13

891 202 15
                                        

***

Pagi di Stasiun Mogocha diguyur hujan. Kelima pelancong itu sudah bangun sejak dua puluh menit lalu, mereka sudah duduk-duduk menikmati kopi pagi. Lisa sibuk memotret. Ia potret Jiyong yang menguap, ia potret Mino yang menggaruk bagian belakang pinggangnya, ia potret Jiwon yang melamun dengan wajah bengkaknya dan ia potret Sungkyung cantik yang menikmati kopi paginya.

"Eonni seperti seorang putri yang terperangkap bersama para gelandangan," kata Lisa, sembari mengarahkan kameranya dari wajah Sungkyung yang sudah mandi ke wajah tiga pelancong lain yang bahkan belum membasuh wajah mereka. "Kurasa mereka bertiga lupa kalau mereka public figure," susulnya, mengomentari wajah bengkak, malas dan menyedihkan pria-pria di sana. "Kapan mereka akan punya pacar kalau wajahnya masih begitu bahkan di depan kamera?" cibir Lisa, seolah tiga pria di sana tuli dan tidak akan bisa mendengarnya.

"Aku mendengarnya dan aku punya pacar, dia selalu menghubungiku meski aku tidak membalasnya," balas Mino, melempar selembar handuk yang mereka jemur di besi pembatas ranjang agar tidak terlalu lembab kemudian berjamur.

"Siapa yang menghubungimu setiap hari meski tidak kau balas?" tanya Sungkyung, yang duduk di kursi, di bawah ranjang Lisa sembari menaikan kaki kanannya ke atas kaki kirinya. Tangannya memegang secangkir kopi yang masih sedikit mengepul, rambutnya di biarkan tergerai, baru ia cuci. Gadis itu memakai kaus dan celana selutut. Di kakinya ada sandal slip on miliknya untuk kaki kiri, sedang slip on peaceminusone milik Jiyong ada di kaki kanannya. Namun gaya ia duduk, bicara, dengan dagu yang sengaja di naikan, penuh percaya diri, membuatnya terlihat seolah sedang memakai gaun dan sepatu hak tinggi seharga ratusan dollar. Seolah ia siap untuk mendapatkan penghargaan aktris terbaik tahun ini.

"Kim Taeyeon-"

"Ya!"

"Sungguh? Taeyeon SNSD?"

Kata-kata Lisa di sela, oleh Mino yang berteriak karena gadis itu membongkar rahasianya, juga karena Jiyong dan Jiwon yang terkejut mendengar jawaban itu.

"Aku tidak percaya Taeyeon terus mengirimimu pesan meski tidak kau balas," komentar Jiyong, sembari menggeleng. Ia berbaring di ranjang Sungkyung sekarang, terlalu malas naik ke tempatnya setelah tadi dirinya pergi membuat kopi bersama Lisa dan Sungkyung.

"Lisa diam-"

"Mana bisa diam? Nanti Jiyong oppa salah paham. Taeyeon sunbae-nim pasti tidak pernah mengiriminya pesan sebanyak dia mengirimimu pesan. Harga dirinya sebagai mantan kekasihnya pasti terluka," santai Lisa, yang tersenyum jahil karena mendapatkan acungan jari tengah dari Jiyong. "Bubble, Lysn," susul Lisa kemudian. "Mino oppa langganan Bubble tiga koma sembilan sembilan dollar setiap bulannya. Untuk selalu dapat pesan dari Taeyeon sunbae-nim. Tapi dia hanya bisa membalas tiga kali, karakternya juga terbatas, setiap kali Taeyeon sunbae-nim mengirim pesan."

"Whoa... Entah kenapa aku jadi kasihan," komentar Sungkyung. "Ji, kau masih punya nomor telepon Taeyeon kan? Coba berikan nomor teleponnya pada Mino."

"Heish, aku menyesal mendengarnya," gerutu Jiyong sedang Jiwon hanya terkekeh. Mengukir senyum mengejek khasnya.

"Noona! Lisa juga langganan Bubble-nya Heechul hyung! Lalu dia luar biasa senang saat Heechul hyung mengirim fotonya ke Bubble! Lisa, kau tidak lupa kan? Oppa, Heechul oppa mengirim fotoku! Rasanya seperti berkencan sungguhan! Ingat? Jangan pura-pura lupa!" kata Mino dari ranjangnya, membongkar lebih banyak rahasia dari yang Lisa lakukan.

"Lisa, kau mau nomor telepon Heechul?" tawar Jiwon, sedikit prihatin.

"Aku punya nomor teleponnya. Hanya tidak pernah punya alasan untuk menghubunginya saja," gerutu Lisa, menatap sinis pada Mino di atas sana. Kalau mereka dekat, Mino pasti dipukul. "Oh! Hujannya sudah berhenti," serunya kemudian, bergegas mengambil kameranya kemudian mengajak teman-temannya untuk keluar dari gerbong mereka.

Menghindari obrolan itu, Lisa melompat turun gerbongnya. Menyapa dan tersenyum pada kondektur— wanita yang menjaga gerbong. Lisa mengambil potret wanita itu kemudian memuji kecantikan khas Rusianya. Ia menyukai semua dalam perjalanan itu, termasuk bagian bermalas-malasan di atas ranjang sempitnya.

"Penonton pasti bosan kalau melihat kami dua belas hari hanya bermalas-malasan di kereta," cerita Lisa pada kamera yang merekamnya. "Karena itu sekarang aku keluar dan memotret. Lihat, pemandangannya bagus kan? Dan- whoa! Kalian harus tahu kalau di kereta ini kalian boleh membawa hewan peliharaan. Tentu saja ada aturannya, tapi boleh. Lihat! Ada yang membawa anjing!" seru gadis itu, menghampiri seorang pria yang baru saja membawa anjingnya berjalan-jalan di peron. Seekor husky cantik dengan bulu putih kecoklatan.

Mino menghampiri Lisa. Lebih tepatnya ia tertarik pada husky yang sedang gadis itu usap. Kedua orang itu asik bermain dengan husky peliharaan orang lain. Di pintu gerbong, Sungkyung turun bersama dua pria lainnya. Mereka berdiri tidak jauh dari sana kemudian petir datang, mengejutkan Sungkyung dan membuat gadis itu kembali ke dalam gerbong. Dia ingin menunggu di dalam kereta saja.

"Apa bahasa Rusia untuk kau cantik?" tanya Jiyong kemudian, berbicara pada Jiwon setelah mereka menatap Sungkyung buru-buru masuk ke dalam kereta.

"ты прекрасна," kata Jiwon, setelah ia mengeceknya di aplikasi penerjemah.

"Hah?"

"ty prekrasna," kali ini wanita di aplikasi penerjemah itu yang bicara.

"Ahh..." angguk Jiyong. "ty prekrasna," katanya kemudian, bicara pada kondektur wanita yang menjaga pintu.

"Thank you," balas wanita itu malu-malu, sedang Jiwon masih mencoba mengartikan beberapa kata lainnya.

Sudah waktunya kereta berangkat. Semua penumpang dipanggil dengan pengeras suara. Satu-persatu dari mereka masuk, duduk di tempat masing-masing. Jiyong duduk bersama Jiwon di ranjang Jiwon, menenggak sebotol air mineral milik mereka. Mino duduk di kursi sembari melihat gambar di selebaran berbahasa Rusia yang tidak ia pahami. Sungkyung ada di ranjangnya, setengah berbaring, bersandar ke dinding di belakangnya sembari memperhatikan kereta yang perlahan-lahan meninggalkan stasiun.

"Dimana Lisa?" tanya Sungkyung kemudian.

"Katanya dia ke toilet," santai Mino.

"Baru saja?"

"Tadi saat masih di stasiun."

"Hah? Lalu sekarang?"

"Dia tidak mungkin ketinggalan kereta kan?"  susul Jiyong, setelah menyelesaikan acara minumnya yang bak iklan. "Tidak ada yang melihatnya naik ke kereta setelah dari toilet?"

"Sebentar, biar telepon dia- handphonenya ada padaku," bingung Mino, mengangkat handphone Lisa kemudian langsung menoleh ke jendela di sebelahnya, mencari Lisa yang mungkin masih berdiri di peron. Sayangnya, Mino tidak bisa melihat apapun karena kereta sudah bergerak jauh dari peron kecil tadi. Lisa hilang.

***

Trans Siberian Pathfinders (YG's Version)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang