***
Dari danau Baikal, perjalanan kembali dilanjutkan. Kelimanya kembali ke stasiun, kembali naik kereta dan melanjutkan lagi perjalanan mereka. Tujuannya kali ini Moscow. Pukul dua pagi, di dalam kereta, seorang petugas kereta itu membangunkan Sungkyung. Petugasnya perempuan dan ia menyentuh bahu Sungkyung untuk membangunkannya. Dalam bahasa Inggris, petugas itu berkata kalau mereka akan tiba di Moscow sebentar lagi. Dua jam lagi perjalanan mereka akan berakhir di stasiun tengah kota Moscow.
Petugas tadi memeriksa tiket Sungkyung, lantas gadis itu mengatakan kalau ia bersama orang-orang di depannya. Mengatakan kalau ia yang akan membangunkan empat orang lainnya. Lepas petugas tadi pergi, Sungkyung berdiri di tengah antara ranjangnya juga ranjang Jiwon. Gadis itu meregangkan tubuhnya, baru setelah itu ia membangunkan Jiwon, kemudian Jiyong lalu Mino.
Merasa kalau suasana gerbong mulai berisik, Lisa bangun dengan sendirinya. Gadis iru membuka matanya kemudian merasakan seseorang menepuk-nepuk bokongnya yang tertutup selimut. "Lisa-ya, bangun, sebentar lagi kita sampai," suara Sungkyung membangunkannya, menepuk dan mengusap bokongnya beberapa kali.
Perlahan, Lisa yang sudah membuka matanya bergerak, berbalik untuk melihat keadaan di sekitarnya. Sama sepertinya, tiga pria lain di depannya pun masih ada di ranjang masing-masing. Sama sepertinya, ketiga pria itu pun sedang mengumpulkan kesadarannya. Beberapa kali Lisa mengerjap, dan beberapa kali juga ia melihat Jiyong melakukan hal yang sama.
Suara batuk dari ranjang lain menarik perhatian Lisa, membuatnya menoleh untuk melihat siapa yang batuk—Song Mino. Pria itu tidak sakit, ia hanya batuk karena tenggorokannya yang kering. Bersamaan, ketiga orang di ranjang atas itu perlahan-lahan turun. Sungkyung sebelumnya membungkuk, mengambil peralatan mandi mereka di bawah ranjangnya.
"Aku ke toilet dulu," kata gadis itu, pergi melakukan rutinitas paginya ke toilet.
Lisa kini duduk di kursi, di bawah ranjangnya. Jiyong bergabung dengannya dan Mino duduk di ranjang Sungkyung. Pria itu akan berbaring lagi di sana, namun alarm di handphone Sungkyung membuatnya kembali bangun. Handphone gadis itu diletakkan di sebelah bantal, suaranya mengejutkan Mino yang akan berbaring.
Mino mematikan alarm itu, menghela nafasnya lantas mengambil sebotol air di atas meja. Menenggaknya dengan rambut yang masih berantakan. Di kursi, Lisa melamun, begitu juga dengan Jiyong di sebelahnya. Jiyong bersandar pada jendela kereta, sedang Lisa menekuk lututnya di atas kursi, menumpukan kepalanya ke lekuk lututnya, sesekali menguap.
Alarm kedua berbunyi, kali ini dari handphone Mino. Membuat sang pemilik harus berdiri untuk mencari handphonenya, mematikan juga alarmnya. Tidak berselang lama, alarm ketiga berdering, disusul alarm keempat dan kelima, namun kali ini Mino enggan untuk mematikannya. Pria itu memilih untuk mengabaikan alarm dari handphone Jiyong juga Lisa yang ada di ranjang masing-masing.
"Hyung, ada telepon dari kekasihmu," Mino berkata, mengulurkan handphone Jiyong yang masih berdering karena alarm.
"Wah... Semoga sungguhan," balas Jiyong, menerima handphonenya lantas mematikan alarmnya dan meletakkan handphonenya di atas meja.
Jiwon mematikan alarmnya dengan sedikit gerakan tangan, sebelum kemudian ia menutup kepalanya dengan bantalnya. Ingin kembali tidur. Di saat yang sama, Lisa akhirnya berdiri, meraih sendiri handphonenya dan mematikan alarmnya. Gadis itu meregangkan tubuhnya, lalu menenggak air dari botolnya. Baru setelah itu Lisa bangun dari tidurnya dan mulai bergerak.
Lisa memulai aktivitasnya dengan merapikan ranjang. Lalu mengumpulkan beberapa sampah makanan di atas meja. Memasukannya ke dalam kantong, lalu mengikatnya. Akan ia buang setelah Sungkyung kembali nanti. Tanpa bicara, Jiyong mengikutinya. Begitu juga dengan Mino. Pagi ini, mereka masih terlalu mengantuk untuk bicara tapi kereta hampir sampai di stasiun. Meski mengantuk, mereka harus merapikan barang bawaan mereka.
Baru setelah mereka keluar dari kereta, di Moscow, Lisa berseru. "Akhirnya sampai juga! Kemana kita setelah ini?" tanyanya, merangkul lengan Mino, juga lengan Sungkyung dengan kedua tangannya.
"Penginapan," kata Jiyong. "Setelah itu, kita pikir nanti," susulnya, meski semalam sudah membuat rencana, otaknya belum bisa mengingat semuanya. Matahari belum terbit ketika mereka tiba di Moscow. Semuanya kelelahan, meski sudah tidur semalaman di kereta yang bergerak.
***
"Moscow!" pukul sepuluh, suara ceria Lalisa Manoban baru terdengar. Mereka menginap di sebuah flat dengan dua kamar tidur, satu kamar tidur dengan ranjang king size untuk para pria, dan kamar tidur yang lebih kecil untuk para wanita. Begitu bangun, dan sedikit mengganggu Sungkyung dengan suaranya, gadis itu melompat turun dari ranjang. Bergegas pergi ke kamar mandi lalu bersiap.
Ia sangat bersemangat hari ini, dan alasannya sederhana—mereka akan pergi berbelanja. Besok sore, mereka akan mengakhiri liburan itu dan hari ini ia bisa berbelanja. Mereka pun akan kembali dengan pesawat, ia tidak lagi khawatir harus menggendong belanjaannya dengan ransel. Sembari bersenandung, gadis itu merias wajahnya di ruang tengah.
Sudah mandi, sudah bersiap, bahkan sudah makan sepotong roti dan membuat kopi. Lisa sudah siap untuk pergi, namun pelancong lainnya belum menunjukkan tanda-tanda keberadaan mereka. Tidak ada suara apapun dari kamar para pria, bahkan Sungkyung masih sangat nyenyak di ranjangnya.
"Lagi-lagi aku bangun pertama," kata Lisa, bicara pada kameranya. "Padahal aku sudah berisik sedari tadi, tapi mereka sama sekali tidak terganggu. Mungkin karena sudah terbiasa tidur di kereta? Atau mereka memang sengaja mengabaikanku?" cerita gadis itu, masih pada kameranya.
"Apa oppa eonni di flat sebelah sudah bangun? Ah... sutradara dan yang lainnya tinggal di flat sebelah," ocehnya. "Kami ada di pusat kota Moscow sekarang... Lihat pemandangannya, antik dan cantik sekali kan? Tadi pagi aku belum sempat berkeliling karena lelah sekali," ia tidak berhenti bicara, tidak juga berhenti bergerak.
Dua puluh menit gadis itu mengajak kameranya melakukan tur singkat. Berkeliling di flat kecil yang ia tinggali, lalu menunjukan pintu flat lain yang dihuni sutradara juga staff-staff lainnya. Lalu menunjukan pintu liftnya. "Aku ingin menunjukkan pemandangan di luar, tapi aku takut pergi sendirian. Bagaimana kalau aku tersesat dan tidak bisa kembali? Jadi aku tunjukkan pemandangan di luar lewat jendela saja," ia tidak berhenti, kembali masuk ke dalam flatnya lalu berdiri di depan jendela, merekam sedikit pemandangan yang terlihat dari sana. "Tidak ada balkon di sini, tapi lihat jalanannya sepi, dan gedung-gedungnya cantik sekali. Aku suka pemandangan yang seperti ini," katanya.
Pukul sebelas dan yang lainnya masih tidur. Lisa sudah melakukan semua yang bisa ia lakukan sendirian, dan sekarang gadis itu bosan. Ia duduk di ruang tengah flatnya, memeluk lututnya, sembari bersandar pada sandaran sofa. Sesekali ia menghela nafasnya dengan keras, berharap seseorang mendengarnya lalu bangun. Lebih dari sepuluh menit gadis itu duduk bosan di sana, sampai akhirnya ia dengar pintu kamar para pria terbuka. Jiwon yang bangun dan ia terkejut melihat Lisa menatap keji padanya. Pria itu sedikit melompat, lalu membentur pintu karena kaget.
"Ya! Kau membuatku takut!" seru Jiwon, yang awalnya masih setengah sadar, kini langsung sepenuhnya sadar.
"Kenapa baru bangun?" tanya Lisa, menatap tajam tanpa merubah posisinya, seolah tengah mengancam Jiwon, marah karena kesepian. "Sudah jam berapa ini? Kenapa baru bangun?" ulangnya, tetap dengan nada kesal yang sama.
"Yang lain masih-"
"Karena itu, kenapa semuanya masih tidur? Kapan kita jalan-jalan?!" serunya, merengek dengan suara yang lebih tinggi.
"Baiklah, baiklah, sepuluh menit lagi- tidak... Satu jam lagi kita berangkat," ucap Jiwon, seketika ingat kalau mereka harusnya pergi dari flat itu di pukul sebelas siang, sebelum jam makan siang.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Trans Siberian Pathfinders (YG's Version)
FanfictionK-Ocean Pathfinder YG's Version Season 2.
