4

1.3K 237 14
                                        

***

Bus nomor 107 tidak terlalu besar. Tidak seperti bus-bus lainnya di halte itu. Sementara Jiwon membayar ongkos busnya, Lisa dan Mino sudah duduk manis di kursi bus itu. Mereka sudah menaikan tas mereka ke bagasi di atas kepala mereka dan duduk sembari memotret. Mino yang duduk di dekat jendela memotret bandara di sebelah mereka. Sedang Lisa memotret Jiyong juga Sungkyung yang berjalan mendekati mereka.

"Oppa, pose!" seru Lisa, membuat Jiyong menjulurkan lidahnya, asal berpose. Lisa terkekeh sembari mengambil fotonya, kemudian membuat permintaan yang sama pada Sungkyung. "Eonni, pose!" ulangnya, membuat Sungkyung tersenyum cantik sembari mengibaskan rambutnya. "Good! Fotonya bisa untuk iklan ransel! Perusahaan yang buruh fotonya, bisa menghubungiku di kantor YG," komentar Lisa, yang selanjutnya bangkit, memberikan kameranya pada Mino dan membantu Sungkyung menyimpan tasnya.

"Oh! Oh! Ada G-One Sechskies, kamera! Kamera!" serunya kemudian, meraih kameranya untuk memotret Jiwon yang baru saja masuk. Ia tinggalkan Sungkyung yang kini di bantu Jiyong untuk mengurus ranselnya. "Oppa, pose! Pose!" seru Lisa, namun dengan canggung Jiwon hanya berdiri di tempatnya.

"Lisa, apa kau baru minum doping? Bersemangat sekali," komentar Jiwon. "Ya! Siapa yang memberinya doping?" susulnya, menuduh Jiyong, Sungkyung juga Mino.

"Aah... Ada apa denganmu, oppa? Ini liburan pertama kita oppa, kita harus bersemangat," balas Lisa, membuat Jiwon yang baru saja meletakan tasnya di lantai bus sedikit menari, ikut bersemangat. Bergoyang seperti bagaimana Lisa bergoyang.

"Banyak bergerak dan banyak makan, iya kan? Itu yang kau inginkan, bukan?" balas Jiwon sembari menari, membuat Sungkyung sedikit terkejut melihatnya.

"Apa kita benar-benar boleh bersikap begitu?" tanya Sungkyung, khawatir pihak agensi akan memarahi mereka. Gadis itu jarang sekali ikut serta dalam acara ragam.

"Tidak apa-apa, noona, selama lucu," balas Mino. "Tapi noona tidak menonton season sebelumnya sampai selesai ya?"

"Tidak," geleng Sungkyung sembari terkekeh, ia ambil tempat Lisa untuk duduk di sebelah Mino, sedang Lisa duduk berdua dengan Jiwon di depan Jiyong yang duduk sendirian. "Aku melihat video kalian jadi mentor. Ada Jiyong saat acara Winner dan iKon waktu itu. Lalu ada Lisa juga, ternyata Lisa lebih mengerikan dari Jiyong. Wajahnya saat jadi mentor... Augh! Menakutkan!" oceh Sungkyung. "Kalau jadi anak-anak yang dilatihnya, aku mungkin akan menangis. Don't sleep! Don't go to bed! Begitu katanya, Jiyong tidak ada apa-apanya," Sungkyung coba menirukan sepotong gaya mentoring Lisa yang menurutnya mengerikan.

"Heish!" seru Mino, juga Lisa hampir bersamaan. "Jiyong hyung lebih kejam!" susul Mino, yang Lisa setujui dengan anggukan bersemangat. Lisa dan Jiwon duduk menyamping agar bisa menatap orang-orang di belakang mereka. Namun karena posisinya yang tidak begitu nyaman- karena kakinya menyentuh paha Lisa- Jiwon bangkit dan pindah ke sebelah Jiyong.

"Eonni tahu apa yang Jiyong oppa katakan Seungri oppa?" susul Lisa. "Kau sakit? Kau lelah? Kalau begitu, tahan. Semua orang juga sakit, semua orang juga lelah. Dia mengatakan itu tanpa ekspresi sama sekali. Saat acara Win : Who's Next itu, Jiyong oppa memakai kacamata hitam kan? Eonni tahu kenapa dia memakai kacamata? Karena kalau dia menunjukan matanya, anak-anak yang dilatihnya bisa buang air di celana saking takutnya."

"Wahh... Banyak sekali MSG-nya, Lisa," komentar Jiyong mendengarkannya cerita tentangnya.

"Tapi sungguhan, hyung," Mino setujui cerita Lisa. "Saat masih trainee, aku takut sekali saat bertemu denganmu. Lebih takut daripada saat bertemu Yang Sajjangnim. Rasanya seperti... Bagaimana ya? Tatapanmu terlalu tajam sampai rasanya bisa menusuk jantungku. Lalu saat kau melihat hasil latihanku, atau mendengarkan lagu yang baru aku kerjakan, rasanya seperti... Baru saja ditelanjangi? Aku malu dan takut."

"Ya! Kalian berdua terlalu berlebihan!"

"Karena itu, kalau ditanya, kapan Jiyong oppa terlihat paling tampan? Aku akan bilang, saat dia memakai kacamata hitam," oceh Lisa, mengabaikan Jiyong.

"Memang ada yang pernah bertanya begitu padamu?" tanya Jiwon dan Lisa terkekeh sembari menggelengkan kepalanya.

"Tidak," tawa Lisa. "Tidak ada yang penasaran dengan pendapatku," susulnya.

Tiba di stasiun, mereka turun dari bus itu. Kembali melakukan aktivitas yang sama- saling membantu memakai ransel lantas melihat sekeliling. Penginapan mereka ada di dekat stasiun itu, namun Jiwon yang mencari akomodasinya kesulitan menemukan penginapan itu.

"Jiwon hyung tidak bisa membaca GPS," celetuk Mino, tiga menit setelah mereka berjalan mengikuti Jiwon. Namun alih-alih menatap Jiwon dan kebingungannya, Jiyong dan dua gadis di sana justru menatap Mino dengan tatapan kesal.

"Kenapa kau baru bilang sekarang?!" sebal Jiyong, sedang Jiwon tidak menyadarinya. Pria itu berjalan di depan, melangkah lebih dulu untuk menunjukkan jalan yang bahkan tidak ia yakini. "Jiwon hyung! Aku lihat GPS-nya," seru Jiyong, berlari kecil menghampiri Jiwon sedang Lisa dan Sungkyung justru mencibir Mino. Tiga menit berjalan dengan ransel berat itu sama lelahnya dengan satu jam latihan menari.

Kini Jiyong yang menunjukan jalan, sedang Mino hanya terkekeh, senang setelah menjahili teman-temannya. Juga senang setelah berhasil mengejek Jiwon. Mereka kembali berjalan, dan setelah delapan menit mereka berlima tiba di penginapan yang Jiwon pesan. Jarak penginapan itu dari stasiun kereta hanya lima menit, namun karena Jiwon salah menunjukan jalan mereka jadi harus berjalan memutar.

Tiba di penginapan, mereka langsung melepaskan ransel masing-masing. Lisa luar biasa antusias dengan penginapan mereka, begitu juga dengan Sungkyung. "Aku ingin ranjang di atas!" seru Lisa juga Sungkyung hampir bersamaan.

Mereka menginap di sebuah guest house, dimana pemiliknya bukan menyewakan kamar tapi ranjang. Mereka punya beberapa kamar. Kamar untuk satu orang, kamar untuk empat orang dan kamar untuk enam orang. Malam ini Jiwon memesan lima kamar, hingga mereka diantar ke sebuah ruang berisi tiga ranjang tingkat. Tiap ranjangnya punya tirai di keempat sisinya, sebuah bantal, satu guling juga satu lampu baca dan selembar selimut. Tirai-tirai itu bisa ditutup untuk menjaga sedikit privasi tamu-tamunya. Sedang toilet ada di ujung lorong, dua toilet di tiap lantai— untuk wanita dan pria. Tiap toiletnya punya empat bilik untuk mandi juga buang air, sebuah cermin juga dua westafel.

"Satu ranjangnya kosong?" tanya Jiyong dan Jiwon mengiyakannya.

"Kebetulan kosong," jawab Jiwon, sudah lebih dulu memilih ranjang yang paling dekat dengan pintu. "Tasnya bisa disimpan di sana," susul Jiwon, menunjuk enam buah loker besi di sudut ruangan. Ada kunci di tiap lokernya, jadi mereka bisa mengambil kunci itu untuk memastikan barang-barang mereka tetap aman.

"Mino oppa, tolong ranselku, punggungku sudah lengket di sini," pinta Lisa, yang sudah berbaring di ranjangnya— di atas.

"Mino-ya, ranselku juga," susul Sungkyung, yang berbaring di ranjang sebelah milik Lisa.

"Kalian tidak mandi dulu?" komentar Jiyong, mengambil tempat di bawah Sungkyung.

"Tidak. Sudah cantik," singkat Sungkyung, menutup tirai ranjangnya untuk segera beristirahat.

***

Trans Siberian Pathfinders (YG's Version)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang