***
Pagi pertama di kereta. Mataharinya terbit perlahan, sinarnya menelusup masuk melalui jendela kaca di sisi kanan dan kiri gerbong. Sinarnya langsung membangunkan mereka di ranjang bawah, sedang orang-orang yang tidur di ranjang atas berhasil melindungi mata mereka dari serangan mentari pagi. Jiwon berbalik, memunggungi Sungkyung untuk menatap dinding, menghindari sinar matahari yang mengganggunya. Sementara Sungkyung mulai bangun, mulai membuka matanya dan bersiap untuk bersenang-senang.
Begitu bangkit, Sungkyung meraih botol air di sebelah ranjangnya, di atas meja kecil, di sebelah stop kontak juga kipas angin portabel. Ia tenggak air mineral dalam botol tanggung itu, kemudian melamun, menatap punggung Jiwon, menatap punggung Mino, juga menatap punggung Lisa yang masing-masingnya terlelap menghadap dinding.
Sungkyung menguap, menutup mulutnya dengan lengan panjangnya lantas mulai bangkit. Ia ambil peralatan mandi mereka— yang sengaja dijadikan satu untuk menghemat tempat— kemudian pergi mencari toilet untuk menggosok giginya, cuci muka, buang air dan memoles sedikit make up. Setidaknya gadis itu perlu sunscreen untuk melindungi wajah cantiknya dari sinar matahari.
Sungkyung berjalan ke arah kamar mandi semalam, ia lewati lorong sempit yang penuh manusia terlelap. Sesekali ia harus menyamping, menghindari kaki beberapa orang tinggi yang mencuat sampai ke lorong. Di sini, ternyata ia tidak setinggi itu. Saat tidur, kakinya tidak sampai mencuat keluar dari ranjang. Berdiri di depan dispenser air panas, Sungkyung terdiam. Menoleh ke kanan, ke kiri, mencari toilet yang sekarang ia butuhkan. Namun tidak ada toilet di sana. Toilet ada di sisi gerbong lainnya.
Menyadari kesalahannya, Sungkyung kembali menyusuri lorong. Ia temukan toiletnya, kemudian berhasil menyelesaikan urusannya di sana. Saat kembali dari toilet, suasana masih sama. Semua orang masih terlelap. Kesepian akhirnya membuat Sungkyung kembali berbaring di ranjangnya, sesekali ia menguap dan perlahan-lahan mulai memejamkan lagi matanya. Hangatnya matahari pagi, membuatnya kembali ingin tidur.
Sementara Sungkyung terlelap, orang kedua terbangun. Kali ini Jiyong. Pria itu duduk di ranjangnya, hanya sebentar sebab ia harus membungkuk kalau duduk di sana. Tempatnya sempit karena ada bagasi barang di atasnya. Pelan-pelan ia turun dari ranjangnya, berusaha tidak mengganggu siapapun dan duduk di kursi, di bawah ranjang Lisa.
Sama seperti Sungkyung, Jiyong meminum air dari botol di atas meja, di sebelahnya. Ia melamun untuk beberapa menit, kemudian berdiri, mengambil tas peralatan mandi yang Sungkyung taruh di meja sebelah ranjangnya dan pergi ke toilet. Masih sama seperti Sungkyung, Jiyong pun mengambil arah yang sama, ke arah dispenser air. Pria itu kebingungan mencari toilet kemudian tersadar kalau ia berjalan ke arah yang salah.
"Kami membawa satu peralatan mandi untuk dipakai bersama-sama," cerita Jiyong pada kamera kecil yang sengaja ia bawa ke kamar mandi. "Lisa yang membeli semuanya, semuanya baru. Sikat gigi kuning milikku, pink milik Lisa, putih milik Jiwon hyung, hitam milik Mino dan biru milik Sungkyung," susulnya, mengeluarkan sebuah tabung kecil berwarna kuning yang di dalamnya ada satu sikat gigi kuning. "Saat membeli sikat giginya, Lisa bertanya padaku, oppa aku harus membeli sikat gigi dewasa atau sikat gigi anak-anak? Chaeng biasanya memakai sikat gigi anak-anak, begitu katanya. Lalu aku bilang terserah padanya dan dia benar-benar membeli sikat gigi anak-anak. Anggap saja dia sengaja melakukannya untuk menghemat tempat, meski alasan sebenarnya karena ia penasaran bagaimana rasanya memakai sikat gigi anak-anak. Tidak buruk, tapi aku butuh waktu lebih lama untuk sikat gigi," oceh Jiyong, sembari menggosok giginya dengan sikat gigi kuning berkepala mini, khusus untuk anak-anak.
"Kalau shampoo, Lisa membawa shampoo yang biasa Jennie pakai. Ceritanya, Lisa lupa membeli shampoo, atau dia mengira kami tidak perlu keramas selama dua minggu? Pokoknya, beberapa jam sebelum pergi ke bandara, Lisa lupa membeli shampoo-nya, dan kebetulan dia bertemu dengan Jennie. Kebetulan juga, Jennie punya shampoo di mobilnya. Kebetulan aku tahu semua itu, aku terlihat seperti fans Blackpink, 'kan?" ocehnya, hanya berhenti ketika ia buang air kemudian mematikan kameranya.
Semua orang tetap tidur bahkan setelah Jiyong kembali dari toilet. Pria itu kembali duduk di kursi, di bawah ranjang Lisa. Ia mengambil handphonenya dari ranjangnya, bermain dengan benda kecil itu meski tidak ada sedikit pun sinyal yang terdeteksi. Masih ada beberapa aplikasi di handphonenya yang tidak butuh sinyal dan internet.
Kereta perlahan-lahan berhenti. Mereka tiba di salah satu stasiun. Dari total 126 stasiun yang akan mereka lewati, untuk pertama kalinya mereka berhenti di stasiun ini. Penasaran dengan suasana di stasiun itu, Jiyong kemudian bangkit dari duduknya. Ia hentikan aktivitasnya— bermain catur di handphonenya— menyimpan kembali benda perseginya dan melangkah keluar dari kereta.
Udara lebih sejuk di peron daripada di dalam kereta. Mereka berhenti di sebuah kota kecil sekarang, udaranya terasa begitu segar, begitu basah seolah ada banyak embun pagi di sana. Bukan hanya Jiyong, beberapa penumpang lainnya pun turun. Hanya dengan beberapa lembar uang dan handphone di sakunya, pria itu sedikit berjalan-jalan, bertemu dengan beberapa pedagang makanan dan menimbang-nimbang, haruskah ia membeli sedikit sarapan untuk mereka?
Merasa kalau harga beberapa potong roti isi sosis tidak lah begitu mahal, Jiyong membeli lima potong roti juga sebotol air dingin. Tidak langsung kembali ke tempat duduknya, Jiyong masih asik mengamati suasana sejuk juga hangat di peron. Pria itu terlalu asik melihat-lihat sampai seorang kondektur kereta menegurnya, mengatakan kalau kereta akan segera berangkat.
Saat Jiyong kembali, semua orang sudah bangun dan Mino tidak ada di sana. Lisa duduk di tepian ranjang Sungkyung, sengaja membungkuk dan memeluk Sungkyung yang sedang berbaring, membaca naskahnya. Jiwon duduk di depan mereka, di atas ranjangnya sendiri dengan wajah malas, super mengantuk.
"Mana Mino? Keretanya akan berangkat," tanya Jiyong, kembali duduk di kursi di bawah ranjang Lisa. Ia letakan belanjaannya di atas meja kemudian mengatakan kalau ia membeli beberapa roti di peron tadi.
"Toilet," jawab Lisa. "Eonni, ajari aku akting," susulnya, bicara pada Sungkyung yang ia peluk.
Mendengar kalau Jiyong sudah membelikannya roti, Lisa melepaskan Sungkyung. Ia bangkit dari ranjang kecil itu lantas duduk di hadapan Jiyong. Lisa berbicara sembari melangkah pindah tempat duduk, "kenapa dia memisahkanku dari paman? Kenapa?! Memangnya apa salahku?! Aku hanya belanja! Kenapa?!" katanya, mengikuti akting berlebihan Sungkyung saat menjadi Baek Inha dalam Cheese in The Trap.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Trans Siberian Pathfinders (YG's Version)
FanfictionK-Ocean Pathfinder YG's Version Season 2.
