aku harus kembali hari mulai petang." Ucap Elisha dengan tergesa-gesa.

"Tapi ini masih jam tiga."

"By Dimas." Ucap Elisha sambil berjalan cepat menjauh dari taman.

"Dia tidak pernah mengucapkan 'by' sebelumnya." Heran Dimas.

       Beberapa menit berlalu tapi Dimas tidak kunjung beranjak. Ia masih ingin menikmati hembusan angin sore yang meniup rambutnya.

"Kau disini Dimas." Ucap seseorang lelaki dewasa berpakaian serba hitam.

"Ada apa." Ucap Dimas dengan malas.

"Kau perlu melakukan tugasmu kalau masih ingin bisa melihat gadis itu."

"Jangan bawa-bawa dia dalam masalahku Jack." Seru Dimas.

"Kenapa hmm? kau menyukainya kan, sudah tiga hari ini kau tidak kembali ke basecamp. Ini semua karena gadis itu kan." Seru lelaki bernama Jack itu.

"Berhentilah mengoceh dan ayo pergi." Geram Dimas.

       Aku sebenarnya sudah muak dengan Jack dan komplotannya, tapi aku tidak bisa melakukan apapun untuk saat ini yang bisa aku lakukan hanya menuruti perkataan nya saja.

     Bila kalian bertanya dimana kedua orang tua ku, jawabnya adalah aku sendiri tidak tahu. Sejak kecil aku sudah di asuh oleh orang yang berbeda-beda sampai akhir nya di bawa oleh Jack dan kelompoknya.

       Sedangkan Jack sendiri adalah ketua dari perkumpulan rahasia yang biasa membobol bank.

       Dan tugas ku adalah meretas sistem keamanan bank.

       Mungkin karena IQ ku yang lebih tinggi dari rata-rata orang membuat Jack dan kelompoknya memanfaatkan ku. Mereka memaksa otakku untuk mencerna semua hal yang berkaitan dengan peretasan sampai membuatku hampir gila dan untuk pertama kalinya aku membunuh seorang pejalan kaki dan rasanya sangat lega.

       Aku mulai terbiasa dengan dunia kejahatan yang diperkenalkan oleh Jack dan aku juga mulai menyadari bahwa semua orang itu jahat dan pantas mendapat sedikit penderitaan.

"Hai Dimas kemana kamu tiga hari belakangan ini?." Tanya seorang anak laki-laki seusia Dimas.

"Bermain"

"Sebaiknya ada perkembangan hari ini atau kau akan di hukum, mengerti Dimas." Ucap Jack

"Iya-iya aku mengerti."

       Saat ini kami berada di sebuah gudang terbengkalai yang disulap oleh Jack menjadi basecamp sementara. Aku bilang sementara karena kami selalu berpindah-pindah untuk menghindari alamat IP kami dilacak.

       Aku masih berusaha dan belajar karena meski ini kadang membuat ku tertekan tapi ini sangat seru bagiku seperti bermain game. Mungkin tidak seseru membunuh orang tapi ini lah hidupku.

       Setelah membunuh dan bermain komputer hoby baru ku adalah menguntit gadis itu. Dia benar-benar membuatku penasaran.

Dia adalah gadis yang manis. Batin Dimas sambil tersenyum miring







Yo wattsap gaes 🤗

Maap ya hampir tiga bln lebih author ga up, ini di karenakan emosi author yg naik turun ga jelas awokawok.

Tpi kalian tenang aja , meski kelihatannya kaya cerita "hi is psikopat" udh mo mati karena ga pernah up tapi author yakinin sekali lagi bahwa cerita ini akan tetap lanjut meski lama ga up, jdi sabar gaes.

Utk typo" yg bertebaran mohon dimaklumi.

Vote ✨ & coment 💌 nya gaessss...



See you next time all........

He's a Psychopath ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang